Helikopter merupakan teknologi penerbangan tergolong baru bagi Indonesia yang belum lama merdeka dan memperoleh pengakuan kedaulatannya.

Sebenarnya bukan hanya Indonesia, bahkan Amerika Serikat sekalipun pasca Perang Dunia II helikopter masih tergolong kurang dikenal dan terbatas penggunaannya walaupun teknologinya sudah dimatangkan oleh bapak helikopter modern Igor Sikorsky lewat ciptaannya Vought Sikorsky VS-300 pada tahun 1939.

AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) sebagai institusi militer berbasis teknologi harus selalu berinovasi dan mengikuti perkembangan zaman. Pasca pengakuan kedaulatan, institusi ini hanya memiliki teknologi sayap tetap (fixed wing) dan helikopter sebagai teknologi sayap putar (rotary wing) menjadi hal yang harus dikuasai.

Teknologi sayap putar untuk AURI sebenarnya bukan hal asing, sudah ada percobaan pembuatan helikopter lewat pelopornya bernama Yum Sumarsono. Tapi helikopter yang disebut RI-H itu masih sebatas prototipe dan hancur akibat serangan udara Belanda.

Hiller-360-Wiweko-Soepono
Wiweko Soepono belajar menerbangan helikopter serba guna Hiller 360 di Palo Alto, California.

AURI menginginkan lebih dari sekedar prototipe, siap operasional sekaligus menimba ilmu langsung dari negara ahlinya helikopter. Untuk itulah AURI mengutus Letnan Kolonel Udara–pensiun dengan pangkat Komodor Muda Udara–Wiweko Soepono  ke Amerika Serikat untuk belajar sekaligus membeli helikopter.

Wiweko adalah salah satu tokoh pendiri AURI, tepatnya di bidang teknik. Lewat Biro Rencana dan Konstruksi, bersama Nurtano, dia membuat pesawat layang Zögling (Baca : Pesawat Layang NWG-1, Titik Awal Lahirnya Teknologi Penerbangan) dan pesawat ringan WEL (Wiweko Experimental Lightplane) RI-X saat perang mempertahankan kemerdekaan. Wiweko juga menjadi salah satu pendiri maskapai penerbangan Indonesian Airways yang beroperasi di Birma dengan modal Douglas C-47/DC-3 Dakota RI-001 “Seulawah”.

Setelah melakukan berbagai pertimbangan, Wiweko memilih tipe helikopter Hiller-360 buatan tahun 1947. Fungsinya yang serba guna, dapat digunakan sebagai helikopter latih, tugas intai, dan penghubung, ditambah lagi teknologinya tidak terlalu rumit sehingga dapat dengan mudah dikuasai oleh teknisi AURI, menjadi alasan pemilihannya.

Wiweko berlatih menerbangkannya di Palo Alto, California sampai mendapat brevet penerbang helikopter pada tanggal 14 Oktober 1950. Dengan demikian praktis Wiweko menjadi pilot helikopter pertama di Indonesia. Sebanyak enam unit Hiller 360 dikirim ke Indonesia dalam peti kemas, lalu dirakit di Pangkalan Angkatan Udara Andir, Bandung oleh Komando Teknik Udara, dan salah satunya siap diuji terbang oleh Wiweko pada tanggal 24 Desember 1950.

Dikenal sebagai pribadi yang aneh dan nyentrik, demikian pula pelaksanaan uji terbang itu. Wiweko setelah lepas landas dari Andir dan terbang berkeliling, lantas mencoba keunggulan teknologi helikopter ini yang tidak bisa dilakukan pesawat konvensional, dapat mendarat di mana saja. Kebetulan di Stadion Tegalega sedang diadakan kompetisi atlet untuk seleksi mengikuti Asian Games di India. Menjelang upacara pembukaan, Hiller 360 tersebut datang, mengelilingi stadion sebentar, dan lantas mendarat di lapangan upacara.

Bagi masyarakat waktu itu yang belum pernah sama sekali melihat benda terbang aneh bernama helikopter ini sangat heran. Semakin tercengang lagi saat Wiweko keluar dari Hiller 360 dan naik ke mimbar lalu berkata di depan mikrofon mengucapkan empat kata “selamat berlomba olah raga”. Masyarakat yang menyaksikan itu masih takjub saat Wiweko kembali naik dan terbang dengan helikopternya kembali ke Andir.

Hiller-360-Soekarno-Fatmawati
Komodor Muda Udara Wiweko Soepono membawa Presiden Soekarno (kiri) dan Ibu Negara Fatmawati (kanan) dengan Hiller 360 mengelilingi Jakarta.

Hiller 360 kembali menjadi berita saat untuk pertama kalinya menerbangkan Presiden Soekarno dari Istana Merdeka pada tanggal 15 Januari 1951, kembali lagi Wiweko menjadi pilotnya. Setelah presiden dibawa terbang mengelilingi Jakarta, giliran berikutnya membawa Ibu Negara, Fatmawati. Penerbangan dilakukan bergantian karena helikopter mungil ini hanya sanggup membawa satu penumpang.

Penerbangan yang disaksikan banyak orang dan diliput wartawan ini sebagai bentuk dukungan langsung dari presiden atas usaha AURI membentuk Skadron Percobaan Helikopter, cikal bakal Skuadron 6 dan sekaligus semakin bersemangat menguasai teknologi sayap putar. Lewat penerbangan itu pula Hiller 360 selain sebagai tipe helikopter pertama, juga menjadi helikopter kepresidenan pertama di Indonesia.

Hiller 360 walaupun andal tapi dinilai tidak nyaman jika untuk mengangkut pejabat VVIP (Very Very Important Person) setara presiden apalagi kapasitas penumpangnya hanya satu orang. Untuk tugas angkut kepresidenan, AURI lantas mendatangkan Bell 47G yang berkapasitas dua penumpang dengan duduk berjejer bersama pilot, lalu berikutnya digantikan Bell 47J Ranger yang berkapasitas tiga penumpang dengan pilot duduk di depan. Sebagai bukti sejarah, satu unit Hiller 360 diabadikan dan menjadi koleksi Museum Dirgantara Mandala, Yogyakarta. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)