Karena bermesin turboprop, C-130H-MP memungkinkan terbang lebih lama dengan  cara menggunakan dua mesin saja. Di ketinggian 5.000 kaki, Hercules ini dapat terbang mencapai 3.400 km (1.843 Nm/Nautical mile) tanpa tangki cadangan (external tank), sebaliknya dengan tangki cadangan dapat terbang sejauh hampir 4.700 km (2.517 Nm). Bila terbang di atas sasaran selama 2,5 jam, menggunakan dua mesin tanpa tangki cadangan, radius misi mencapai 2.400 km (1.300 Nm), sebaliknya jika empat mesin, mencapai 2.200 km (1.200 Nm) atau hampir 3.100 km (1.660 Nm) dengan tangki cadangan.

Diakui Hercules versi patroli maritim ini memang tidak laku, operator lainnya selain Indonesia adalah Malaysia yang membeli tiga unit. Kalah gesit dan kurang populer dengan Lockheed P-3 Orion yang berbasis pesawat penumpang L188 Electra. Yang hampir mirip fungsinya dengan pesawat versi ini adalah HC-130H, hanya US Air Force dan US Coast Guard yang memilikinya.

C-130MP-TNI-AU-2
Hercules versi maritim ini dilengkapi dua pintu belakang dengan tiga jendela besar untuk observasi (kiri), sedangkan di pintu kargo (ramp door) terdapat palet penyelamat yang dapat diluncurkan saat terbang rendah.

Dengan pesawat ini, tentunya jika ada kejadian seperti tenggelamnya Tampomas II, kemungkinan besar korban dapat diselamatkan lebih banyak dan lebih cepat. Waktu itu TNI-AU menggunakan Fokker F27 milik Skuadron 2 yang terbatas kemampuan terbang dan peralatan SAR-nya. Sangat beresiko, karena F27 tidak memiliki ramp door, perahu penyelamat dikembangkan di luar pintu belakang dengan ditahan tali sebelum diterjunkan.

Mengandalkan hanya satu C-130H-MP memang tidak cukup untuk mengawasi wilayah laut Indonesia yang luas dengan garis pantainya terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. TNI-AU juga tidak menambah pesawat sejenis untuk Skuadron 5. Malangnya lagi pesawat semata wayang ini justru jatuh di Sumatra Utara, menabrak Gunung Sibayak pada tanggal 21 November 1985 dengan menewaskan 10 kru. TNI-AU baru-baru ini saja mendapatkan pesawat turboprop berkemampuan patroli maritim dan SAR pendamping Camar Emas, lewat kehadiran CN235-220 MPA (Maritime Patrol Aircraft) yang dipesan sebanyak tiga unit. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)