Awalnya DC-9 dimonopoli penggunaannya oleh GIA, tapi kemudian beberapa DC-9 sempat diserahkan kepada MNA saat penggabungan Garuda-Merpati dibawah pimpinan Dirut Capt. Frans Sumolang sebagai bagian dari penyertaan modal pemerintah. Tercatat ada sembilan unit DC-9 yang sempat dioperasikan MNA sebelum nantinya dikembalikan saat MNA kembali berdiri sendiri.

Selama pengabdiannya, selain perubahan registrasi, dilakukan pula perubahan cat dan warna badan pesawat seiring dengan pengantian merk dari GIA menjadi Garuda Indonesia dan peralihan kepemimpinan dari Wiweko Soepono ke R.A.J. Lumenta. Desain garis dominan warna merah dan oranye karya Van Diaz digantikan oleh karya Landor Inc.,  seluruh badan pesawat dicat putih, teks diganti menjadi Garuda Indonesia yang lebih simpel dan modern, serta pemasangan logo baru di ekor. Sejak saat itu pula tren nosename berakhir.

Douglas-DC-9-GIA-Digul
DC-9 PK-GNP “Digul” tiba di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, mengantar pulang para sandera DC-9 PK-GNJ “Woyla”.

Kiprah DC-9 semakin menurun awal 1990-an. Tahta “sang ratu pesawat badan sempit” perlahan namun pasti diberikan kepada Boeing 737-300/-400, lebih modern sekaligus kebisingannya juga lebih rendah. Garuda Indonesia resmi menghapus DC-9 dengan penerbangan terakhir dilakukan oleh DC-9 PK-GNX rute Yogyakarta-Jakarta pada tanggal 28 Februari 1994. Sejak pertama dioperasikan dari tanggal 15 Oktober 1969 sampai tanggal resmi stop beroperasi 1 Maret 1994, selama 25 tahun DC-9 mengabdi dengan total yang pernah dioperasikan oleh Garuda sebanyak 25 unit.

Selama pengabdiannya tercatat kecelakaan dan insiden yang dialami DC-9 yaitu :

PK-GND “Brantas” melakukan hard landing di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin pada tanggal 13 Januari 1980. Pesawat total lost tapi tanpa korban jiwa.

PK-GNJ “Porong” mendarat darurat akibat kerusakan mesin pada tanggal 20 September 1981. Saat mendarat kedua ban belakang sebelah kiri pecah dan menyebabkan pelek ban mengerus landasan. Seluruh 38 penumpang dan kru pesawat selamat.

PK-GNF “Musi” mengalami insiden saat Gunung Galunggung meletus pada tanggal 6 Mei 1982. Meskipun tidak mengalami mesin mati seperti kasus Boeing 747 British Airways Flight 009, DC-9 “Musi” badannya menjadi hitam dan kaca kokpit buram berbintik-bintik akibat terkena debu Gunung Galunggung.

PK-GNE “Citarum” mengalami kecelakaan dan patah dua saat mendarat di Bandara Kemayoran pada tanggal 11 Juni 1984. Kelima awak pesawat yang sedang melakukan terbang feri selamat.

PK-GNI “Bulungan” pada tanggal 30 Desember 1984, overshoot saat mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali patah menjadi tiga bagian tanpa korban jiwa.

PK-GNQ “Pawan” jatuh saat mendarat pada kondisi cuaca buruk dan terbakar di Bandara Polonia serta menewaskan 26 penumpang plus 19 korban luka berat pada tanggal 4 April 1987.

PK-GNV “Seputih” rute Denpasar-Yogyakarta tergelincir di Bandara Adisucipto pada tanggal 23 November 1992. Pesawat ini berhasil berhenti setelah menabrak tanggul tanah sekitar 20 meter dari pinggiran sungai.

PK-GNT “Bebai” pada tanggal 21 Juni 1993 melakukan hard landing di Bandara Internasional Ngurai Rai, seluruh penumpang dan awak pesawat selamat.

PK-GNP “Digul” yang dioperasikan MNA tergelincir di Bandara Adisucipto pada tanggal 9 Desember 1994, tanpa korban jiwa.

Douglas-DC-9-Taman-Mini
DC-9 PK-GNT yang melakukan hard landing di Bandara Internasional Ngurah Rai diabadikan dan menjadi koleksi Museum Transportasi di TMII.

Sementara itu DC-9 PK-GNJ “Woyla” jurusan Jakarta-Palembang-Medan dibajak oleh Komando Jihad, 40 km sebelum Pekan Baru dan dialihkan ke Penang, Malaysia untuk selanjutnya mendarat di Don Muang, Thailand pada tanggal 29 Maret 1981. Pembajakan ini berhasil diselesaikan dua hari kemudian oleh Kopassandha (Komando Pasukan Sandi Yudha) pimpinan Letnan Kolonel Sintong Panjaitan.

Empat pembajak berhasil ditembak mati dan satu ditahan. Meskipun seluruh penumpang sebanyak 48 orang selamat tapi jatuh korban dari pihak Garuda Indonesia yaitu pilot Herman Rante dan Letnan Satu Achmad Kirang dari Kopassandha. Setelah kejadian pembajakan ini “Woyla” diganti namanya menjadi “Porong”.

Saat ini hanya dua DC-9 yang tersisa. Satu unit (PK-GNT “Bebai”) menjadi koleksi Museum Transportasi di TMII (Taman Mini Indonesia Indah), sedangkan satu unit lagi (PK-GNC “Serayu”) disimpan di GMF (Garuda Maintenance Facility) Aeroasia sebagai sarana belajar teknisi. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)