Untuk tipe AOV, PT Chandra Dirgantara membangun dua unit drone dari bahan alumunium, dengan salah satu berukuran lebih kecil sebagai prototipe pertama untuk uji terbang dan bermesin dari pesawat ultralight. Keduanya dibuat di rumah Suharto di Ampera, Kemang, tempat yang sama pembuatan mock-up XT-400 dan replika Cureng dan Cukiu untuk keperluan film (Baca : Membangun Replika Cureng dan Guntei untuk Film Serangan Fajar).

Drone berukuran kecil yang disebut RS-3100 diuji coba terbang untuk pertama kalinya di lapangan terbang Pondok Cabe pada tahun 1985. Tahun berikutnya drone berdesain twin boom ini lepas landas dan terbang dihadapan pejabat Dislitbang di lapangan terbang Rumpin.

Dua drone AOV pesanan TNI-AD di Ampera.Dua drone AOV pesanan TNI-AD di Ampera, rumah kediaman Suharto. Paling kiri berukuran kecil untuk uji terbang, yang lebih besar direncanakan sebagai model produksi.

Persiapan terbang bagi drone RS-3100.Persiapan terbang bagi drone RS-3100 (versi kecil). Tampak para kru sedang mendorong drone ke landasan pacu di Pondok Cabe.

RS-3100 berhasil terbang dengan sukses di Pondok Cabe.RS-3100 berhasil terbang dengan sukses di Pondok Cabe pada tahun 1985. Merupakan langkah awal bagi Indonesia membuat drone secara mandiri.

RS-3100 terbang di Rumpin disaksikan pejabat Dislitbang TNI-AD pada tanggal 7 November 1986.RS-3100 terbang di Rumpin disaksikan pejabat Dislitbang TNI-AD pada tanggal 7 November 1986.

Sebelum kedua tipe drone ini nantinya resmi diserahkan kepada TNI-AD, PT Chandra Dirgantara memberikan program pelatihan kepada calon operatornya. Sebanyak 15 bintara dari Kesatuan Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) berlatih dengan menggunakan pesawat aeromodelling tipe Falcon di lapangan Cilangkap pada tahun 1986.

Mereka berlatih mengecek RC, keseimbangan (balancing) pesawat, dan menjalankan pesawat di darat (taxiing) sebelum lepas landas. Setelah itu mereka juga diajari cara merakit, menyalakan mesin, dan pengendalian pesawat di udara lewat RC.

Pelatihan merakit pesawat RC Falcon bagi bintara TNI-AD di Cilangkap.Pelatihan merakit sayap pesawat RC (Remote Control) Falcon bagi bintara TNI-AD di Cilangkap.

Pelatihan pengoperasiaan RC dan taxiing oleh bintara TNI-AD.Pelatihan pengoperasian pesawat latih RC, uji coba pengendali dan taxiing oleh para bintara TNI-AD.

Sayang pemanfaatan drone di TNI-AD pada tahun-tahun berikutnya terhenti. Suharto sebagai pimpinan proyek ini saat diwawancara penulis juga tidak tahu detail perkembangan selanjutnya karena sudah mengundurkan diri dari PT. Chandra Dirgantara, berangkat ke Amerika Serikat untuk proyek ambisius lainnya, membangun pesawat latih jet berteknologi komposit !

Diperkirakan akibat pergantian pejabat di Dislitbang membuat proyek drone di TNI-AD dihentikan. Sisa-sisa drone yang dibuat tidak ada bekasnya, hanya satu yang tersisa—dalam kondisi rusak, menyisakan badan tanpa hidung, bagian ekor dan separuh sayap—yaitu drone AOV berukuran kecil, sebelumnya disimpan di bengkel Universitas Pancasila namun kini dititipkan di Universitas Dirgantara Suryadi Suryadarma, kampus tempat Suharto mengabdi menjadi dosen teknik penerbangan. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)