Nurtanio harus mencari cara dan biaya untuk memproduksi massal Belalang, apalagi pemerintah dan AURI telah menunjukan kepercayaannya dengan mengembangkan DPPP menjadi LAPIP (Lembaga Persiapan Industri Penerbangan) pada tahun 1961, sebuah lembaga cikal bakal kemandirian negara dalam industri dirgantara (aero industry).

Anggaran negara waktu itu sebagian besar untuk militer, mempersiapkan Kampanye Trikora dengan membeli banyak alutsista (peralatan utama sistem senjata) dari luar negeri. Ironisnya hanya sedikit yang dialokasikan untuk penelitian, pengembangan, dan produksi alutsista dalam negeri. Nurtanio terpaksa harus mencari investor atau setidaknya partner kerjasama, tidak boleh menggantungkan semata-mata dari anggaran negara.

Nu90-3
Nurtanio mempresentasikan pesawat latih mula, modifikasi Piper Cub, Nu-90 kepada para pengunjung LAPIP.

Solusi datang saat Cekop-Polandia menawarkan lisensi produksi PZL-104 Wilga. Tawaran Cekop ini diambil Nurtanio agar personil LAPIP dapat berguru kepada yang lebih ahli, ditambah lagi Wilga (diberi nama lokal Gelatik) merupakan pesawat bermesin tunggal berkemampuan serba guna yang teknologi dan proses produksinya lebih maju dari Belalang. Cekop dalam perjanjian kerjasama dengan LAPIP juga menyetujui bantuan teknis dan material dalam memproduksi Belalang.

Usaha swadaya pesawat latih di Indonesia lewat produksi Belalang seharusnya berjalan lancar dan menjadi kenyataan seandainya tidak muncul dua peristiwa besar, pemberontakan G30S (Gerakan 30 September) yang memicu runtuhnya Pemerintahan Orde Lama pimpinan Presiden Soekarno dan gugurnya Nurtanio saat pesawat Ae-45 Super Aero yang diterbangkannya jatuh di Bandung pada tanggal 21 Maret 1966.

LAPIP yang sepeninggal Nurtanio berubah namanya menjadi LIPNUR (Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio) menjadi mati suri. Pemerintah Orde Baru tidak memprioritaskan lagi industri dirgantara yang dianggap sebagai proyek mercusuar Soekarno.

Nu90-5
Penandatanganan perjanjian kerjasama Cekop-LAPIP di Warsawa, Polandia pada tahun 1963. Salah satu isinya Cekop bersedia membantu LAPIP memproduksi Belalang.

Belalang gagal diproduksi massal, masih beruntung Gelatik berhasil diproduksi sampai 44 unit (dari rencana 50 unit). Ironisnya lagi tidak ada satupun Belalang yang berhasil diselamatkan dan diabadikan menjadi koleksi museum. Satu-satunya Belalang yang masih ada tapi dalam bentuk tidak utuh, menjadi alat praktikum di SMK Penerbangan Kartika Aqasa Bhakti, Semarang.

Walaupun demikian semangat Nurtanio masih ada, keinginan untuk mewujudkan swadaya pesawat latih yang diproduksi dengan harga murah dan teknologi rendah terus berusaha dilakukan. Harapan muncul kembali saat PT. Chandra Dirgantara menawarkan kerjasama produksi LT-200 kepada LIPNUR pada tahun 1970-an. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)