Salah satu pesawat komersial yang sempat menghiasi langit Indonesia awal tahun 1970-an adalah tipe Vickers Vanguard. MNA (Merpati Nusantara Airlines) menjadi salah satu operator domestik “adik” dari Vickers Viscount ini.

Vickers Vanguard merupakan pengembangan lebih lanjut dari Vickers Viscount dengan modifikasi badan pesawat sehingga punya ruang kargo yang lebih besar dan dipasang mesin yang lebih kuat. Sayang Vanguard yang terbang perdana pada bulan Januari 1959 ini gagal menyaingi penjualan Viscount karena era kejayaan pesawat turboprop bermesin empat telah berakhir, digantikan oleh pesawat komersial bermesin jet.

MNA mengoperasikan setidaknya sembilan unit Vanguard, lainnya adalah Indonesia Angkasa Civil Air Transport yang hanya memiliki dua unit. Bersama-sama Viscount yang juga dioperasikan, Vanguard digunakan MNA untuk melayani kota-kota besar di Indonesia termasuk dalam iklan yang dimuat di majalah Angkasa No. 1 Tahun 1972 yaitu ke Medan sebanyak tiga kali seminggu. Tentunya jadwal ini bukan apa-apa bagi maskapai domestik saat ini yang minimal bisa melayani 7-8 penerbangan sehari ke Medan (Kualanamu) dari Jakarta.

Iklan-Vanguard-MNA-1

Iklan yang masih menggunakan ejaan lama ini selain mempromosikan layanan penerbangan menggunakan Vanguard, juga memuat jadwal rute ke Bandara Polonia dari Bandara Kemayoran. Sebagai catatan, kantor MNA di iklan itu tertulis di Jalan Patrice Lumumba. Dia adalah pejuang kemerdekaan asal Kongo yang namanya diabadikan sebagai nama jalan oleh Presiden Soekarno setelah dibunuh tahun 1961. Nantinya nama jalan itu diganti menjadi Jalan Angkasa karena Lumumba dianggap sebagai tokoh beraliran kiri yang tidak disukai oleh pemerintah Orde Baru.

Vanguard dan Viscount sebenarnya bukan pesawat yang populer di Indonesia, di MNA sendiri peran kedua pesawat ini segera digantikan oleh Fokker F27 serta pesawat jet Fokker F28 dan Douglas DC-9 saat MNA digabungkan dengan GIA (Garuda Indonesia Airways) pada akhir tahun 1970-an. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)