Tahap transisi mencapai 12 jam terbang selama 30 hari, diperlukan enam sorti terbang biasa (general flying), dua sorti terbang instrumen (instrumen flying), dan tiga sorti terbang formasi (formation flying). Tahap itu diselesaikan keempat pilot pada tanggal 14 Maret, dan dilanjutkan ke tahap pertempuran udara.

Tahap ini meliputi latihan terbang formasi taktis (tactical formation) sebanyak tiga sorti, lima sorti pelajaran bertempur dengan formasi dua sampai empat pesawat meliputi BFM (Basic Fighter Manuver) dilanjutkan lima sorti bertempur satu lawan satu lewat ACM (Air Combat Manuver), lalu lima sorti bertempur dua lawan satu atau dua lawan dua lewat ACT (Air Combat Tactics), dan terakhir dua sorti Dart Shooting. Total mencapai 20,7 jam terbang selama 44 hari.

Trio-Penjinak-Macan-4
Keempat pilot (pilot asal Malaysia paling kiri) berfoto bersama dengan para instruktur (ketiga dari kiri dan paling kanan) dari Skuadron 425 USAF.

Latihan BFM, ACM, dan ACT sebenarnya makanan sehari-hari bagi pilot Skadron 14, namun bedanya dilakukan dengan Tiger yang performanya jauh berbeda dengan Sabre atau T-33. Selain itu mereka juga menimba ilmu baru dari para instruktur yang sangat berpengalaman dalam bertempur di udara (dogfight) dan telah menerbangkan berbagai jenis pesawat tempur.

Seluruh latihan pertempuran udara ini menggunakan kamera film untuk mensimulasikan penembakan misil dan peluru meriam kecuali Dart Shooting yang benar-benar menggunakan peluru sungguhan. Pilot menembakan peluru meriam kaliber 20 mm ke arah Dart, sasaran berbentuk mirip panah berukuran 1,5 x 5 m, berwarna merah menyolok yang ditarik tali sejauh 500 m dari pesawat lain. Penilaian akurasi penembakan udara ke udara ini dihitung dari berapa banyak peluru yang berhasil mengenai Dart.

Tahap terakhir dari jalur D adalah serang darat, membutuhkan waktu 11 hari atau 6,5 jam terbang. Dengan menggunakan F-5B sebanyak empat sorti dan dua sorti di F-5E, mereka melakukan latihan meliputi penembakan meriam, menjatuhkan bom, dan meluncurkan roket. Tidak banyak berbeda dengan yang dilakukan di tanah air, kecuali kecepatannya yang lebih dari 900 km/jam patut diperhatikan dengan serius.

Trio-Penjinak-Macan-6
KSAU (Kepala Staf Angkatan Udara) Marsekal Ashadi Tjahjadi ikut merasakan terbang di kursi belakang F-5F Tiger II yang diterbangkan oleh Mayor Pnb Holki Basah Kartadibrata (Eagle 02).

Selesai ? Ternyata belum, ketiga pilot Skadron 14 ini harus menambah pelajaran lagi karena dituntut menjadi instruktur. Sebanyak 10 sorti mereka latihan lepas landas, terbang, dan mendaratkan pesawat dengan duduk di belakang F-5B dan latihan terbang dengan F-5E sambil memberikan instruksi dan koreksi kepada pesawat lainnya.

Pada bulan Mei 1980, trio penjinak macan ini kembali ke Pangkalan Angkatan Udara Iswahyudi, Madiun. Mereka siap mengawaki sekaligus menjadi instruktur untuk F-5E/F Tiger II yang tiba di Indonesia lebih dulu pada tanggal 21 April 1980, dengan dibawa oleh pesawat angkut Lockheed C-5 Galaxy. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)