Kemampuan kapal selam yang dapat menyerang dari kedalaman secara diam-diam, menjadi momok bagi angkatan laut seluruh dunia. Tak terkecuali TNI-AL (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Laut) yang sejak lama berinvestasi dalam perang anti kapal selam demi melindungi armada kapal perangnya.

Penerbal (Penerbangan TNI Angkatan Laut)—sekarang disebut Dispenerbal (Dinas Penerbangan TNI Angkatan Laut)—yang dibentuk pada tahun 1956 memang tugas utamanya sebagai mata dan perpanjangan tangan kapal perang. Walaupun telah memiliki satu skuadron Fairey Gannet, namun pesawat tambun yang dipersenjatai torpedo dan bom bawah laut ini memiliki kekurangan menemukan dan mendeteksi kapal selam, apalagi operasionalnya masih mengandalkan pangkalan darat. Dibutuhkan helikopter AKS (Anti Kapal Selam) yang dapat lepas landas dan mendarat di atas kapal perang.

Untuk itulah akhir tahun 1963, ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia, nama lama TNI-AL era Orde Lama) resmi mengoperasikan helikopter Mil Mi-4 “Hound” buatan Uni Soviet dan menjadi kekuatan Skuadron 400. Helikopter sebanyak 14 unit ini, 9 di antaranya adalah versi AKS, dilengkapi pelampung pendeteksi kapal selam dan bom bawah laut.

westland-wasp-TNI-AL-1
Dispenerbal memiliki 10 unit Westland Wasp eks Royal Navy sebagai bagian pembelian kapal fregat kelas Tribal dan Van Spijk pada tahun 1981.

westland-wasp-TNI-AL-2Wasp tergolong helikopter AKS generasi pertama dan menjadi sistem senjata integral armada kapal perang milik TNI-AL.

Karena embargo suku cadang dari Uni Soviet, penggunaan “Hound” dihentikan pada tahun 1970. Cukup lama TNI-AL tidak memiliki helikopter AKS sampai akhirnya pembelian kapal fregat eks AL Belanda dari kelas Tribal dan Van Spijk memungkinkan hal itu lagi. Sebanyak 10 unit Westland Wasp bekas pakai Royal Navy dan AL Belanda diperoleh tahun 1981 sebagai satu paket pembelian kapal,

Dari sisi teknologi memang sudah ketinggalan zaman, Wasp yang saat itu dioperasikan rata-rata sudah berumur 20 tahun, ditambah lagi tidak dilengkapi peralatan sonar seperti yang dipasang pada pesawat GAF N22 Nomad (Baca : Si Penggembara Lautan Nusantara).

Mau tak mau helikopter bermesin turboshaft Rolls Royce Nimbus ini mengandalkan kapal perang untuk mendeteksi dan memburu kapal selam. Segera setelah kapal perang mendeteksi sasaran yang diduga kapal selam, Wasp segera diterbangkan ke titik sasaran. Dari atas, helikopter berkaki empat—sehingga stabil lepas landas dan mendarat di helipad kapal perang—ini dapat menjatuhkan bom bawah laut atau torpedo Mk.46.

westland-wasp-TNI-AL-3
Foto Wasp di Lanudal (Pangkalan Udara Angkatan Laut) Juanda, Surabaya ini dimuat di Majalah Angkasa No. 10 Juli 1998. Pada tahun yang sama pula helikopter ini dipensiunkan.

westland-wasp-TNI-AL-4Saat beraksi, Wasp dapat membawa dua misil anti kapal Aerospatiale AS-12 atau empat unit bom bawah laut F-20 atau dua torpedo Mk.44 atau satu torpedo Mk.46 seperti pada foto.

Beberapa operasi militer yang melibatkan Wasp di antaranya adalah Operasi Seroja, Eskander Nusantara, Gugus Tugas Armada Timur-Barat, pengamanan manusia perahu asal Vietnam, dan pelaksanaan penyekatan perairan di wilayah Aceh dan Papua dalam menghadapi separatis bersenjata.

Sama seperti “Hound”, Wasp tidak lama beroperasi karena suku cadang langka dan umur pesawat sudah mendekati akhirnya. Pada tahun 1998, tepatnya satu hari setelah HUT (Hari Ulang Tahun) Dispenerbal, Wasp resmi dipensiunkan. Fungsi AKS dialihkan ke NBO-105 walaupun tentunya sangat terbatas kemampuannya karena tidak dipersenjatai torpedo dan bom bawah laut. Dispenerbal dan Skuadron 400 lagi-lagi menunggu waktu lama mendapatkan helikopter AKS sampai akhirnya mengoperasikan Eurocopter AS565 Panther pada bulan Oktober 2017. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)