Hasilnya dapat dilihat di film Serangan Fajar, “pesawat” bergerak sangat nyata. Pengambilan gambar diambil selain siang hari juga dilakukan malam hari, yaitu adegan Cureng sedang bergerak di landasan seolah-olah siap lepas landas melaksanakan serangan udara balasan. Adegan semakin nyata dengan diterangi oleh lampu-lampu mobil di sepanjang landasan sekelilingnya yang sesuai dengan kisah sebenarnya.

Salah satu Cureng ditempatkan di atas panggung untuk adegan terbang. Cara ini digunakan sutradara untuk syuting aksi aktor di dalam kokpit yang sedang “menerbangkan pesawat” sekaligus mengambil adegan bom yang dijatuhkan dari bawah sayap.

Cureng-Serangan-Fajar-9
Cureng ditempatkan di atas panggung, untuk syuting adegan terbang.

Cureng-Serangan-Fajar-11
Syuting adegan penyerangan udara di pagi buta.

Sayangnya Suharto tidak mengetahui nasib akhir dari “pesawat-pesawat” buatannya itu. Seluruhnya diambil oleh PPFN sebagai pemiliknya setelah syuting film selesai. Karena bahannya terbuat dari bahan murah dan tidak tahan lama, kemungkinan besar dibongkar dan bahannya diperuntukan buat properti film lainnya. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)