Bagi setiap maskapai, penerbangan perdana merupakan hal yang paling dinantikan, tidak terkecuali bagi maskapai satu-satunya Hindia Belanda, KNILM (Koninklijke Nederlansch-Indische Luchtvaart Maatscappij).

Cukup lama masyarakat Hinda Belanda bercita-cita memiliki maskapai penerbangan sendiri apalagi keinginan ini terinspirasi dengan perkembangan pesat dunia penerbangan sipil pasca Perang Dunia I. Dengan wilayah luas didominasi lautan, angkutan udara merupakan solusi alternatif yang ideal selain kapal laut.

Militer Hindia Belanda sempat melakukan uji coba mengangkut penumpang dan barang/pos. Salah satunya membuka rute Batavia-Surabaya pp. dengan menggunakan pesawat de Havilland DH-9 berkapasitas satu penumpang. Tiket sebesar 230 gulden sangat mahal sehingga hanya bisa dijangkau oleh pengusaha atau pejabat tinggi. Jika ada perusahaan penerbangan maka harga tiket akan lebih murah, terjadwal, dan semakin banyak orang yang bisa menikmati layanannya.

KNILM-Penerbangan-Perdana-1
Armada KNILM ketika mulai operasional adalah empat unit Fokker Trimotor, lalu kemudian ditambah dua unit lagi. Empat unit di antaranya dilepas terbang menuju Batavia dari Amsterdam pada tanggal 13 September 1928.KNILM-Penerbangan-Perdana-2Vliegveld Cililitan pada tahun 1930-an menjadi pusat KNILM melayani kota-kota Hindia Belanda. Selain itu juga melayani rute Amsterdam-Batavia milik KLM.

Akhirnya cita-cita itu tercapai dengan lahirnya KNILM pada tanggal 16 Juli 1928 dengan dana lima juta gulden dan dukungan 32 perusahaan dan pengusaha Hindia Belanda. Awalnya maskapai ini bernama Nederlansch-Indische Luchtvaart Maatscappij atau disingkat NILM dan agar tidak rancu dengan nama perusahaan asuransi bernama mirip yaitu Nillmij, maka disematkan nama tambahan di depannya Koninklijke (Kerajaan). Nama baru ini diresmikan tanggal 15 Oktober 1928.

Direktur  flag carrier Belanda, KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij), Albert Plesman juga bersedia membantu dan berbagi pengalaman dengan maskapai Hindia Belanda ini. Keterlibatan KLM sering disangka KNILM adalah anak perusahaan dari KLM, tapi itu salah. Diakui banyak mantan pegawai KLM ikut mendirikan KNILM sehingga timbul kesalahpahaman ini. KLM hanya terbatas membantu dalam pengadaan pesawat dan pelatihan awaknya. KLM punya tujuan, dengan kehadiran KNILM, penumpang KLM dari Amsterdam dapat dengan lancar melanjutkan perjalanan ke seluruh kota-kota Hindia Belanda lewat Batavia sebagai pusatnya.

Para pengelola KNILM pada saat didirikan itu adalah H. Nieuwenhuis sebagai Direktur Utama yang berkedudukan di Amsterdam, Th J. de Bruijn sebagai Kepala Administrasi yang berkedudukan di Batavia, Ch. O. Simon (Kepala Pembukuan), M.E.A.L de Jong (Kepala Bagian Niaga) dan satu-satunya orang pribumi, Mohammad Djamro (Sekretaris Perusahaan). Sebagai armada awal, KNILM membeli empat unit Fokker VIIb Trimotor (yang kemudian ditambah dua unit lagi pesawat sejenis), pesawat komersial terkenal waktu itu sekaligus merupakan buatan Anthony Fokker, perancang pesawat kelahiran Blitar (Baca :Fokker Trimotor, Pesawat Pionir Penerbangan Sipil di Hindia Belanda).

Tanggal 13 September 1928 pesawat beregistrasi H-NAFA, H-NAFB, H-NAFC, dan H-NAFD dilepas oleh masyarakat Amsterdam dengan diterbangkan langsung dari Bandara Schipol menuju Cililitan, Batavia. H-NAFB sempat mengalami kecelakaan di Cawnpore (Kanpur), India, tapi lainnya selamat tiba di Batavia. H-NAFB berhasil dievakuasi dan diangkut lewat laut menuju Batavia.

Akhirnya hari bersejarah itu tiba ! Tanggal 1 November 1928 dalam upacara meriah disaksikan oleh ribuan penduduk Batavia, KNILM melakukan terbang perdana ke Bandung (Andir) dan ke Surabaya (Darmo) masing-masing oleh HN-AFA dan HN-AFB. Gubernur Hindia Belanda, A.C.D De Graef secara simbolis meresmikannya dengan menyingkirkan ganjalan roda kiri pesawat HN-AFB tujuan Surabaya. Ganjalan itu merupakan prasasti yang bertuliskan sambutan pembukaan penerbangan pertama KNILM, OP 1 November 1928 opende zijne excellentle gouveneur-general jhr. MR ACD De Graef Deiste Luchtdiensten der KNILM in Nederlandsch-Indie.

KNILM-Penerbangan-Perdana-3H-NAFA tujuan Andir, Bandung dan H-NAFB tujuan Surabaya siap melakukan penerbangan perdana KNILM pada tanggal 1 November 1928.KNILM-Penerbangan-Perdana-4Penerbangan perdana KNILM dihadiri dan diresmikan oleh Gubernur Hindia Belanda, A.C.D De Graef.

Sebenarnya HN-AFB tidak benar-benar terbang ke Surabaya, melainkan hanya sampai ke Semarang (Simongan) ! Dari Semarang, perjalanan dilanjutkan ke Surabaya dengan kereta api. KNILM baru melakukan penerbangan langsung ke Surabaya tepat satu tahun kemudian. Harga tiketnya 90 gulden, jauh lebih murah dibandingkan menggunakan penerbangan eksperimental militer sebesar 230 gulden itu.

Penerbangan perdana ini menjadi awal ekspansi KNILM di Nusantara. Menjangkau hampir semua kota-kota besar di Hindia Belanda sekaligus melayani rute regional manca negara ke Australia dan Asia Tenggara. Masa keemasan KNILM berakhir saat pecah Perang Pasifik pada akhir tahun 1941. KNILM terpaksa bangkrut sekaligus menutup operasionalnya tidak beberapa lama setelah Hindia Belanda dikuasai Jepang pada bulan Maret 1942. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)