Untuk semakin menekan pemerintah Republik Indonesia yang tidak diakui eksistensinya dan bahkan dicap sebagai pengacau keamanan, militer Belanda melancarkan Politionele Actie (Aksi Polisionil I)—versi Indonesia, Agresi Militer Belanda I—pada tanggal 21 Juli 1947.

Perjanjian Linggarjati yang ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947 memaksa kedua pihak melakukan gencatan senjata tapi perseteruan terus berlangsung. Belanda menguasai kota-kota besar di Sumatra dan Jawa tapi gangguan terus-menerus dilancarkan dari para “ekstrimis” ini membuat Jenderal Simon Hendrik Spoor menggulirkan tiga rencana militer kepada Gubenur Jenderal Hindia Belanda, Hubertus Johannes van Mook. Rencana-rencana itu berkode : “Product”—menguasai sumber ekonomi, “Amsterdam”—serangan langsung ke pusat pemerintah Republik Indonesia, dan “Rotterdam”—kombinasi keduanya.

“Product” akhirnya dipilih karena diperhitungkan kerugiannya kecil sekaligus dampak politiknya. Tanpa sumber ekonomi, peluang ekistensi pemerintah Republik Indonesia semakin kecil dan melemahkan TNI (Tentara Nasional Indonesia). Tapi sebelum rencana itu dilaksanakan militer Belanda harus mempunyai informasi terbaru lebih dahulu.

Operasi-Pelikan-1
PVA-ML menggunakan North American P-51 Mustang yang dimodifikasi menjadi pengintai dengan memasang kamera pada pod di bawah sayap.

Intel dikerahkan termasuk intel dari udara yaitu lewat pemotretan udara. PVA (Photo Verkennings Afdeling/Divisi Pemotretan Udara)-ML (Militaire Luchtvaart) mengerahkan North American B-25 Mitchell memotret posisi TNI. Selain itu pemotretan dibantu oleh North American P-51 Mustang dengan menempatkan kamera pada pod khusus di bawah sayap.

Bahkan dengan kamera biasa, anggota PVA-ML memotret dari pesawat ringan Taylorcraft Auster dan Piper J-3 Cub. Pihak angkatan laut Kerajaan Belanda atau MLD (Marine Luchtvaart Dienst) juga demikian, mengerahkan pesawat amfibi PBY Catalina, memotret dari udara sembari mengawasi wilayah laut sepanjang Tanjung Priok sampai Surabaya sebagai bagian dari blokade. Tampak jelas bahwa Belanda sudah mengantisipasi jauh hari untuk opsi militer. Pengintaian dan pemotretan udara itu juga sudah “dicicil” pada periode RAPWI (Baca : RAPWI : Evakuasi Tawanan Perang).

Dari informasi ini, Belanda mengetahui masih ada puluhan unit pesawat eks Jepang meliputi pesawat tempur, pembom, dan latih yang dioperasikan AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Walaupun diketahui sebagian besar tidak bisa diterbangkan akibat tidak ada suku cadang dan pilot, Belanda tidak mau mengambil resiko. Pangkalan udara menjadi sasaran pertama yang harus dihancurkan untuk kelancaran operasi militer.

Tanggal 20 Juli, Van Mook menyatakan Perjanjian Linggarjati tidak berlaku lagi dan besok paginya dimulailah Aksi Polisionil dengan operasi militer dengan kode Pelikan (Operatie Pelikaan). Skadron 120 yang berkekuatan Curtiss P-40 Kittyhawk menyerang pangkalan udara Panasan (Solo), dan Maospati (Madiun). Sementara Maguwo, Yogyakarta diselimuti kabut tebal sehingga terhindar dari serangan. Kabut tebal ini juga menyelamatkan nyawa Perdana Menteri Sutan Syahrir yang berhasil lolos terbang dengan Douglas C-47/DC-3 Dakota carter dari Siamese Airways menuju Singapura.

Operasi-Pelikan-5
Operasi-Pelikan-3
North American P-51 Mustang digunakan ML di Sumatra dan Jawa saat Operasi Pelikan (atas), sedangkan MLD mengandalkan Fairey Firefly (bawah), pesawat pembom tempur buatan Inggris.

Sementara itu Mustang dari Skadron 121 menyerang Gorda (Serang), Tasikmalaya, dan Kali Djati (Subang). Roket-roket yang diluncurkan Mustang berhasil menghancurkan hanggar dan pesawat di dalamnya. Sedangkan roket, bom, dan meriam 20 mm dari Fairey Firely milik Skadron 860 MLD menyerang Pasirian (Lumajang) dan Singosari (Malang). Belanda mengklaim 24 unit pesawat AURI eks Jepang dihancurkan oleh ML, sembilan unit oleh MLD dengan kehilangan satu Firefly.

Setelah itu armada pesawat tempur ini lantas dikerahkan untuk mendukung pasukan darat sekaligus mencegah TNI menghancurkan fasilitas-fasilitas penting. Skuadron 120 mencegah penghancuran jembatan di Tji Taroem, Tandjoeng Poera (Citarum, Tanjung Pura). Di Cheribon (Cirebon), penyerangan ML mencegah TNI mengirimkan pasukan tambahan lewat jalur kereta api. Di Jawa Timur, Firefly mendukung pendaratan marinir Belanda di Pasir Putih, lalu pendaratan di Banjoewangi (Banyuwangi), dan mendukung pasukan di Bondowoso.