Penerbangan ini disaksikan oleh pimpinan dan karyawan LIPNUR, pejabat TNI-AU, pejabat dari Dinas Kelaikan Udara, dan tamu dari ICAO (International Civil Aviation Organization). Tanggal 9 November inilah yang akhirnya ditetapkan secara resmi sebagai tanggal penerbangan perdana (first flight) LT-200.

Ada empat prototipe yang dibuat selama periode tahun 1974-1976 dan masing-masing diberikan registrasi IN-201 s/d IN-204. LIPNUR dan PT. Chandra Dirgantara terus melaksanakan modifikasi dan perbaikan dari pesawat swayasa (amateur build aircraft) menjadi pesawat latih mula (primary/basic trainner) yang memenuhi persyaratan sesuai dengan kebutuhan TNI-AU dan LPPU.

LT-200-4
Terbang perdana tidak resmi prototipe pertama LT-200 pada tanggal 8 November 1974 pada sore hari. Penerbangan ini diulangi pada esok hari pukul 11.00 dan menjadi tanggal resmi penerbangan perdananya.

Sayangnya swadaya pesawat latih ini justru kandas ketika LIPNUR digabung dengan Advanced Technology Pertamina menjadi Industri Pesawat Terbang Nurtanio (PT. Nurtanio). Pada tahun 1978, Direktur PT. Nurtanio, BJ. Habibie memutuskan untuk menghentikan proyek LT-200 dan fokus pada proyek produksi lisensi pesawat komuter CASA NC-212 dan helikopter Bolkow BO-105 pesanan Pertamina (Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara).

Karena tidak didukung oleh industri dalam negeri, akibatnya TNI-AU dan LPPU memilih untuk mengimpor pesawat latih mula dari luar negeri. TNI-AU membeli AS202 Bravo buatan Flug- und Fahrzeugwerke Altenrhein asal Swiss sedangkan LPPU membeli Piper Cherokee dan Beech Musketeer.

LT-200-3
Rencana ke depan untuk LT-200, dikembangkan terus dari swayasa menjadi latih mula. Prototipe keempat merupakan model pra produksi.

Saat ini, dari empat protipe LT-200, hanya satu yang bisa diselamatkan yaitu prototipe kedua (IN-202) dengan warna dan cat Aeroclub Nurtanio dan menjadi koleksi Museum Dirgantara Mandala di Yogyakarta sejak tahun 1987. Prototipe pertama terus diterbangkan untuk pengujian dan sertifikasi tapi sayangnya tidak diketahui nasibnya.

Prototipe ketiga dan keempat diserahkan kepada LPPU pada tahun 1977 untuk dievaluasi dan telah diberi registrasi sipil masing-masing PK-ALD dan PK-ALE. Dikabarkan PK-ALD mengalami kecelakaan pada tahun 1985 dan PK-ALE disebut-sebut masih disimpan dengan baik untuk studi sistem pesawat terbang.

LT-200-6
IN-201, prototipe pertama LT-200 berkunjung ke LPPU Curug, Tangerang. Setelah itu LIPNUR memberikan dua unit LT-200 kepada LPPU untuk dievaluasi.

Sama seperti Belalang, nasib LT-200 memang pahit, padahal bayangkan bila Indonesia bisa mandiri untuk memenuhi pesawat latih mula, lebih hemat, dan uang yang dikeluarkan pastinya kembali masuk ke kantong sendiri. Dengan teknologi sederhana yang dimiliki, baik Belalang maupun LT-200 merupakan perwujudan nyata dari cita-cita dan idealisme Nurtanio, yaitu agar dunia penerbangan yang dinilai mahal dan rumit menjadi lebih dekat kepada masyarakat umum khususnya kepada generasi muda.

Kalau ada pendapat, kebutuhan pesawat latih di Indonesia sedikit, tentunya harus diperhatikan potensi ada berapa sekolah pilot yang ada di Indonesia saat ini yang rata-rata minimal membutuhkan empat sampai enam pesawat latih. Biaya pendidikan pilot juga bisa ditekan karena harganya yang lebih murah daripada harus impor dan tentu saja murah dari sisi operasionalnya.

TNI-AU sebagai institusi pendidikan pilot militer, setidaknya membutuhkan satu skadron (12 unit) pesawat latih mula. Ditambah lagi kebutuhan dari perorangan, klub terbang (aeroclub), atau instansi lainnya baik pemerintah maupun swasta. Efeknya bertambah, ada pula untuk kepentingan edukasi. Belalang atau LT-200 dapat menjadi sarana praktik sekolah kejuruan dan kampus. Bukan tidak mungkin dirakit dan diproduksi oleh siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), mahasiswa teknik, dan bengkel sekelas industri rumahan (home industry).

LT-200-5
LT-200 (IN-202) dengan warna dan cat Aeroclub Nurtanio yang disimpan dan menjadi koleksi Museum TNI-AU Dirgantara Mandala di Yogyakarta.

LT-200 ada contoh nyata seperti yang disebut Suharto seperti “membajak teknologi” : beli gambar, dibuat, lalu dikembangkan atau desain ulang menjadi pesawat yang sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Hal yang sama dilakukan Nurtanio dalam pembuatan Belalang, dengan membajak desain Piper Cub. Bajak-membajak seperti ini adalah hal yang lumrah, negara-negara dengan industri kedirgantaraan yang maju seperti Tiongkok dan Korea Selatan juga melakukan hal yang sama.

Ironis sekali bila Indonesia sanggup membuat pesawat canggih regional turboprop seperti N250 tapi teknologi kelas rendah seperti pesawat latih mula sebagai wakil  penerbangan umum (general aviation) harus mengimpor. Sebuah industri kedirgantaraan yang maju dan kokoh, harus didukung pula oleh penerbangan umum bahkan menjadi pondasinya, seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Ironis pula bahwa usaha pembangunan pondasi industri kedirgantaraan di Indonesia justru dihancurkan oleh bangsa sendiri seperti yang terjadi pada Belalang dan LT-200. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)