KOPELAPIP dibubarkan karena dianggap sebagai proyek mercusuar Soekarno dengan lindungan AURI yang dituduh terlibat G30S. Nasib KOPELAPIP selanjutnya adalah diambil alih oleh TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara, nama baru AURI), berganti nama menjadi PT. Chandra Dirgantara yang nantinya pada awal 1970-an mengembangkan pesawat latih LT-200 dan mendesain pesawat komuter tujuh penumpang, XT-400 (Baca : Swadaya Pesawat Latih yang Gagal – LT-200 Skytrainer dan LAPAN XT-400, “Kakak Tiri” N219 yang Terlupakan).

Sedangkan nasib pendiri dan penanggungjawab KOPELAPIP sama seperti korban politik Orde Baru lainnya. Omar Dhani lewat pengadilan militer dituduh terlibat dalam G30S dan dipenjara seumur hidup. Baru dibebaskan pada tahun 1995, meninggal pada tahun 2009 dan dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Jeruk Purut, Jakarta Selatan.  Kusrini sebagai pencetus ide awal KOPELAPIP diturunkan pangkat satu tingkat lewat apel militer dan sempat dipenjara. Karena tidak bisa membuktikan terlibat G30S, malah terkena fitnah korupsi, dan walaupun direhabilitasi tahun 1974 oleh pemerintah Orde Baru, kekayaan dan aset keluarganya disita oleh pengadilan. Kusrini meninggal pada tahun 1991 dan dimakamkan di Prumpung, Jatinegara.

Sedangkan Kurwet setelah direhabilitasi tahun 1974 kembali memimpin PT. Immermotors, merakit mobil Nissan/Datsun lewat kerja sama dengan Affan bersaudara, pemilik PT. Indokarya yang memegang keagenan Nissan/Datsun di Indonesia. Sayangnya keuangan perusahaan tidak bagus dan terpaksa menjual pabrik kepada PT. Maspion pada tahun 1989. Kurwet meninggal pada tahun 1995 dan dimakamkan di TPU Karet Bivak.

KOPELAPIP-Fokker-F27-7Press release dari Fokker tentang seluk beluk negosiasi dan akhirnya penandatanganan produksi Fokker F27 di Indonesia. 

KOPELAPIP-Fokker-F27-8Walaupun gagal diproduksi sendiri, Fokker F27 tetap menjadi pesawat angkut yang populer baik untuk sipil dan militer di Indonesia. TNI-AU mengoperasikannya dalam periode lama, dibeli tahun 1976 dan baru dipensiunkan tahun 2012.

Fokker F27 sendiri menjadi salah pesawat legendaris di Indonesia. Visi para pendiri KOPELAPIP ternyata benar adanya terhadap kemampuan pesawat ini, sukses sebagai Dakota Replacement baik di sipil maupun di militer walaupun memang sayangnya tidak berhasil diproduksi sendiri. GIA mengoperasikan 12 unit Fokker F27 pada tahun 1969 sebelum akhirnya seluruhnya digantikan oleh Fokker F28 sebagai perwujudan rencana jetisasi flag carrier ini. Maskapai lainnya yang pernah mengoperasikan Fokker F27 di antaranya adalah MNA (Merpati Nusantara Airlines), Pelita Air Service, Bouraq/Bali Air, dan Sempati Air.  Sedangkan TNI-AU sebagai operator militer satu-satunya Fokker F27 di Indonesia, membeli dan mengoperasikannya pada tahun 1976 sebelum dipensiunkan secara resmi pada tahun 2012.

Sungguh disayangkan sejarah dan tokoh-tokoh KOPELAPIP tampaknya nyaris dilupakan bahkan ingin dilupakan akibat indoktrinasi, penyimpangan, dan menutup-nutupi sejarah sebenarnya oleh pemerintahan Orde Baru. Masyarakat Indonesia lebih cenderung melihat IPTN sebagai industri dirgantara pertama padahal KOPELAPIP sudah melakukannya lebih dulu walaupun keburu gagal akibat politik. Padahal jika KOPELAPIP terwujud betapa hebat pengaruhnya terhadap teknologi high tech yaitu industri penerbangan dan teknologi low tech yaitu industri pertanian/peternakan. Agroindustri bisa maju sambil membantu kemandirian dalam produksi pesawat dalam negeri. Tidak seperti IPTN yang terkesan jalan sendiri, kurang mengajak industri-industri potensial lainnya.

Dua artikel tentang KOPELAPIP sebelumnya sudah dipublikasikan oleh penulis di media cetak yaitu majalah Airliner World Indonesia dan majalah Angkasa. Agar menjangkau pembaca yang lebih luas lagi, penulis sengaja menulis ulang artikel bertema sama dalam format situs ini. Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada Audie Kurwet Kartaadiredja dan Subagio Rasidi Kusrini yang telah memberikan kisah luar biasa perjuangan ayah mereka dalam proyek KOPELAPIP. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)