Gijsbertus “Gijs” Petrus Küller merupakan pilot pionir (aviator) yang berhasil terbang pertama kali di Hindia Belanda dan juga Malaya (Malaysia).

Gijs Küller lahir di Loenen aan de Vecht, Utrecht pada tanggal 28 Juni 1881. Anak dari Jacobus Abraham Anthonie Küller dan Caroline Wilhelmina Jäger ini menjadi insinyur mesin lebih dulu sebelum berminat menjadi pilot.

Awalnya belajar terbang dengan pesawat layang sebelum mengikuti kursus terbang dengan pesawat bermotor di Mourmelon-le-Grand, Perancis. Kepiawaiannya sekaligus keahliannya sebagai ahli mesin, menarik perhatian pabrik Antoinette. Setelah lulus dan mendapat brevet Aero Club de France No.46 pada tanggal 5 April 1910, Küller bekerja sebagai tes pilot sekaligus instruktur terbang di Antoinette. Tapi setelah lima bulan bekerja, dia mengundurkan diri untuk mengejar karir sebagai aviator, mendemonstasikan terbang dengan upah yang sangat tinggi walaupun resikonya kematian.

Walaupun sudah bukan pegawai Antoinette, Küller masih berhubungan dengan pabrik tersebut karena dengan pesawat andalannya Antoinette VII yang dimodifikasi olehnya dengan mesin yang lebih andal dan bertenaga membuat namanya terkenal di Eropa, sekaligus mempromosikan tipe pesawat ini untuk dijual.

Di Molenheide, Belgia, dia mendemonstraskan kemampuan terbangnya di hadapan ENV (Eerste Nederlandsche Vliegvereeniging), organisasi penerbangan pionir Belanda pada tanggal 30 Oktober 1910. Dari sini, Küller tidak lama kemudian melakukan demo terbang lagi, diundang saat pembukaan dua lapangan terbang pertama di Belanda, Soesterberg dan Ede.

Karena prestasinya inilah, Küller dikenal oleh masyarakat Belanda, termasuk Hindia Belanda juga. Tidak heran NIVvl (Nederlandsch-Indische Vereeniging voor Luchtvaart) dengan dukungan uang dari pemilik pabrik dan perkebunan gula Hindia Belanda, memintanya mendemonstrasikan kemampuannya di Surabaya, sebagai awal tur di Pulau Jawa, Sumatra, dan bahkan Malaya.

Dengan membawa dua unit Antoinette VII (Baca : Antoinette VII, Pesawat Pertama yang Terbang di Langit Nusantara) andalannya, Küller tiba di Pelabuhan Perak dan pada tanggal 18 Maret 1911, Küller melakukan uji lepas landas dan mendarat dari lapangan Pasar Toeri, Surabaya. Tiga kali penerbangan dilakukan dengan berputar-putar di atas kota. Sebuah pemandangan menarik bagi ribuan mata orang yang belum pernah sekalipun melihat pesawat terbang. Jalanan Surabaya sampai macet. Praktis demo penerbangan Küller ini tercatat sebagai orang pertama yang terbang dengan wahana terbang heavier than air di Hindia Belanda.

Sukses di Surabaya menyusul ke Semarang selama tiga hari, diikuti Yogyakarta selama tiga hari pula. Rencana Küller mendemonstrasikan terbang di Batavia dan Bandung terpaksa dilewatkan karena wabah kolera. Dia segera menyeberang ke Sumatra dan beraksi selama lima hari di Medan. Berikutnya Küller dengan kapal berlayar ke Malaya dan melaksanakan demo terbang di Penang, Ipoh, dan Kuala Lumpur. Setelah itu dia kembali ke Jawa, menuntaskan jadwal terbang periode Juli-Agustus di Batavia, Bandung, dan terakhir di Solo.

Pada tanggal 7 November 1911, Küller pulang ke Belanda. Pesawatnya  sengaja ditinggal di Hindia Belanda untuk dijual dan dimanfaatkan untuk kepentingan sipil maupun militer, namun hal itu tidak terjadi karena dinilai sudah ketinggalan zaman.

Küller masih menjadi aviator sampai memutuskan pensiun terbang pada 1915 karena masalah kesehatan. Dia sempat pergi ke Amerika Serikat dan menikah dengan Elsa Grace Pickhardt di New York sebelum kembali ke Belanda pada tahun 1920. Saat Perang Dunia II, dia hidup berpindah-pindah sampai menetap di Helvoirt dan wafat pada tahun 1959. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)