Usaha swadaya pesawat latih kembali dilakukan di Indonesia lewat LT-200 Skytrainer, hasil kerjasama antara LIPNUR (Lembaga Industri Pesawat terbang Nurtanio) dengan PT. Chandra Dirgantara.

Pada awal 1970-an, pasca kegagalan produksi massal Nurtanio Nu-90 Belalang dan berakhirnya produksi PZL-104 Wilga (Gelatik), LIPNUR membutuhkan proyek baru untuk mengisi kegiatan unit produksi pesawat milik TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) ini.

Membuat pesawat lisensi seperti Gelatik tidak mungkin karena biayanya besar ditambah ada batasan produksi. Mendesain pesawat sendiri tentunya membutuhkan waktu lama dengan ada kemungkinan gagal.

PT. Chandra Dirgantara pimpinan Marsma (Marsekal Pertama) G.F. Mambu menawarkan produksi pesawat latih berteknologi swayasa yang sesuai dengan filosofi dan semangat Nurtanio, sang pendiri LIPNUR, teknologi sederhana, mudah dan murah diproduksi, juga tidak ada batasan produksi.

Sebagai catatan PT. Chandra Dirgantara ini memiliki keterkaitan era dengan KOPELAPIP (Komando Pelaksana Persiapan Industri Pesawat Tebang), mega proyek untuk membuat Fokker F27 secara lisensi tapi gagal akibat perubahan politik. Nasibnya yang tidak jelas ini lantas diambil alih TNI-AU.

LT-200-1
Uji taxi LT-200 di depan hanggar LIPNUR, tampak pesawat masih bercat primer dan tidak dipasang kanopi.

Suharto sebagai salah satu staf teknik PT. Chandra Dirgantara yang pertama kali mengusulkan konsep pesawat swayasa yang dikembangkan menjadi pesawat latih mula. Alumni Technisch Hochschule Braunschweig, Jerman Barat ini menyodorkan desain PL-1, karya Ladislao Pazmany yang idenya didapat secara kebetulan dari membaca majalah Flying bekas.

Karena sudah terbukti kemampuannya, telah diproduksi dan digunakan oleh AU Taiwan sebanyak 60 unit, dan dalam tahap evaluasi oleh AU Korea Selatan, AU Taiwan, dan AU Jepang, usul ini disetujui. Pembagian kerjasama disetujui bahwa PT. Chandra Dirgantara sebagai penyedia dana, penjualan, dan dukungan produksi, sedangkan LIPNUR menjadi pelaksana produksinya.

Direncanakan dibuat empat unit protipe, dengan produksi awal sebanyak enam unit. Target penjualan domestik awal adalah TNI-AU termasuk FASI (Federasi Aerosport Indonesia) dan LPPU (Lembaga Pendidikan Perhubungan Udara). Untuk pembiayaannya PT. Chandra Dirgantara mengandalkan jatah bisnis kayu di Sumatra.

Diputuskan pula bahwa yang dibuat adalah PL-2, pengembangan dari PL-1, dan disebut LT (Lipnur Trainer)-200 Skytrainer. Angka 2 diambil dari angka 2 pada PL-2, sedangkan dua angka nol disediakan untuk angka pengembangan pesawat selanjutnya. Harga cetak biru gambar sebesar US$ 200 ditambah bayar royalti berupa main spar produksi Pazmany dengan harga US$ 500. Yang terakhir ini sebenarnya tidak wajib, Suharto bahkan menyebut main spar itu terlalu kokoh.

LT-200-2
Prototipe pertama LT-200 (IN-201) sudah dicat dan sedang disiapkan untuk uji terbang di salah satu hanggar produksi milik LIPNUR.

LT-200 adalah pesawat berkapasitas dua orang dengan tempat duduk berdampingan (side by side), bermesin tunggal Lycoming O-320-E2A 150 tk, dengan kecepatan jelajah rata-rata 220 km/jam, dan berkemampuan akrobatik. Dengan rentang sayap 8,53 m, tinggi 2,5 m, dan panjang 5,9 m, pesawat ini sanggup terbang sampai 610 km dan selama  hampir tiga jam. LT-200 berkanopi gelembung (bubble canopy) dengan roda tidak bisa dilipat masuk (fixed landing gear) dan memiliki tangki bahan bakar di ujung sayap (wing tip tank).

Proses pembuatan pesawat pertama–prototipe pertama–berlangsung sekitar enam bulan. Pesawat berhasil diterbangkan pertama kali oleh Mayor Udara Suyudi pada hari Jumat tanggal 8 November 1974 dari Pangkalan Angkatan Udara Husein Sastranegara pada pukul 16.30. Besoknya pada jam 11.00, pesawat diterbangkan kembali, tapi kali ini oleh Mayor Udara Sriyono. Pesawat diterbangkan sampai di ketinggian 3.000 kaki dan bahkan membuat manuver berbentuk delapan (figure eight).