Tahun 1990-an, saat industri penerbangan Indonesia memusatkan pandangan di Bandung, diam-diam DAI (Derazona Aviation Industry) ikut membangun pesawat terbang walaupun dalam skala kecil.

Tujuan DAI yang berdiri tahun 1994 sebagai anak perusahaan dari Derazona/Deraya, maskapai yang sudah lama berkecimpung di layanan charter pesawat dan helikopter dan tergabung dalam Boedihardjo Group, adalah untuk membangun pabrik pesawat dalam bentuk mini industri.

Tidak megah dan membutuhkan biaya tinggi seperti proyek nasional N250 dan N2130 tapi cukup menjadi sebuah industri kecil/rumahan berbasis teknologi sederhana. Acuannya tentu ke teknologi pesawat swayasa. DAI juga punya impian bahwa proyek ini akan membangkitkan kembali semangat penerbangan umum (general aviation) dan menginspirasi untuk memacu pembangunan pesawat-pesawat eksperimental di Indonesia. Siapa tahu akan hadir pameran udara Oshkosh versi Indonesia ?

dai-made-in-pulo-gadung-1
Dipotret di Pondok Cabe, tiga unit Zodiac CH601HD buatan DAI. Kokpitnya yang berbentuk gelembung membuat pandangan pilot sangat luas ke segala arah.

Dari sisi bisnis, pesawat produksi DAI ini akan digunakan untuk pengembangan bisnis Derazona/Deraya yaitu wisata udara (air venture) yang potensial dan masih sedikit pemainnya. Sebenarnya perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 1970-an ini telah mencoba-coba bisnis ini (Baca : Layanan Beraneka Ragam Derazona Helicopters) namun karena menggunakan helikopter, biaya tiketnya jadi tinggi dan kurang diminati konsumen. Diharapkan pesawat swayasi produksi DAI ini akan menekan biaya operasional sehingga tiket penerbangan untuk wisata udara dapat terjangkau oleh masyarakat.

Selain itu untuk sekolah pilot yang dikelola Derazona/Deraya yaitu DFS (Deraya Flying School), pesawat swayasa ini dapat digunakan sebagai pesawat pendamping siswa untuk uji kecakapan (aptitude test) dan transisi ke pesawat latih Cessna 150 dan 172 yang juga dimilikinya.

dai-made-in-pulo-gadung-2Salah satu Zodiac dipamerkan di padang golf di Bogor sebagai bukti kemampuan STOL (Short Take Off Landing)-nya sekaligus promosi pelatihan pilot dan wisata udara Derazona.

DAI memilih Zodiac CH601HD buatan Zenair (Zenith Aircraft Company), berkapasitas dua orang sebagai basis pengembangan produksi pesawat swayasa karena mudah dan murah diproduksi serta menggunakan mesin piston Rotax 912 yang berbahan bakar bensin. Ditambah lagi populasinya lumayan banyak, sekitar 1.000 unit di seluruh dunia. Total enam pesawat direncanakan dibuat, tiga kit dibeli dari pabrik dan tinggal rakit, sedangkan tiga lainnya dibuat berdasarkan desain gambar (plan).

Seperti layaknya teknologi swayasa, tempat produksinya tidak besar, DAI merakit Zodiac di sebuah gudang di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur. Dalam enam bulan dengan mengandalkan tim perakit sebanyak tiga orang pekerja dan satu pengawas, satu unit berhasil diselesaikan dan dipamerkan di JAS (Jambore Aero Sport) tahun 1994 sebagai debut perdananya.

dai-made-in-pulo-gadung-3Capt. Syarif Hidayatullah ST. sebagai pimpinan DAI sedang bersiap untuk lepas landas dari Halim Perdanakusuma dengan Zodiac beregistrasi PK-DAV. Di belakangnya tampak sebuah Super Rebel beregistrasi PK-SAW yang juga buatan DAI.

Krisis ekonomi 1997/1998 tidak menyurutkan DAI untuk meneruskan target proyeknya membangun enam unit Zodiac, walaupun tidak dipungkiri membuat harga satu unitnya jadi melambung tinggi, dari Rp 125 juta menjadi Rp 500 juta (sudah termasuk biaya pengiriman dan pajak).

Setelah beberapa tahun proyek Zodiac berjalan, DAI menyiapkan proyek berikutnya yaitu merakit pesawat swayasa sayap tinggi (high wing) Murphy SR2500 Super Rebel serta rencana ambisius mendesain membangun dari awal pesawat sayap rendah (low wing) berkapasitas empat tempat duduk bernama DAI-140 Rajawali Muda.