Setelah sukses dengan Elang Malindo (Malaysia-Indonesia) I, TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) dan TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) kembali melanjutkan kerjasama lewat latihan bersama Elang Malindo II dan III.

Elang Malindo II dan III ini dapat disebut sebagai pemantapan kerjasama TUDM dan TNI-AU. Kedua pihak sama-sama menyebut Elang Malindo I sebagai suatu penjajakan, tahap perkenalan untuk latihan gabungan yang lebih baik lagi.

Jika Elang Malindo I dilaksanakan di Pangkalan Pemusnah TUDM Kuantan, Malaysia, giliran Indonesia melaksanakan Elang Malindo II di Pangkalan Angkatan Udara Iswahyudi, Madiun. Komandan sekaligus pimpinan latihan dari Indonesia adalah Marma (Marsekal Pertama) Loely Wardiman sedangkan dari Malaysia adalah Komodor Udara Shahrudin bin Ali.

Elang-Malindo-II-dan-III-1
Menhankam (Menteri Pertahanan Keamanan)/Pangab (Panglima ABRI/Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) Jenderal Maraden Panggabean membuka sekaligus menginspeksi Elang Malindo II di Iswahyudi, Madiun.

Malaysia mengirimkan enam unit Canadair CL-41G Tebuan dari Skuadron 6, didukung oleh satu unit Lockheed C-130 Hercules sebagai angkut logistik, Handley Page Dart Herald sebagai angkut staf dan personil, dan satu unit helikopter Sikorsky S-61 Nuri. Indonesia sebagai tuan rumah mengerahkan enam unit Lockheed T-33 Bird, satu unit Hercules, satu unit Douglas C-47/DC-3 Dakota, satu unit pesawat amfibi Grumman UF-1 Albatross, dan satu helikopter Sikorsky UH-34.

Latihan bersama Elang Malindo II dibuka secara resmi oleh KSAU (Kepala Staf Angkatan Udara) Marsekal Saleh Basarah pada tanggal 2 Agustus 1976 dan diinspeksi langsung oleh Menhankam (Menteri Pertahanan Keamanan)/Pangab (Panglima ABRI/Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) Jenderal Maraden Panggabean pada hari berikutnya.

Tidak terlalu berbeda dengan Elang Malindo I, Elang Malindo II latihannya melibatkan pergerakan pesawat tempur, manuver dasar (basic maneuver), pegelaran taktis (tactical deployment), serang darat (ground strike), dan pencegatan (intercept).

Selain itu dalam latihan bersama ini, pesawat-pesawat yang digunakan dikendalikan lewat satuan radar dan unit radar. Madiun sebagai pusat operasi yang didudkung oleh pangkalan pendukung di Jakarta Malang, Palembang, dan Komando Operasi TNI-AU. Diadakan pula latihan SAR (Search & Air Rescue), dilakukan oleh helikopter dari kedua angkatan termasuk melibatkan pesawat amfibi Albatros.

Latihan selama seminggu ini dinyatakan sukses dan dilanjutkan tahun berikutnya, Elang Malindo III yang diadakan kembali di Kuantan. Lagi-lagi berlangsung selama seminggu, dimulai pada tanggal 16 Oktober 1977.

Berbeda dengan sebelumnya, kualitas Elang Malindo III ini ditingkatkan menjadi kerjasama antara Komando Staf. Oleh karena itulah TNI-AU mengutus perwakilan-perwakilan dari Kopatdara (Komando Paduan Tempur Udara), Kohandunas (Komando Pertahanan Udara Nasional), dan Mabes (Markas Besar) TNI-AU. Karena bersifat Komando Staf, maka pengendaliannya dilakukan oleh Kumpulan Kerja Udara (Air Working Group) dan Staf Pelaksana Bersama (JCTF/Joint Command Task Force), keduanya berkedudukan di Gedung Pergerakan Udara, Pangkalan Pemusnah Kuantan.

Elang-Malindo-II-dan-III-2
Sama seperti sebelumnya, saat Elang Malindo III, pilot Sabre TNI-AU berkesempatan ikut terbang bersama Tebuan milik TUDM.

Pimpinan kontingen Indonesia adalah Wakil Asisten KSAU Urusan Operasi Marsma Ibnu Soebroto dengan mengirimkan empat unit Avon Sabre dari Kohandunas dan tiga unit Rockwell OV-10 Bronco, satu unit Albatross, dan Cessna 401 berkemampuan intai dan pemotretan udara, semuanya dari Koptadara.

