Masih dalam suasana 70 tahun Hari Bakti TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara), kisah penyerangan udara di tiga kota ini menjadi bagian dari film Serangan Fajar.

Serangan Fajar adalah film yang disutradarai oleh Arifin C. Noer, seperti namanya mengisahkan potongan-potongan kisah penyerangan bersejarah di pagi hari yang dilakukan TNI selama perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan. Serangan itu meliputi penyerbuan markas Jepang di Kotabaru, perebutan pangkalan udara Maguwo, penyerbuan Gedung Agung, dan serangan udara balasan di tiga kota.

Empat potongan kisah penyerangan itu seperti empat episode. Berbeda dengan film perjuangan pada umumnya yang menekankan aksi patriotisme, film produksi PPFN (Pusat Produksi Film Negara) ini justru lebih humanis. Semua episode itu dirangkai lewat kehadiran anak kecil bernama Temon yang ingin kembali bertemu dengan ayahnya, hilang akibat ikut kerja paksa romusha saat penjajahan Jepang.

Ciri khas karya Arifin C. Noer adalah menyisipkan simbol-simbol di filmnya. Pada awal mulai film saja ditampilkan Gunungan dan dalang, seolah-olah film ini diibaratkan sebagai pagelaran wayang. Wayang-wayang itu meliputi kehidupan rakyat jelata, yang diwakili keluarga Temon, dan kehidupan rakyat priyayi dengan tokoh Romo.

Film produksi tahun 1981 dan didistribusikan tahun berikutnya ini, tergolong salah satu film Indonesia dengan biaya cukup tinggi dengan sebagian biaya ditanggung oleh Sekretariat Negara. Tak pelak episode-episodenya menonjolkan kiprah Letnan Kolonel Suharto semasa perjuangan, yang menjadi presiden Republik Indonesia waktu itu. Walaupun demikian, sang sutradara tetap berusaha adil, memunculkan pula beberapa tokoh perjuangan seperti Sultan Hamengkubuwono IX dan Komodor Muda Udara Adisucipto. Porsinya sekali lagi tidak lebih sebagai latar, bukan tokoh utama.

Bagi pencinta penerbangan, episode serangan udara balasan di tiga kota tampak begitu detail visualisasinya, seperti menonton kisahnya itu sendiri. Adegan tampak semakin meyakinkan dengan mengambil gambar di Pangkalan Angkatan Udara Adisucipto atau dulunya bernama Maguwo berikut para aktor dengan pakaian terbang “tempo doeloe” dan seragam AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) yang tampak begitu sederhana.

Lebih meyakinkan lagi dengan hadirnya pesawat-pesawat yang menjadi “pelaku” penyerangan. Hayabusha yang dikisahkan gagal terbang karena mengalami kerusakan, “diperankan” oleh North American AT-16 Harvard. Beberapa aset pesawat TNI-AU yang sudah rusak, dijadikan sisa-sisa pesawat Jepang. Muncul pula replika Cureng dan Guntei, termasuk adegan terbang Cureng di waktu fajar. Ini akan dibahas dalam artikel berikutnya.

Serangan Fajar bagi dunia perfilman Indonesia sebenarnya cukup unik dalam penceritaan, bukan film perang yang penuh adegan tembakan senjata dan ledakan bom, lebih tergolong sebagai film drama dengan latar belakang perjuangan. Sayangnya karena dianggap terlalu memanupulasi dan menonjolkan peran Suharto, film ini menjadi salah satu yang bukan menjadi tontonan wajib, masuk kotak bersama Janur Kuning dan Pengkhianatan G30S PKI pasca runtuhnya Orde Baru.

Bagi yang belum pernah menonton film ini dapat dinikmati lewat kanal youtube : Serangan Fajar dengan durasi sekitar tiga jam. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)