Dunia penerbangan Eropa gempar lewat hadirnya pesawat Walraven W-2 beregistrasi PK-KKH di Schiphol pada tahun 1935.

Era 1930-an, pasca Perang Dunia I, disebut sebagai era keemasan (golden age) dunia penerbangan, banyak pesawat dirancang dan dibuat untuk memecahkan rekor dunia dan menjelajah keliling dunia. Dibangun di Jalan Pasirkaliki, Bandung, W-2 mengikuti pula tren tersebut dengan terbang jarak jauh ke Eropa.

Perancangnya adalah Laurent Walraven dari dinas teknik LA (Luchtvaartafdeling) dengan dimodali oleh jutawan pemilik toko serba ada Merbaboe dan pengusaha roti dan daging, Khow Khe Hien–inisialnya menjadi registrasi pesawat. Pengusaha itu menginginkan pesawat pribadi yang digunakan untuk mengembangkan dan mengawasi jaringan bisnisnya.

Bukan kali ini Walraven mendesain dan membuat pesawat, sebelumnya bersama Kapten Pattist hadir PW-1, pesawat olahraga bermesin tunggal (Baca : PK-SAM, Satu Registrasi Tiga Pesawat Berbeda). Sebelumnya lagi dia berhasil menjiplak desain pesawat sayap ganda, de Havilland DH-9 dan diproduksi 12 unit untuk LA.

PK-KKH-Andir
PK-KKH di depan hanggar Andir, Bandung. Walraven mulai mendesainnya pada tahun 1934.

Pesawat berkapasitas dua orang (satu pilot dan satu penumpang) ini bermesin ganda Pobjo 90 tk dan bahan utamanya dari kayu. Dari sisi bentuk tampak sangat maju, langsing dan aerodinamis serta bersayap tunggal (monoplane) dan rendah (low wing).

Desain W-2 meninggalkan konsep lama badan pesawat berbentuk kotak dan sayap ganda (biplane) era 1920-an dan awal 1930-an. Pesawat yang terbang perdana pada tanggal 4 Januari 1935 ini rodanya memang tidak bisa dilipat masuk (fixed landing gear) tapi ditutup dengan bentuk aerodinamis pula.

Selain untuk penggunaan pribadi, penerbangan jarak jauh W-2 ini sebenarnya bagian dari promosi Walraven dan Khow Khe Hien untuk membuka peluang ekspor pesawat buatan Hindia Belanda ke Eropa. Untuk itulah dengan merekrut pilot dari LA, Letnan Kees Terluin dan Khow Khe Hien sebagai pilot kedua, PK-KKH terbang menuju Amsterdam dari Bandung dengan resmi memulai penerbangan dari Tjililitan, Batavia pada tanggal 9 September 1935. Sedangkan Walraven berangkat ke Belanda dengan menggunakan pesawat dari maskapai penerbangan KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij).

Rute perjalanan PK-KKH itu mengikuti rute Batavia-Amsterdam milik KLM dan sampai di Aleppo tidak ada masalah. Sejam setelah lepas landas dari Istanbul, salah satu mesin mengalami gangguan karena saluran bahan bakar yang bocor. Kedua pilot mendarat darurat di lereng bukit di Nifren tapi justru ditahan oleh polisi lokal karena diduga sebagai mata-mata.

Mereka dibebaskan setelah konfirmasi via telepon ke Istanbul. Mesin lantas diperbaiki dan PK-KKH akhirnya kembali terbang. Setelah kembali menghadapi masalah teknis di Dresden, akhirnya Terluin dan Khow Khe Hien mendarat di Amsterdam pada tanggal 27 September 1935. Penerbangan itu berlangsung selama 18 hari padahal seharusnya bila tidak ada hambatan minimal butuh 8,5 hari saja.

Jernih payah kedua pilot terbayar saat disambut meriah di Schiphol. Heboh karena baru kali ini ada perwakilan dari Asia terbang ke Eropa. Kagum juga karena biaya pembuatannya cukup murah, sebesar 6.000 gulden, atau setara dua unit mobil sedan Buick. Ditambah lagi nama perancangnya belum dikenal namun berhasil membawa karyanya ini ke tingkat dunia.

Terluin, Khow Khe Hien, dan Walraven bertemu pula dengan perancang pesawat terkenal kelahiran Blitar, Anthony Fokker dan Direktur Utama KLM Albert Plesman. Khusus untuk KLM, Walraven menawarkan kepada Plesman rancangan pengembangan dari W-2 yaitu W-3 yang dapat mengangkut empat penumpang untuk layanan taksi udara (air taxi).

Setelah menyempatkan mendarat di London, Inggris dan tinggal di sana selama dua minggu, PK-KKH pulang ke Hindia Belanda. Lepas landas dari Schiphol pada tanggal 1 November 1935 dan tiba di Tjililitan 11 hari kemudian. Penerbangan ini relatif  lancar daripada sebelumnya.

PK-KKH-Schiphol
Dari kiri ke kanan, Kees Terulin, Khow Khe Hien, dan Laurents Walraven disambut hangat di Schiphol, Amsterdam pada tanggal 27 September 1935 setelah berhasil terbang jarak jauh dari Hindia Belanda.

Kesuksesan melanglang buana ke Eropa, diikuti rencana berikutnya terbang ke tanah leluhur sang jutawan yaitu ke Tiongkok periode April-Mei 1936 yang direalisasikan setahun kemudian. Selain mempromosikan W-2 dan W-3, Khow Khe Hien berambisi membangun pabrik pesawat kedua di Asia setelah di Bandung.

Rencana tinggal rencana, pendirian pabrik di Tiongkok gagal akibat pecah perang melawan Jepang. Cita-cita itu benar-benar musnah saat Khow Khe Hien tewas ketika pesawat pembom Glenn Martin bernomor 506 yang ditumpanginya jatuh di Tjililitan pada tahun 1938.

W-3 memang tidak pernah diproduksi tapi Walraven masih membuat pesawat berikutnya yaitu W-4, pesawat latih tandem bermesin tunggal dan dibuat dua unit untuk klub terbang. Dia meninggal dunia pada umur 44 tahun akibat disentri sebagai tawanan perang Jepang pada tanggal 6 November 1942 saat dikirim ke Birma dengan kapal Takoma Maru. Sebelum meninggal, di kamp tahanan di Jawa, Walraven sempat merancang W-5, pesawat angkut ringan berekor ganda (twinboom).

Nasib PK-KKH tidak diketahui, kemungkinan sama nahasnya seperti perancang dan pemiliknya. Menurut kesaksian setelah Khow Khe Hien berpulang, pesawat ini disimpan di salah satu hanggar di Andir, bisa jadi ikut hancur saat Jepang menyerbu dan menguasai Hindia Belanda pada tahun 1942. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)