KOPELAPIP adalah mega proyek memakan investasi besar, total mencapai lebih dari 400 juta Nf./Nederland florin (US$ 100 juta, kurs tahun 1961 dan inflasi normal). Membeli memang mudah, lebih cepat dan lebih murah, tapi tidak berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri seperti yang dicita-citakan Presiden Soekarno setiap kali berpidato. Untuk itulah digagas penggabungan agroindustri dengan industri penerbangan dengan menggandeng perusahaan swasta (Immermotors/Indonesia Merdeka Motors) dan pemerintah sebagai fasilitator ekspor hasil-hasil pertanian.

Impak dari devisa yang bisa dihemat berkat KOPELAPIP dapat mencapai lebih dari 50%. Fokker F27 yang dimpor utuh/siap operasional atau CAT A harganya mencapai 4,5 juta Nf. (US$ 1,13 juta dollar), dengan adanya CAT E maka harganya turun drastis menjadi 2,4 juta Nf. (US$ 600 ribu dollar) saja ! Ini masih merupakan perhitungan harga per unit berbasis 100 unit pesawat, belum impaknya terhadap agroindustri, industri material, dan industri-industri lainnya yang langsung dan tidak langsung terlibat dalam KOPELAPIP.

KOPELAPIP-A-Roadmap-10
Grafik Socio-Economical Impact of Aero Industry di Indonesia pelaksanaan kategori KOPELAPIP mulai dari CAT A s/d CAT E. Devisa yang bisa dihemat mencapai lebih dari 50% untuk setiap satu unit pesawat (berbasis produksi 100 pesawat).

Roadmap KOPELAPIP yang menjanjikan dan terencana baik ini memang hanya terlaksana di atas kertas, karena faktor politik pergantian pemerintahan membuat KOPELAPIP sebagai proyek mercusuar dan dianggap sebagai peninggalan Soekarno. Sedikit berandai-andai kalau KOPELAPIP terlaksana pastinya luar biasa bila industri penerbangan bersinergi dengan industri pertanian, dan keduanya maju bersama-sama saling mendukung.

Nasib KOPELAPIP menjadi tidak menentu pasca peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, akhirnya TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) mengambil alihnya menjadi PT. Chandra Dirgantara pada awal tahun 1970-an dan terlibat berbagai proyek dirgantara seperti Lipnur LT-200, XT-400, dan pesawat tanpa awak (drone). Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada Suharto, mantan staf teknik KOPELAPIP dan Chandra Dirgantara yang masih menyimpan dengan baik brosur, dokumentasi, grafik, dan perencanaan milik KOPELAPIP sebagai sumber informasi serta untuk direproduksi sebagai ilustrasi di artikel ini. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)