Februari 1945, kekalahan Jepang telah di ambang mata, Sekutu di bawah pimpinan Laksamana Mountbatten membentuk RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Internees). Seperti namanya organisasi militer ini bertugas untuk melaksanakan evakuasi terhadap tawanan perang di wilayah Asia Tenggara termasuk Hindia Belanda.

Jepang menyerah pada tanggal 15 Agustus 1945 tapi baru sebulan kemudian utusan dari RAPWI yang terdiri atas personil Inggris dan Belanda, tiba di Kemayoran dengan menggunakan dua pesawat North American B-25C versi angkut milik ML/Militaire Luchtvaart.

RAPWI-3Koordinasi antara perwira RAPWI dengan perwira militer Jepang untuk evakuasi tawanan perang.

Tugasnya sederhana namun pelik karena kamp tawanan tersebar di Jawa dan Sumatra. Ditetapkah pangkalan utama adalah Batavia (Kemayoran dan Cililitan) dan Surabaya (Perak-Morokrembangan). Untuk evakuasi cepat khususnya bagi tawanan yang sakit, idealnya menggunakan pesawat, namun sayang jumlah armada angkut yang dimiliki RAPWI masih sedikit. Inggris masih disibukkan oleh urusan di negara-negara jajahannya sendiri, sementara Belanda selain kekurangan pesawat juga pilot yang kebanyakan masih berada di Australia dan Amerika Serikat.

Kapten Hermann Arens dari ML berinisiatif dengan memanfaatkan aset yang ada yaitu pesawat-pesawat angkut milik militer Jepang ! Pilot dan teknisi Jepang direkrut, pesawat-pesawat yang dipakai dicat putih dan diberi identitas palang hijau (nantinya diganti dengan bendera Belanda).

Armada pertama adalah 10 unit pesawat angkut Tachikawa Ki-54 “Hickory” berkapasitas delapan penumpang, mulai digunakan tanggal 25 September 1945, terbang rutin dengan rute Batavia – Bandung – Semarang – Batavia, Semarang – Surabaya – Yogyakarta, dan Batavia – Semarang – Surabaya. Armada ditambah dengan lima Mitsubishi Ki-57 “Topsy” dan berhasil bernegosiasi dengan pemerintah Republik Indonesia, sehingga mendapatkan tiga Showa L2D3 (Douglas C-47/DC-3 Dakota produksi Jepang).

RAPWI-2
Salah satu pesawat Arens Airlines, Mitsubishi Ki-57 “Topsy” untuk tugas angkut. Selain itu digunakan pula Tachikawa Ki-54 “Hickory” dan Showa L2D3.

Selain pesawat angkut, RAPWI juga menggunakan 15 unit pesawat latih bersayap ganda Yokusuka K5Y1, satu pesawat air Nakajima A6M2, dan satu Nakajima Ki-43 “Oscar”, seluruhnya dipakai sebagai penghubung.

Terlihat banyak tapi karena mayoritas kurang perawatan dan suku cadang, hanya sekitar setengahnya yang operasional. Walaupun terbatas dan dianggap sebagai armada komplementer, tapi inisiatif Kapten Arens sangat dihargai di kalangan personil dan tentara Sekutu, sehingga armada pesawat angkut Jepang ini dijuluki “Arens Airlines”.

Seluruh pesawat-pesawat Jepang ini dihentikan penggunaannya pada bulan Mei 1946 dan seluruhnya digantikan oleh armada DC-3/C-47 Dakota dan B-25C milik Skadron Angkut 19 ML dan juga PBY Catalina milik MLD/Marine Luchtvaartdienst yang ditempatkan di Perak, Surabaya.

Umur RAPWI sebenarnya singkat, di tengah konflik dengan tentara Republik Indonesia, dibubarkan pada tanggal 26 Januari 1946 setelah berhasil mengevakuasi lebih dari 200.000 tawanan perang. Inggris menarik diri dan membiarkan Belanda mengambil alih lewat AMACB (Allied Military Administration-Civil Affairs Branch) atau yang lebih dikenal dengan nama NICA (Nederlandsch-Indische Civiele Administratie). (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)