Sementara itu di Sumatra, pertempuran sengit juga terjadi sejak hari pertama. Sebelumnya saat Aksi Polisionil I, Belanda tidak terlalu sukses menguasai target-target penting di Sumatra, kali ini tidak ingin terjadi lagi. Sasaran utama adalah tambang minyak di Djambi dan Rengat dan berikutnya di Telok Betong (Teluk Betung) dan Aer Molek (Air Molek). Untuk pelaksanaan operasi ini dikerahkan Mustang milik Skadron 122 dan Mitchell milik Skadron 18 yang telah ditempatkan di Padang pada tanggal 17 dan 18 Desember. Tugas pertama mereka adalah menyerang lapangan terbang yang dikuasai AURI lalu berikutnya mendukung pasukan darat.

Empat unit pesawat Catalina milik MLD sukses mendaratkan marinir untuk menguasai Danau Singkarak. Pasukan ini juga berhasil mengamankan dua jembatan akses menuju Fort de Kock. Pasukan ini bertambah kuat berkat pengiriman tambahan personil dan logistik dari Medan dan Danau Toba, serta dilindungi dari udara dengan melakukan serangan-serangan dari udara ke posisi TNI termasuk membungkam stasiun radio di Boekittinggi (Bukittinggi).

Operasi-Gagak-6Dakota ML-KNIL mendarat di Maguwo dan melaksanakan jembatan udara Semarang-Yogyakarta. Tampak menara pengawas dan bangunan sekitarnya yang sebagian hancur terkena roket dari Mustang.

Untuk memperkuat posisi, penerjunan pasukan para dilakukan terus sampai ketiga kalinya di atas Djambi pada tanggal 29 Desember dengan dikawal oleh Mustang milik Skadron 121 yang telah digeser posisinya dari Semarang ke Palembang sejak dua hari yang lalu. Tanggal 30 Desember dilakukan lagi pengiriman pasukan dengan menggunakan armada Dakota dan Catalina yang dikawal oleh enam Mustang milik Skadron 122 dari Padang menuju Palembang.

Sementara itu penerjunan pasukan para di Djambi menghadapi kendala awan tebal yang berasal dari kebakaran pipa minyak. Armada Dakota yang berangkat dari Tjililitan (Cililitan) pada pagi hari terpaksa mengalihkan penerbangan dan mendarat di Palembang. Baru pada pukul 13.30 pesawat kembali mengudara dan berhasil menerjunkan pasukan satu jam berikutnya. TNI yang berniat membakar lapangan terbang ternyata tidak berhasil dan dengan cepat diduduki oleh Belanda. Djambi berikut instalasi tambang minyaknya dikuasai Belanda pada tanggal 30 Desember walaupun sebagian jalur pipa minyaknya berhasil diledakan TNI.

Operasi-Gagak-7Djambi ditutupi kabut dan asap tebal karena TNI meledakan pipa minyak sehingga sempat menunda penerjunan pasukan para KST.

Pada tanggal yang sama tugas pengawalan Skadron 121 selesai dan kembali menuju Jawa, sementara Mitchell dari Skadron 18 yang lepas landas dari Tjililitan mendukung pendaratan amfibi di Telok Betong (Teluk Betung). Pada tanggal 3 Januari 1949 pasukan para dikerahkan kembali untuk memperkuat pertahanan Rengat dan Aer Molek karena adanya serangan balasan dari TNI. Skadron 121 terpaksa kembali lagi ke Sumatra dan bersama-sama Skadron 122 dan Mitchell dari Skadron 18 mendukung operasi militer di Aer Molek. Setelah operasi selesai pada tanggal 7 Januari, Mustang dari Skadron 122 ditarik ke Padang lalu kembali lagi ke pangkalan asalnya di Medan. Demikian juga dengan Skuadron 121.

Pada tanggal 8 Januari 1949, Aksi Polisionil II resmi berakhir setelah adanya desakan dan kecaman dari PBB. Pulau Jawa dan Sumatra sudah dikuasai oleh Belanda, tugas ML-KNIL telah lengkap dengan melaksanakan sebanyak 2.403 sorti dan 4.100 jam terbang. Tapi operasi militer ini memakan korban tujuh kru pilot. Skadron 120 yang berkekuatan pesawat tempur uzur Kittyhawk mengalami kerugian paling besar, empat unit hancur  dan satu unit ditembak jatuh di atas Magelang pada tanggal 22 Desember 1948. Sementara itu Skadron 121 kehilangan satu Mustang saat melakukan patroli di atas Gunung Lawoe (Lawu) pada tanggal 23 Desember. Selain itu ML-KNIL kehilangan satu Auster dan satu Piper Cub.

Operasi-Gagak-8PBY Catalina beregistrasi RI-006 milik penerbang Amerika Serikat ini disita oleh pasukan ML-KNIL di Maguwo. Selain itu disita pula beberapa Cureng dan de Havilland DH-86 (RI-008) asal Australia.

Sama seperti sebelumnya walaupun meraih kemenangan besar, dari sisi politis Belanda lagi-lagi kalah mengingat Belanda melakukan aksi militer dan melanggar Perjanjian Renville secara sepihak. Masyarakat Belanda juga sebenarnya tidak sepenuhnya mendukung pendudukan kembali Belanda di koloninya, tidak ada sorak-sorai saat rekaman film penangkapan Soekarno dan jajaran kabinetnya diputar di bioskop. Mungkin di pikiran mereka belum hilang penderitaan masyarakat Belanda saat dijajah Nazi delapan tahun sebelumnya, lantas apa bedanya mereka dengan Nazi ?

Yang pasti perang gerilya antara TNI dan Belanda terus berlangsung serta memaksa kedua pihak kembali berunding oleh PBB lewat Perjanjian Roem-Royen pada bulan April-Mei 1949 sebagai awal dari Konferensi Meja Bundar yang dilakukan pada bulan 23 Agustus-2 November 1949 yang salah satu isinya mengakui kemerdekan dan kedaulatan Republik Indonesia. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)