Engine failure saat terbang merupakan kejadian yang sangat fatal, ini terjadi pada salah satu mesin pesawat angkut Lockheed C-130B Hercules beregistrasi T-1311 milik Skadron 31 TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) pada tanggal 8 November 1979. Kisah ini telah ditulis dalam artikel berjudul “Well Done”, dimuat di majalah Angkasa Edisi Januari-Februari 1980 dan ditulis ulang untuk para pembaca Aviahistoria.

Penerbangan Hercules pada siang hari menjelang sore itu sebenarnya merupakan penerbangan pulang rutin yang dilakukan oleh captain pilot Mayor (Pnb/Penerbang) Maksum Harun dan kopilot Mayor (Pnb) R.A. Aden dengan rute kembali dari Kodau (Komando Angkatan Udara) VII/Biak menuju Pattimura, Ambon, lalu singgah di Juanda, Surabaya, dan terakhir Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Sekitar 20 menit sebelum mendarat di Surabaya, tiba-tiba saja ada ledakan keras di mesin no.4 dengan diikuti yawning effect ke arah kanan yang cukup kuat dan lampu Fire Warning Light untuk Engine No.4 menyala dengan status Steady. Mengejutkan karena tidak ada tanda-tanda sebelumnya baik suara maupun visual yang mendahuluinya.

Kru T-1311 yang mengalami kejadian engine no.4 failure pada tanggal 8 November 1979 rute Ambon-Surabaya.

Ketenangan kru diuji dalam penerbangan ini. Segera saja prosedur dilakukan sesuai manual yaitu segera mematikan mesin no.4 sekaligus feather engine dengan Emergency Engine Shut Down Procedure yaitu dengan langkah pertama melaksanakan prosedur Engine Condition Lever No. 4 – Feathered.

Sayang langkah pertama gagal, baik mesin maupun baling-baling terus berputar dan masih hidup. Untuk itu dengan cepat dilakukan langkah kedua, melaksanakan prosedur Fire Emergency Control Handle No.4 – Pulled. Langkah ini ternyata berhasil, mesin mati dan baling-baling berhenti berputar dalam kondisi feathered.

Berikutnya seluruh kru mengerjakan checklist dalam kondisi darurat dan terus terbang menuju Surabaya dengan menggunakan tiga mesin. Walaupun Hercules dapat terbang dengan aman hanya dengan tiga mesin, tapi tetap seluruh kru bersiap jika ada mesin lainnya yang mengalami failure. Untungnya asumsi buruk itu tidak terjadi. Pesawat akhirnya berhasil mendarat dengan mulus di Juanda walaupun harus diinapkan di Surabaya untuk keperluan penyelidikan dan perbaikan.

Saat penyelidikan oleh teknisi itulah  ditemukan fakta bahwa ledakan terjadi pada First Stage Turbine Inlet Casing dan menimbulkan kerusakan berat pada bagian penting di antaranya : empat dari tujuh Arm Engine Mount Thrust Assembly patah, Engine Condition Lever Cables putus seluruhnya, dan Electrical Cable terbakar seluruhnya.

Dengan putusnya Engine Condition Lever Cables maka dengan sendirinya sistem ini tidak dapat berfungsi atau langkah pertama yang dilakukan kru T-1311 tidak berhasil. Langkah kedua yang sistemnya masih mengandalkan arus listrik berhasil mematikan Engine No.4 walaupun semua Electrical Cable sedang terbakar. Ini sebuah keberuntungan, bila terlambat beberapa detik saja, sistem listrik ini tidak dapat berfungsi dan akibatnya mesin yang bermasalah itu tidak berhasil dimatikan.

Bila tidak berhasil dimatikan, getaran dari mesin dan baling-baling dapat mematahkan seluruh Arm Engine Mount Thrust Assembly dan akhirnya mesin lepas dari dudukannya, pesawat menjadi unbalanced, dan kemungkinan baling-baling dari Engine No.4 yang masih berputar itu dapat mengenai sayap, membocorkan saluran hidrolik dan bahan bakar sehingga timbul kebakaran di sayap. Semua hal ini pastinya membuat pesawat mengalami kecelakaan fatal. Tapi segala kemungkinan buruk itu tidak terjadi berkat kesigapan kru T-1311 dalam menghadapi kondisi darurat dengan cepat dan tepat sesuai prosedur.

Foto bersama kru T-1311 dengan Panglima Koptadara Marsda Aried Riyadi dan Komandan Skadron 31 Letkol (Pnb) Jusman Tahar.
Foto bersama kru T-1311 dengan Panglima Koptadara Marsda Aried Riyadi dan Komandan Skadron 31 Letkol (Pnb) Jusman Tahar.
Penghargaan dari pimpinan Lockeed-Georgia Company sebagai pembuat Hercules.
Penghargaan dari pimpinan Lockeed-Georgia Company sebagai pembuat Hercules.

Berita tentang kejadian ini segera sampai ke Pangkoptdara (Panglima Komando Paduan Tempur Udara) Marsda (Marsekal Muda) Aried Riyadi dan Komandan Skadron 31 Letnan Kolonel (Pnb) Jusman Tahar. Mereka bahkan menyempatkan untuk terbang ke Surabaya untuk bertemu kru pimpinan Mayor (Pnb) Maksum Harun ini, saling bertukar cerita, dan berfoto bersama. Nantinya mereka diberi surat penghargaan khusus dari KSAU (Kepala Staf Angkatan Udara) Marsekal Ashadi Tjahjadi dan pimpinan Lockheed.

T-1311 menurut sejarahnya merupakan salah satu dari tiga unit Hercules yang hadir saat awal pemerintahan Orde Baru sebagai hibah Amerika Serikat dan merupakan bekas pakai USAF (United States Air Force). Nantinya registrasi T (Transport) diganti menjadi A (Angkut). Saat ini A-1311 masih aktif menjadi kekuatan Skadron 31 Angkut Berat yang bermarkas di Halim Perdanakusuma, Jakarta. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)