Serangan Belanda terhadap kota-kota di Jawa begitu efektifnya sehingga TNI tercerai-berai. Berikutnya Belanda mendaratkan pasukannya di Tjilatjap (Cilacap), namun mendapat serangan artileri dari Pulau Noesa Kembangan (Nusa Kambangan). Meriam artileri ini tampaknya dioperasikan oleh eks tentara Jepang yang bergabung dengan TNI. Serangan balasan meriam dari kapal angkatan laut dinilai kurang berhasil sehingga ML mengerahkan Mustang dari Skadron 121 dan Mitchell dari Skadron 18 untuk membungkamnya.

Sumatra menjadi tanggung jawab Skadron 16 berkekuatan Mitchell dan Skadron 122 berkekuatan Mustang. Penyerangan dilakukan oleh Mustang  di pangkalan udara Kotaradja dan Lho Nga. Satu Mitchell ditembak jatuh saat melakukan misi intai bersenjata terhadap posisi TNI. Penyerangan udara dan pemboman terus dilakukan di Palembang demi menguasai tambang minyak pada tanggal 22 Juli.

Operasi-Pelikan-7
Deretan pembom North American B-25 Mitchell milik Skuadron 18 yang digunakan untuk menghancurkan meriam di Pulau Noesa Kembangan.

Setelah itu Mitchell membom jalur kereta api di Moeara Enim (Muara Enim), mencegah TNI menambah pasukan. Mustang mendukung pasukan darat di Koeala Boeangan (Kuala Buangan, sebelah timur Medan) pada 28 Juli. Hari berikutnya mendukung pergerakan pasukan dari Tebingtinggi menuju Siantar. Di sini Mustang menyerang dua kereta api milik TNI. Satu berhasil dihentikan sementara satu lagi berniat kabur dengan kecepatan tinggi malah terlempar dari relnya.

Walaupun ujung tombaknya adalah pesawat tempur dan pembom, pesawat intai berukuran kecil seperti Piper Cub dan Auster sama pentingnya. Selain menjadi mata artileri, beberapa unit dipasang rak bom sehingga berfungsi sebagai pembom taktis. Resikonya tinggi karena terbang di ketinggian dan kecepatan rendah.

Di Sumatra, ML menyiapkan Skadron VARWA (Verkenning en Artillerie Waarneming/Intai Artileri) 17 berkekuatan Piper Cub di Palembang (A Patrol), Padang (B Patrol) dan Medan (C Patrol/Penghubung). Sedangkan di Jawa, ML menyiapkan VARWA 6 berkekuatan Auster di Surabaya (A Flight), Semarang (B Flight), Andir (C Flight), dan Semplak (D Flight). Patrol biasanya terdiri atas dua pesawat sementara Flight empat pesawat.

Operasi-Pelikan-6
Piper Cub yang serbaguna, selain untuk memotret dari udara, digunakan pula sebagai intai artileri, bahkan pembom ringan.

Dibandingkan Piper Cub di Sumatra, kiprah Auster di Jawa sangat sibuk karena banyak posisi TNI tersembunyi yang harus dihancurkan. Hari pertama dikerahkan mendukung pasukan di Bekasi dan Tjiandoer (Cianjur). Besoknya mereka terbang ke Tjitoeroek (Cituruk), lalu ke Tjibadak (Cibadak), dan ke Oebroek (Ubrug) ambil bagian dalam mendukung pasukan darat menguasai PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). Hari ketiga dua Auster mendukung pasukan di Leuwillang, terbang dari Buitenzorg (Bogor) lalu terbang ke Wynkoop Bay (Pelabuhan Ratu). Tiga Auster dikerahkan mendukung pasukan di wilayah Bandoeng, lalu terbang ke Garoet (Garut), lantas menuju Soebang (Subang) lewat Tjiaterstelling (Ciater).

Tentunya tidak dilupakan kiprah Skadron Angkut 19 yang berkekuatan Douglas C-47/DC-3 Dakota. Bersama-sama PBY Catalina milik MLD, kedua tipe pesawat ini bertugas untuk angkut logistik dan evakuasi pasukan yang terluka. Skadron 19 terus menyuplai ke wilayah Segalaherang, Kali Djati, Soebang, Pegadenbaroe (Pegaden Baru), dan Sukabumi, dilakukan dengan cara mendarat maupun diterjunkan dengan parasut.