Walaupun terbatas tapi kedua pesawat berhasil memotret 5 juta ha atau setengah dari wilayah konsensi. Peran Dragon Rapide berakhir saat KNILM menggantikannya dengan dua unit pesawat amfibi Sikorsky S.38 (PK-AKS dan PK-AKT) pada bulan November 1936. Menggunakan pesawat amfibi lebih ideal daripada Dragon Rapide karena lebih fleksibel, dapat beroperasi baik di darat maupun laut dengan memanfaatkan tepi pantai, danau, dan sungai.

Kedua Dragon Rapide diterbangkan ke Andir, Bandung untuk perawatan berat sebelum bertugas kembali kali ini ke Kalimantan, disewa oleh perusahaan tambang asal Australia. Keduanya melaksanakan pemotretan/pemetaan udara bahkan sampai ke Brunei. Sayangnya PK-AKU jatuh di Ketapang, Kalimantan Barat pada bulan Agustus 1938.

NNGPM-S38-1
Sikorsky S.38 PK-AKS (nantinya diberi nama hidung/nose name Bakopa) di Aika. Pesawat amfibi ini menjadi pengganti Dragon Rapide untuk pemotretan udara di Papua namun nasibnya nahas, hancur akibat serangan Jepang saat berada di Buitenzorg (Bogor).

Foto-foto udara dan hasil pemetaan yang dibuat oleh pesawat-pesawat KNILM/NNGPM ini memang bagus kualitasnya, bermanfaat untuk membuat peta topografi, survei geologi, dan proyek lainnya bahkan dibuat dengan skala 1 : 5000. Sayangnya peta-peta tersebut tidak dimanfaatkan untuk eksplorasi karena keburu pecah Perang Pasifik.

Pesawat yang masih ada dan pernah digunakan untuk pemotretan udara ini juga nasibnya buruk akibat perang. PK-AKV sengaja dihancurkan di Andir agar tidak jatuh ke tangan musuh, sedangkan kedua pesawat amfibi hancur akibat serangan udara Jepang saat berada di Semplak, Buitenzorg (Bogor). (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)