Buku yang dicetak pada tahun 2016 ini hadir untuk mengisahkan pembajakan Douglas DC-9 “Woyla”, merupakan edisi revisi untuk memperingati 35 tahun kejadian tersebut.

Sudah ada beberapa buku yang menulis kisah pembajakan pesawat GIA (Garuda Indonesian Airways) bernomor penerbangan GA206 ini. Namun buku ini bisa dikatakan merangkum seluruhnya, sangat lengkap, dengan menelaah lebih lanjut lewat rekonstruksi, wawancara, rekaman pembicaraan, dan dokumen-dokumen dari berbagai media massa luar dan dalam negeri.

Penulisnya adalah Bambang Wiwoho, mantan wartawan Suara Karya, tergolong senior dan lumayan jam terbangnya sehingga mampu memberikan karya yang tampak jelas di buku ini, bukan sekedar catatan sejarah namun sebuah kisah yang bercerita sebagai sebuah selling point, sesuatu yang khas dan menjual, jarang ditemukan di buku-buku terbitan Indonesia.

Dengan penceritaan yang khas, pembaca diajak mengikuti setiap menit, jam, dan hari-hari kejadian pembajakan tersebut. Belum lagi narasi-narasi yang ditulis, begitu mengesankan sehingga pembaca dapat menarik diri ke setiap karakter yang terlibat dalam peristiwa pembajakan ini. Laporan dalam buku ini cukup mendetail namun pembaca bahkan tidak merasa harus mengikuti setiap detailnya sehingga buku ini tidak jatuh harga menjadi sebuah buku referensi semata.

Selain itu ada beberapa hal menarik bagi para pembaca pemerhati sejarah terorisme, sebut saja betapa kritis dan rumitnya pembajakan di pesawat yang merupakan sasaran utama dari jaringan teroris internasional (hal 4-8), menyebut bahwa pembajakan DC-9 Woyla merupakan pembajakan pesawat ketiga di Indonesia (hal 11), dan jaringan teroris Kelompok Imran, pelaku pembajakan Woyla (hal 112-122). Yang terakhir ini menceritakan pula cara aliran fundamentalisme mencuci otak para pengikutnya, tidak hanya pada waktu itu bahkan trik yang sama diterapkan juga sampai saat ini.

Walaupun suasana tegang menyelimuti usaha pembebasan sandera, namun hal lucu terjadi saat pembajak meminta nama pembebasan rekan-rekannya dari penjara yang terlibat dalam penyerangan Pos Polisi di Cicendo. Saking banyaknya–84 orang–Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) yang diutus langsung oleh Presiden Soeharto untuk menghadapi para pembajak, tidak mempunyai data yang lengkap dari Kelompok Imran ini, hanya sebagian nama saja yang dimiliki. Akhirnya dengan mengarang-ngarang dan bersandiwara oleh tim Bakin, justru para pembajak sendiri yang mengungkap identitas rekan-rekannya (hal 184).

Seperti yang disebutkan di atas, buku ini mengisahkan secara lengkap kejadian pembajakan DC-9 Woyla sekaligus aksi sekitar tiga menit Pasukan Komando Sandhi Yudha membebaskan sandera. Tersirat pula walaupun Operasi Woyla dijalankan dengan waktu singkat, tapi jalan untuk kesuksesan misi ini dengan minim korban sangat panjang, rumit, dan begitu hati-hati.

Buku setebal 312 halaman dengan nilai plus lainnya, dua lembar info grafis berwarna ini diterbitkan oleh KOMPAS, cocok bagi para pecinta sejarah termasuk yang menyukai kisah kontra terorisme. Pembajakan pesawat Woyla merupakan sebuah peristiwa lama yang ditulis ulang, namun dengan penyajian yang begitu menarik dan unik dari penulis, disajikan segar seperti kejadian kemarin. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)