Tantangan berikutnya bagi Puslitbang adalah memasang senjata eksternal yaitu roket udara ke darat. CAC Sabre didesain untuk dapat membawa roket tipe Oerlikon SURA 80 mm maksimal sebanyak 24 unit di bawah sayapnya. Lewat proyek Menang yang dilakukan produksinya oleh Perum (Perusahaan Umum) Dahana di Tasikmalaya, Jawa Barat, TNI-AU memiliki roket ini dalam jumlah mencukupi.

Avon-Sabre-TNI-AU-3
KSAU Saleh Basarah menginspeksi roket-roket Avon Sabre yang dipasang oleh teknisi Puslitbang sebelum diuji coba penembakannya.

Roket yang awalnya dibuat oleh Hispano Suiza ini dipasang oleh teknisi Puslitbang dengan langkah awal merekonstruksi ulang peluncur roket di bawah sayap sehingga kedudukannya tepat, berikutnya merekondisikan bahan bakar roket agar kecepatan luncurnya sesuai dengan kecepatan Avon Sabre, dan tentunya semua usaha ini wajib diuji coba. Lebih rumit caranya daripada meriam 30 mm. Berdasarkan pertimbangan usia pesawat dan performa aerodinamis, Puslitbang hanya memasang 16 unit roket.

Usaha keras dari Puslitbang terbayar saat uji coba di area penembakan (firing range) di Desa Pulungan, Ponorogo pada tanggal 10 Januari 1976. Dari Iswahyudi, dikerahkan empat unit Avon Sabre menyerang sasaran darat berbentuk layar kuning. Dari ketinggian 1.000 kaki, satu per satu, tiga pesawat menembakan peluru meriam 30 mm, dan pesawat terakhir menembakan rentetan roket ke arah sasaran. Uji persenjataan Avon Sabre ini dinilai memuaskan dengan diinspeksi dan disaksikan sendiri oleh KSAU dan Panglima Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional) Marsda (Marsekal Madya) Suwondo.

Avon-Sabre-TNI-AU-2
Pemasangan peluncur roket di bawah sayap melalui sebuah adaptor (kiri) sehingga memungkinkan Avon Sabre membawa 16 unit roket SURA untuk kemampuan serang darat (kanan).

Walaupun Puslitbang sudah bersusah payah, sayangnya ketajaman Avon Sabre ini tidak pernah diuji di medan perang sesungguhnya seperti di Timor Leste. Sesuai perjanjian, Australia tidak membolehkan pesawat hibah ini digunakan dalam konflik bersenjata. Alhasil ketajamannya hanya dilakukan saat Latgab (Latihan Gabungan) ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)–Tutuka II pada tahun 1977 menjadi yang pertama kali persenjataan Avon Sabre dijajal–atau latihan tempur bersama dengan negara-negara tetangga.

Ada sekitar 22 unit Avon Sabre dioperasikan TNI-AU tapi memang tidak lama dipakai, hanya tujuh tahun. Saat mendapat rezeki melimpah dari kenaikan harga minyak dunia, Indonesia membeli pesawat tempur yang lebih canggih sebagai penggantinya yaitu Douglas A-4 Skyhawk dan Northrop F-5 Tiger. Sebagai simbol perpisahan, sama seperti yang dilakukan Aero L-29 Delfin (Baca : Latihan Terbang Jarak Jauh Terakhir sang Lumba-Lumba), Avro Sabre ini ikut terbang formasi saat HUT (Hari Ulang Tahun) ABRI ke-35 pada tanggal 5 Oktober 1980. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)