Awal perkembangannya, Lion Air sempat mengandalkan pesawat badan lebar (wide body) Airbus A310-300 untuk melayani rute gemuk Jakarta-Medan pp. pada tahun 2001.

Begitulah kira-kira makna tersurat dari iklan yang dimuat di Majalah Angkasa No. 1 Oktober 2001 ini. Lion Air yang kini menjadi maskapai terbesar kedua di Indonesia setelah Garuda Indonesia, mengawali bisnis LCC (Low Cost Carrier) miliknya pada pertengahan tahun 2000 dengan mengoperasikan dua unit Boeing 737-200 yang kemudian ditambah dua unit lagi.

Berikutnya Lion Air menambah armada dengan mendatangkan pesawat bermesin tiga, Yakovlev Yak-42D sebanyak empat unit, disewa berikut pilotnya. Sebuah keputusan berani karena mengoperasikan pesawat penumpang dari bekas Blok Timur yang sudah dikenal tidak efisien. Kehadiran dua unit A310 juga merupakan simbolisasi keberanian berikutnya  karena sebagai pemain baru tidak takut menghadapi momok yang selalu dihadapi bila mengoperasikan wide body yaitu overcapacity.

Iklan-Lion-Air-A310-Jakarta-Medan-1

Penggunaan pesawat badan lebar seperti A310 sepertinya biasa saja pada awal milenium bagi maskapai baru tumbuh di Indonesia pasca reformasi (Baca : Airbus A310, Si Badan Lebar Andalan Maskapai Baru). Tampaknya Lion Air mengoperasikan dua unit pesawat yang disewa dari Region Air ini sebagai batu loncatan semata.

Tidak lama Lion Air mengoperasikan A310, kira-kira hanya dua tahun saja. Selain untuk melayani Jakarta-Medan pp., maskapai berlogo singa terbang ini sempat menggunakannya untuk rute Jakarta-Taipei (via Hongkong) sebelum digantikan dengan McDonnell Douglas MD-82. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)