Scottish Aviation Twin Pioneer menjadi salah satu dari sedikit pesawat yang pernah aktif dan singkat operasinya di Indonesia. Walaupun demikian pesawat berkemampuan perintis ini berjasa membuka penerbangan di Papua.

NNGLM (Nederlands Nieuw Guinea Luchtvaart Maatschappij) atau yang lebih dikenal sebagai de Kroonduif, adalah satu-satunya maskapai penerbangan yang beroperasi di Papua (Papua Barat/West Papua) saat masih dikuasai Belanda.

Papua dengan medan yang menantang, didominasi pegunungan tinggi berkabut, serta operasi udara didominasi lapangan udara sederhana membuat maskapai yang berdiri pada tahun 1955 berkat investasi KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij) ini harus lebih pintar dalam memilih armadanya.

Scottish-Aviation-Twin-Pioneer-2
Scottish Aviation Twin Pioneer yang masih beregistrasi Inggris, G-AOEN dipamerkan di Farnbourugh Air Show, lengkap dengan cat dan logo de Kroonduif sebagai salah satu operator sipil pertama penggunanya.

Awalnya operasi udara perintis de Kroonduif didominasi oleh empat unit de Havilland DHC-2 Beaver. Pesawat yang tangguh namun sayang kapasitas angkutnya kecil, hanya dua sampai tiga penumpang. Untuk itu dicari lagi tipe pesawat perintis yang lebih besar kapasitas angkutnya. Sebenarnya cukup sulit mengingat tipe pesawat ini jarang jenisnya. Kalaupun ada masih meragukan performa dan kapasitas angkutnya saat ditugaskan di Papua.

Scottish Aviation, pabrik pesawat yang berdomisili di Skotlandia, Inggris menyanggupi permintaan de Kroonduif. Pabrik pesawat ini memang tidak besar, memulai bisnisnya sebagai sekolah pilot dan perawatan pesawat pembom saat Perang Dunia II. Produk pertama pasca perang, Scottish Aviation menghadirkan Pioneer, pesawat bermesin tunggal berkemampuan STOL (Short Take Off and Landing).

Berdasarkan masukan-masukan dari pilot de Kroonduif dan pilot perintis lainnya, Scottish Aviation menghadirkan Twin Pioneer sebagai pengembangan dari Pioneer, dengan melaksanakan terbang perdana pada tahun 1955. Dari sisi desain tampak tidak modern. Roda pendarat utama tidak bisa dimasukkan dan berkonfigurasi layaknya pesawat Perang Dunia II, mengandalkan tailwheel. Di era dimana dunia penerbangan sedang mengalami tren penggunaan mesin turbofan, Scottish Aviation justru mengandalkan mesin piston radial buatan Alvis Leonides.

Walaupun tampak tidak canggih, namun seluruh pemilihan desain bagi Twin Pioneer ini dianggap cocok dan andal untuk operasional perintis sekaligus memiliki kemampuan  STOL seperti pendahulunya. RAF (Royal Air Force) lantas memesannya untuk tugas di Timur Tengah dan Asia Tenggara sedangkan de Kroonduif menjadi salah satu operator sipil pertama yang membelinya. Bahkan Scottish Aviation memamerkan salah satu Twin Pioneer lengkap dengan cat dan logo de Kroonduif saat Pameran Kedirgantaraan Farnbourugh.

Scottish-Aviation-Twin-Pioneer-4
Formasi tiga unit Twin Pioneer milik de Kroonduif saat terbang feri jarak jauh dari Amsterdam menuju Biak.

Ada tiga unit Twin Pioneer yang dipesan de Kroonduif dan seluruhnya diterbangkan menuju Papua dengan jarak setara setengah keliling bumi ! Pada tanggal 26 Juni 1957, ketiga Twin Pioneer lepas landas dari pabrik Scottish Aviation di Prestwick dan mendarat di Schiphol, Belanda untuk dipersiapkan selama seminggu termasuk diberi registrasi Papua Barat (JZ-PPX, -PPY dan -PPZ).

Pada tanggal 3 Juli 1957, dimulai perjalanan panjang ketiga pesawat, lepas landas dari Amsterdam menuju Biak melewati rute Lyon-Roma-Athena-Damaskus-Basra-Sarjah-Karachi-New Delhi-Kalkuta-Rangoon-Saigon-Labuan-Zamboanga-Davao-Sorong. Penerbangan tersebut sempat terhenti sehari karena Bandara Biak-Mokmer ditutup karena adanya kecelakaan Lockheed L-1049 Super Constellation milik KLM.

Baru esok harinya dilanjutkan kembali dan ketiga pesawat tiba dengan selamat. Total 14 hari perjalanan melewati 16 negara merupakan prestasi yang hebat. Ketiga unit pesawat dengan kemampuan angkut 16 orang atau kargo seberat 1,5 ton ini, dioperasikan untuk melayani rute dari Biak menuju Sarmi, Genjem, Hollandia, dan Waris. Saat tidak melayani penumpang, pesawat ini kadang digunakan militer Belanda untuk tugas angkut pasukan dan patroli maritim terbatas.

Pada tanggal 30 Agustus 1957, salah satu Twin Pionner (JZ-PPX) jatuh saat latihan terbang di sekitar Pulau Japen, dekat Biak. Setelah itu terjadi kecelakaan lagi di Libya dan terbukti penyebabnya adalah wing failure. Untuk itu Scottish Aviation membuat  rekomendasi perbaikan yang disebut Series 3. De Kroonduif lantas membeli penggantinya (JZ-PPW) pada tanggal 1 Juni 1961 dan lagi-lagi diterbangkan dari Amsterdam menuju Biak. Tapi di Kalkuta, penerbangan sempat terhenti karena Birma yang mendukung Kampanye Trikora, menolak disinggahi di Rangoon. Karena itulah pesawat ini dipasang tangki cadangan agar dapat terbang langsung menuju Bangkok lalu dilanjutkan ke Saigon.

Scottish-Aviation-Twin-Pioneer-3
Twin Pioneer beregistrasi JZ-PPX. Pesawat ini jatuh saat latihan terbang di sekitar Pulau Japen, dekat Biak pada tahun 1957.

De Kroonduif resmi berhenti beroperasi pada tanggal 1 Januari 1961 dan menyerahkan seluruh asetnya termasuk armada Twin Pioneer kepada GIA (Garuda Indonesian Airways). GIA lantas mendirikan Garuda Irian Barat, mengganti registrasi Twin Pioneer menjadi PK sekaligus memasang logo GIA dan menghapus warna biru dari badan pesawat.

Tiga tahun kemudian Garuda Irian Barat menyerahkan seluruh aset kepada MNA (Merpati Nusantara Airways). Pada saat penyerahan itu hanya tersisa dua Twin Pioneer. Penggunaannya juga tidak lama, tipe pesawat ini akhirnya tersisih saat armada de Havilland DHC-6 Twin Otter mulai hadir memperkuat MNA pada tahun 1967.(Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)