Bagi Suharto membangun replika ini bukan apa-apa, apalagi bahan utamanya terbuat dari kayu. Tapi tetap saja harus bersikap profesional, membuat ketiga “pesawat” senyata mungkin. Suharto lantas mengambil referensi, menjiplak, dan mengukur replika Cureng yang ada di Museum Satria Mandala, Jakarta. Sedangkan Guntei dikira-kira ukurannya dengan menggunakan gambar referensi.

“Rangka” Cureng dan Guntei terbuat dari kayu dengan “kulit badan pesawat” terbuat dari alumunium. Yang pasti semua bahan-bahan ini dapat diperoleh dengan mudah di toko bangunan. Ketiga “pesawat” dibuat di rumah Suharto di Ampera, Kemang dengan tenaga tukang kayu biasa. Setelah pembuatan selesai selama kurang lebih dua bulan, seluruhnya lantas dibongkar dan dimuat ke beberapa truk untuk dikirim ke Pangkalan Angkatan Udara Adisucipto, Yogyakarta. Di salah satu hanggar, ketiga “pesawat” dirakit lagi dan siap untuk syuting.

Cureng-Serangan-Fajar-8
Ketiga “pesawat” dirakit di sebuah hanggar di Adisucipto.

Cureng-Serangan-Fajar-7Tim perakit bersantai sejenak di atas Guntei.

Cureng-Serangan-Fajar-13
Dua Cureng dan satu Guntei siap melaksanakan “serangan fajar”.

Kedua Cureng dan satu Guntei ini dapat “diawaki” oleh para aktor, lengkap dengan senapan mesin dan bom imitasi. Salah satu Cureng bahkan dibuat lebih realistis lagi, dapat bergerak di darat dengan baling-baling berputar. Awalnya produser menggunakan tali ditarik mobil untuk menggerakan Cureng namun ternyata hasilnya tidak bagus, justru ketahuan bohongnya.

Suharto mencari akal. Sebelumnya dia diminta oleh Direktur Utama GIA (Garuda Indonesian Airways) Wiweko Soepono untuk menjadi tim persiapan penerbangan replika pesawat pertama buatan Indonesia, WEL (Wiweko Experimental Lightplane) RI-X bermesin mobil VW. Ada dua yang dibuat, pertama di Jakarta dan kedua di Bandung. Sayangnya replika pertama gagal terbang di Kemayoran. Suharto lantas meminjam mesin dan baling-balingnya untuk dipasang di salah satu Cureng.