Super Rebel memiliki tampilan dan performa mirip Cessna 172 dan dengan modifikasi dapat digunakan untuk menggantikan atau setidaknya sebagai pesawat pendamping yang harga dan operasionalnya lebih murah daripada Cessna 172, sehingga memungkinkan dijual ke sekolah-sekolah pilot di Indonesia. Pesawat yang sanggup mengangkut 4-5 orang ini menggunakan mesin Lycoming 250 hp yang berbahan bakar avgas.

Sedangkan Rajawali Muda adalah rancangan pesawat kelas ringan bermesin tunggal  yang dapat digunakan selain untuk pesawat latih lanjut juga sebagai taksi udara (air taxi). Tetap dalam tujuan utamanya sebagai pesawat berteknologi sederhana tapi bedanya adalah dengan merancang sendiri dari awal.

dai-made-in-pulo-gadung-4
Murphy Super Rebel yang mirip dengan Cessna 172 merupakan proyek DAI berikutnya. Ada dua unit yang dirakit dan menggunakan mesin Lycoming 250 hp.

Karena tantangan proyek Rajawali Muda lebih rumit dari Zodiac dan Super Rebel, DAI menggandeng konsultan luar yaitu Suharto, dosen teknik penerbangan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma yang berpengalaman dalam proyek LT-200 dan XT-400 (Baca : Swadaya Pesawat Latih yang Gagal – LT-200 Skytrainer dan LAPAN XT-400, “Kakak Tiri” N219 yang Terlupakan) sebagai penyusun desain/rancangan dasar (basic design) berdasarkan kebutuhan pasar (market requirement) dari pesawat kelas ini. Sedangkan untuk perhitungan performa, stabilitas, analisa kekuatan, serta detail komponen diserahkan kepada biro desain pimpinan Alex Supelli dari PT. Dirgantara Indonesia.

dai-made-in-pulo-gadung-5Mock up badan pesawat DAI-140 Rajawali Muda. Pesawat berkapasitas tiga penumpang ini dapat digunakan sebagai pesawat latih, sport, atau taksi udara.

Sayangnya ambisi dan cita-cita DAI untuk memajukan penerbangan umum dan swayasa menemui kendala, khususnya di pendanaan. Enam unit Zodiac dan dua unit Super Rebel sudah dibuat walaupun saat ini sudah tidak dioperasikan lagi—salah satu Zodiac (PK-DAV) disumbangkan untuk alat praktek SMK Negeri 29 Penerbangan, Zodiac lainnya rusak parah terhempas semburan jet pesawat tanker Boeing KC-135 milik USAF (United States Air Force) saat IAS (Indonesia Air Show) 1996. Sedangkan pengembangan Rajawali Muda baru mencapai mock-up badan dan sayap, belum sampai menjadi pesawat seutuhnya apalagi uji terbang.

dai-made-in-pulo-gadung-6Impresi artis (artist impression) dari DAI-140 Rajawali Muda yang dibuat dari render CAD (Computer Aided Design). Desainnya mirip dengan Piper Aztec atau Piper Warrior.

Sedangkan faktor luar yang mempengaruhi adalah Indonesia masih belum pulih dari krisis ekonomi sehingga menyebabkan harga produksi pesawat swayasa jadi naik drastis. Ditambah lagi sektor bisnis wisata udara yang sudah dianggap lazim di negara-negara maju ternyata masih sulit, butuh promosi dan waktu lebih lama untuk dapat meyakinkan konsumen di Indonesia.

Walaupun tidak berhasil, DAI ini setidaknya patut diacungi jempol karena berani keluar modal untuk melakukan terobosan serta melakukan R & D (Research & Development) yang agak jauh dari inti bisnisnya agar perusahaan tidak stagnan sambil terus berusaha mencari peluang-peluang baru. Sebuah usaha yang patut dicontoh dan patut ditiru. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)