Ini adalah secuil kisah Garuda Irian Barat melaksanakan SAR (Search Air Rescue) saat salah satu pesawat miliknya mengalami kecelakaan di Sungai Agats pada bulan Januari 1963. Kutipan kisah nyata ini dimuat di buku biografi Capt. M. Syafei : 37 Tahun Pengabdian Penerbang.

Saat bertugas di Garuda Irian Barat ada sebuah kejadian yang paling mendebarkan hati saya yaitu terjadinya kecelakaan pesawat di sungai Agats di daerah selatan Irian Barat dalam kampanye anti-kolera dari UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority).  Pesawat yang digunakan adalah pesawat sea plane Beaver yang diterbangkan oleh Captain Arifin Binoe dan Captain Wuryono. Penumpangnya adalah bapak mantri kesehatan yang bertugas memberi suntikan anti kolera kepada penduduk atas perintah UNTEA.

Berita itu dikonfirmasikan oleh seorang penerbang asing dari penerbangan missi (missionaris) yang sengaja mampir di kantor Garuda Irian Barat di Hotel t’Rift. Dia memberikan laporan bahwa telah melihat dari udara, pesawat Beaver telah melakukan ditching/mendarat darurat di air di sungai Agats. Dilaporkan juga kedua penerbang dan penumpangnya selamat dan sedang dirawat di pos missi yang terletak beberapa jam perjalanan dengan perahu kecil dari tempat kecelakaan.

SAR-di-Sungai-Agats-1Pimpinan Garuda Irian Barat, Capt. M. Syafei berpose di samping Sea Beaver di pangkalan laut (sea base) Biak-Mokmer. Garuda Irian Barat adalah nama baru de Kroonduif setelah diambil alih oleh pihak Indonesia (Baca : NNGLM De Kroonduif, Membuka Jalur Udara di Papua), tampak tas teknisi masih berlogo KLM.

Segera saya dan kru lepas landas dengan pesawat Beaver untuk mengadakan operasi SAR ke lokasi kecelakaan yang letaknya belum kami diketahui dengan pasti. Tak lupa saya membawa beberapa slof rokok sigaret untuk menarik simpati dan bantuan penduduk setempat yang terkenal sangat menyukai rokok sigaret.

Kami terbang rendah menelusuri sungai Agats dari pantai selatan Irian Barat ke arah utara jauh ke pedalaman. Rasanya cukup lama juga kami terbang berbelok-belok mengikuti liku-liku sungai seperti ular besar di hutan belantara pantai selatan yang berawa-rawa. Akhirnya kami sampai juga di lokasi kecelakaan dan dari udara kami melihat sisa-sisa reruntuhan pesawat nampak separuhnya terbenam dalam sungai dan dikerumuni oleh puluhan penduduk setempat yang nyaris tanpa busana. Dari laporan penerbang missi sebelumnya pula, saya telah mendapat informasi bahwa penduduk asli setempat sudah terbiasa berhubungan atau berkomunikasi dengan orang pendatang.

Namun perasaan was-was tetap terasa karena watak penduduk asli di sana belum sepenuhnya kami kenal. Oleh karena itu saya sengaja mendarat agak jauh ke hilir. Setelah mendarat di air, saya lalu bergerak perlahan-lahan, taxiing dengan mengarahkan pesawat menuju ke lokasi. Lega rasanya karena dari kejauhan ternyata penduduk nampak melambaikan tangan membalas lambaian tangan kami. Kami menambatkan pesawat dengan mesin tetap dinyalakan sebagai langkah persiapan untuk segera lepas landas jika situasi berubah menjadi gawat.

Setelah turun, saya dan crew menyebarkan dan melemparkan rokok sigaret ke arah penduduk asli setempat yang segera ramai-ramai terjun berenang untuk memperebutkannya. Dengan cepat namun seksama, kami mengidentifikasi pesawat Beaver yang ekor dan sayapnya telah terlepas dari badannya. Sebab-sebab terjadinya kecelakaan dicoba untuk dianalisis berdasarkan perkiraan yang dikemukakan oleh penerbang missi, yaitu kemungkinan pesawat terjungkal ketika pelampung (float)-nya menyentuh air dan menabrak batang pohon jenis sambesi yang banyak mengambang di bawah permukaan sungai. Memang daerah sungai itu adalah daerah yang belum dikenal sama sekali oleh penerbang kami terutama menghadapi bahaya tersembunyi dari batang pohon yang tak terlihat itu.

Permintaan UNTEA untuk menyewa (charter) pesawat untuk terbang ke lokasi ini sebelumnya berkali-kali saya tolak karena para penerbang kami tidak familiar dengan wilayah sungai itu, tapi UNTEA tetap memaksa karena tidak ada jalan lain untuk mencapai tempat itu dengan cepat guna menangkal epidemi penyakit kolera di daerah pedalaman.

Setelah pemeriksaan dirasakan cukup, saya bergegas menggerakkan pesawat perlahan-lahan, taxiing kembali mengikuti arus sungai ke arah hilir. Alhamdulilah, tak lama dari kejauhan telah nampak beberapa orang misionaris melambai-lambaikan tangan kepada kami. Kami segera menambatkan pesawat dan turun ke darat, menemui Captain Arifin Binoe, Captain Wuryono, dan bapak mantri kesehatan di perumahan missi yang sangat sederhana. Kami bersalaman dan berangkulan penuh haru sambil menyampaikan terimakasih yang tak terhingga kepada para karyawan misi yang telah berjasa luar biasa memberikan pertolongan dan perlindungan kepada kru pesawat kami.

Kisah yang saya dengar dari Captain Arifin Binoe dan Wuryono sangat mengharukan terutama betapa mencekam perasaan mereka pada waktu tenggelam dalam air sungai berwarna kekuningan, berusaha tergesa-gesa dan agak panik mencari pintu keluar dari kokpit yang penuh tumpahan oli hitam pekat. Captain Wuryono bahkan hampir saja kehabisan nafas ketika menyelam kembali untuk mencari bapak mantri kesehatan yang masih terjebak di dalam kabin pesawat.

SAR-di-Sungai-Agats-2
Capt. M Syafei bersama kru Garuda Irian Barat lainnya sedang “berlayar” di perairan Biak-Mokmer. Kru pilot Garuda Irian Barat memang berasal dari GIA (Garuda Indonesian Airways), situasinya berbeda karena ini adalah layanan perintis dan medan Papua sangat menantang secara logistik dan operasional penerbangan. Walaupun sudah berhati-hati sekalipun kecelakaan tetap tidak terhindarkan, salah satunya terjadi di Sungai Agats.

Akhirnya semuanya dapat naik ke permukaan air dan berenang ke darat. Lebih mencekam lagi saat mereka duduk di dalam perahu kecil yang dikayuh oleh dua orang penduduk asli setempat bersenjatakan tombak terhunus selama kurang lebih tiga jam perjalanan menuju ke arah hilir, menuju ke pos missi. Sungai Agats di tengah hutan belantara yang sungai sepi seakan menjadi saksi bisu dari peristiwa yang tak akan kami lupakan !

Tak kurang hebatnya adalah tersedianya bahan bakar di tempat missi tersebut, padahal letaknya jauh terpencil di tengah hutan belantara di tepi sungai Agats ! Kami juga mendapat bantuan mengisi kembali bahan bakar. Setelah berpamitan, kami lepas landas dari sungai Agats menuju Biak. Terimakasih kami ucapkan dengan setulus hati kepada para pejuang missi, semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal atas jasa-jasanya, Amin. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)