Sedangkan tuan rumah, dipimpin langsung oleh Ketua Turus TUDM Komodor Udara Ngah Said menyiapkan Kuantan sebagai daerah latihan dan mengerahkan enam unit Tebuan, satu unit Nuri, dan helikopter Allouette untuk latihan SAR.

Latihannya sama seperti sebelumnya, namun kali ini ditingkatkan dengan skenario bahwa ada negara asing yang selalu melanggar kedaulatan, Malaysia dan Indonesia melaksanakan Operasi Udara Bersama lewat GBC (General Border Committee). Wilayah pelanggaran itu meliputi pula perairan di sebelah timur Semenanjung Malaya. Wilayah laut itu pula yang menjadi tempat pendaratan Albatross saat hari pertama latihan. Walaupun ombaknya cukup tinggi namun dua kali berhasil mendarat.

Salah satu skenario adalah kehadiran “kapal perang musuh”, JCTF mengirim flight Sabre dan Tebuan, masing-masing sepasang, untuk mencegat dan mengidentifikasinya. Ternyata “kapal perang musuh” yang dicurigai itu adalah kapal dagang milik Singapura. Segera seluruh pesawat tempur ditarik ke pangkalan, namun sayangnya sesuai skenario berikutnya salah satu Sabre mengalami kerusakan mesin dan pilot terpaksa melontarkan (eject) diri dari pesawat.

Pilot yang selamat namun terombang-ambing di laut itu menjadi skenario bagi tim SAR. Mengerahkan Albatross dan berhasil menemukan pilot tapi tidak berhasil mendarat karena ombak terlalu tinggi. Untuk itu pilot Albatross meminta dikerahkan helikopter Nuri dan Allouette dari Skuadron 10 Kuantan. Nuri terbang melayang di atas pilot dan salah satu kru menyelamatkannya dengan cara diturunkan dengan tali. Sementara itu Albatross dan Allouette terbang mengelilingi dan mengawasi jalannya proses penyelamatan sehingga aksi SAR ini tampak lebih hidup.

Skenario lainnya adalah Tebuan yang dalam flight itu ditembak jatuh di hutan saat kembali ke pangkalan. Kali ini penyelamatan dilakukan oleh Nuri dengan membawa pasukan Kopasgat (Komando Pasukan Gerak Cepat) TNI-AU. Dengan dipandu walky talky dengan jangkauan komunikasi terbatas, pilot berhasil menuntun tim SAR dan dalam waktu 40 menit saja dapat diselamatkan.

Selain itu untuk latihan penembakan dibuat skenario bahwa satu daerah—di pantai timur, desa Penor— telah dikuasai pasukan musuh. Cessna 401 dikirim untuk melaksanakan pengintaian dan pemotretan. Informasi intel dari udara ini digunakan sebagai dasar penilaian medan, kedudukan lawan, dan rencana pergerakan pasukan. Dari info inilah dikerahkan Bronco untuk mengintai lebih lanjut sekaligus menentukan dengan pasti sasaran mana yang harus dihancurkan. Segera setelahnya dikirim Sabre dan Tebuan melakukan serangan dan tembakan darat (ground support).

Elang-Malindo-II-dan-III-3
Tebuan milik Skuadron 6 TUDM (kiri) dan Sabre milik Skadron 14 TNI-AU (kanan) saat Elang Malindo III di Kuantan, Malaysia. Dalam latihan bersama ini, merupakan kali pertama para pilot Sabre TNI-AU berlatih tempur ke luar negeri.

Latihan penembakan darat ini merupakan yang terakhir. Tidak dipungkiri seluruh latihan dalam Elang Malindo III memang lebih maju, lebih baik perencanaannya, dengan skenario dan bervariasi dari sebelumnya, termasuk latihan SAR tempur (combat SAR). Sebagai selingan di antara kesibukan berlatih, seperti biasanya diadakan pula pertandingan olahraga persahabatan. Elang Malindo III berakhir dengan sukses dan TUDM dan TNI-AU berencana untuk terus melanjutkannya.

Yang pasti Elang Malindo telah berlangsung sejak lama, diadakan satu atau dua tahun sekali, untuk meningkatkan profesionalisme bagi kedua angkatan udara sekaligus menjalin hubungan persaudaraan dan perdamaian antara negeri serumpun. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)