Serangan udara balasan pagi hari oleh kadet-kadet AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) dibalas Belanda pada sore harinya, Douglas C-47/DC-3 Dakota beregistrasi VT-CLA jatuh dan tiga putra terbaik AURI yang ikut dalam penerbangan ini gugur sebagai pahlawan bangsa.

Pada sore hari sekitar pukul 16.00, personil AURI di Maguwo, Yogyakarta sama seperti pagi harinya sedang siaga penuh. Sebelumnya pada siang hari beberapa kali pesawat tempur P-40 Kittyhawk dari Skuadron 120 ML (Militaire Luchtvaart) terbang menyambar-nyambar di atas lapangan terbang, mencari-cari pesawat eks Jepang yang pagi sebelumnya menyerang tiga kota.

Tampak dari jauh pesawat yang belum diketahui identitasnya. Bukan pesawat tempur karena berukuran besar. Ketegangan tampak karena menganggap ada serbuan pasukan penerjun payung, tapi anehnya cuma satu pesawat. Suasana kembali cair  saat diberitahu oleh petinggi AURI bahwa pesawat itu adalah Dakota milik pengusaha India, Bijayananda Patnaik. Dakota ini dicarter pemerintah Indonesia untuk misi kemanusiaan yaitu membawa obat-obatan dari Palang Merah Malaya untuk diserahkan kepada PMI (Palang Merah Indonesia).

Hari-Bakti-VT-CLA-2
Dakota VT-CLA dipotret di Bandara Kalang, Singapura untuk membawa bantuan kemanusiaan dari Palang Merah Malaya (kiri). Pilot Constantine melaksanakan pemeriksaan akhir (final check) di pintu pesawat VT-CLA sebelum berangkat (kanan). Ini adalah foto dokumentasi terakhir sebelum jatuh di Yogyakarta.

Dakota beregistrasi VT-CLA ini berputar beberapa kali dan kemudian terbang rendah, bersiap mendarat dengan mengeluarkan rodanya. Tiba-tiba saja muncul dua Kittyhawk yang datang mendekat. Menurut saksi mata, pesawat tempur ini menembaknya. Sekitar pukul 17.00 pesawat terbakar dan jatuh di area persawahan di perbatasan Desa Ngoto dan Wojo. Tidak ada bagian pesawat yang utuh kecuali ekor pesawat.

Personil AURI dari Maguwo segera datang dengan mobil untuk menolong. Daftar kru korban tragedi ini adalah pilot asal Australia, Alexander Noel Constantine, kopilot asal Inggris Roy Lance Hazelhurst, juru mesin asal India, Bhida Ram, dan operator radio telekomunikasi Opsir Muda Udara II Adisumarmo Wiryokusumo, perwira AURI yang diperbantukan dalam penerbangan ini.

Sedangkan daftar korban penumpang meliputi dua orang perwira tinggi AURI, Komodor Muda Udara Agustinus Adisucipto dan Komodor Muda Udara Dr. Abdulrachman Saleh, dan Zainal Arifin dari perwakilan Perdagangan Republik Indonesia. Ada dua penumpang yang masih hidup yaitu Ny. Alexander Noel Constantine dan Abdul Gani Handoko Cokro dari GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia). Keduanya segera dievakuasi ke Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Abdul Gani hanya luka ringan sedangkan Ny. Constantine luka berat dan tidak tertolong lagi.

Kehilangan tiga orang perwira merupakan pukulan berat bagi AURI. Pagi hari mereka bergembira atas keberhasilan misi serangan udara balasan, sore harinya mereka justru berduka atas gugurnya ketiga orang ini yang telah berjasa banyak dalam pendirian AURI.

Hari-Bakti-VT-CLA-4
Tiga perwira AURI yang gugur di Dakota VT-CLA pada tanggal 29 Juli 1947, dari kiri ke kanan, Komodor Muda Udara Agustinus Adisucipto, Komodor Muda Udara Dr. Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara II Adisumarmo Wiryokusumo.

Karena penerbangan ini bukan penerbangan militer, melainkan penerbangan kemanusiaan dan kedua pihak telah sama-sama mengetahuinya, pemerintah Indonesia protes keras terhadap pemerintah Belanda. Versi Belanda menyebut Dakota yang datang dari Singapura itu sudah dikontak oleh menara pengontrol Kemayoran tapi tak ada jawaban. Kehadiran Dakota ini tidak diduga mengingat pertempuran sedang berkecamuk apalagi datang dan pendaratannya dari arah utara (arah Semarang) bukan barat laut seperti biasanya.

Kedua Kittyhawk datang untuk mengidentifikasi pesawat. Kabut dan suasana sore hari yang remang-remang membuatnya sulit mengidentifikasi dengan baik dan terpaksa mendekat. Menurut versi Belanda lagi, kedua Kittyhawk tidak melepaskan tembakan, VT-CLA jatuh karena menyerempet pepohonan. Masih beranggapan pula pesawat ini bukan untuk misi kemanusiaan karena terbukti membawa perwira militer di dalamnya.

Walaupun mungkin saja Kittyhawk tidak menembak dan pilot VT-CLA kaget karena kedatangan pesawat tempur yang mengancam secara tiba-tiba sehingga menabrak pohon, argumen versi Belanda ini tetap saja lemah. Sebagai ganti rugi dan permintaan maafnya, Belanda menyerahkan Dakota eks maskapai penerbangan KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij) kepada Patnaik selaku pemilik pesawat.

Hari-Bakti-VT-CLA-3
Korban warga negara asing tragedi VT-CLA pada tanggal 29 Juli 1947, dari kiri ke kanan, pilot Constantine, Ny. Constantine, dan kopilot Hazelhurst.

Nantinya setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, Pangeran Bernard secara pribadi memberikan satu Dakota beregistrasi T-482 sebagai kompensasi kepada AURI. Tentu saja pemberian ini tidak dapat membayar nyawa pahlawan Adisucipto, Abdulrahman Saleh, dan Adisumarmo, tapi setidaknya ini bagian dari itikat baik pemerintah Belanda kepada Indonesia.

Hari Bakti tanggal 29 Juli ini selalu diperingati setiap tahunnya, baik oleh personil TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) yang aktif maupun yang sudah pensiun, bahkan oleh para pecinta penerbangan Indonesia. Bangga karena berhasil melaksanakan tugasnya sebagai sebuah angkatan udara tapi sekaligus menundukan kepala untuk pahlawan-pahlawan yang gugur.

Sebagai bentuk apresiasi dan untuk mengenang secara nyata Hari Bakti TNI-AU ini, dibangunlah Museum Ngoto pada tahun 1948. Setelah mengalami pemugaran dan perluasan untuk kedua kalinya pada tahun 2000, monumen ini disebut dengan nama baru Monumen Perjuangan TNI-AU, terdapat tugu peringatan dan replika ekor VT-CLA. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)