Dalam jurnal Wings of Fame Volume 5 terdapat profil Douglas A-4 Skyhawk yang digunakan operator selain Amerika Serikat, Indonesia merupakan salah satunya.

Jurnal tiga bulanan yang berisikan pesawat tempur klasik ini menampilkan dari halaman 134 s/d 145 seluruh varian ekspor A-4 Skyhawk, digunakan oleh negara Argentina dan Indonesia, termasuk varian tambahan yang akhirnya tidak dikembangkan lebih lanjut.

Khusus untuk Indonesia, di halaman 144 menceritakan TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) yang memesan varian versi E dan versi latih TA-4H pada bulan November 1973 untuk dua skadron. Pesawat pesanan ini tidak diperoleh langsung dari Amerika Serikat sebagai negara pembuat, melainkan dari Israel sebagai surplus peralatan perang.

Karena kontroversial membeli dari negara Israel yang dianggap sebagai penjajah Palestina, pemerintah Orde Baru dan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) tutup mulut dan merahasiakan kenyataan sebenarnya dari mana mendapatkan pesawat serang nan tangguh ini. Sumber yang ada pasti menyebutkan diekspor dari Amerika Serikat dan baru dibuka pelan-pelan pasca reformasi lewat kisah beberapa mantan pilotnya.

Wing-of-Fame-1
Cuplikan halaman 144 yang berisi Douglas A-4 Skyhawk varian ekspor yang dibeli oleh TNI-AU sebanyak dua skadron atau 32 unit, 30 unit kursi tunggal dan sepasang kursi ganda/latih.

Padahal kalau ditelaah lebih lanjut, ciri-ciri fisik A-4 versi Israel memang tidak bisa ditutup-tutupi. Hanya Skyhawk versi Israel yang memasang tailpipe memanjang dan meriam DEFA kaliber 30 mm. Dalam publikasi tahun 1996 ini selain mengungkapkan bahwa Skyhawk ini adalah eks Israel, ditampilkan konfigurasi lengkapnya, di mana beberapa peralatan elektronik di punggung pesawat dan radar di hidung telah dilucuti sehingga dianggap layak ekspor oleh Pentagon.

Wing of Fame dan “saudaranya” World Air Power (Baca : World Air Power : Kekuatan Udara Indonesia Awal Tahun 1990-an) memang jurnal yang tidak berumur lama, hanya lima tahun dan tutup pada bulan Desember 2000 setelah menerbitkan sampai 20 edisi. Distributornya di Amerika Serikat, AIRtime bertekad meneruskan jurnal yang diterbitkan sangat apik ini dengan nama International Air Power Review sejak Mei 2001. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)