Dengan tiga Dakota, RI-001, RI-007, dan RI-009, Indonesian Airways sangat berdikari sebagai sebuah maskapai bahkan penghasilannya dapat disisihkan untuk membayar pendidikan pilot AURI di India, membiayai pendidikan Nurtanio dan Muljono di FEATI (Far Eastern Aero Technical Institute), dan membiayai konsulat Indonesia di Birma, India, dan Pakistan.

penerbangan-perdana-indonesian-airways-5
Pilot Alan Ladmore, istri, dan pimpinan Indonesian Airways, Wiweko Soepono sedang mengecek operasional dan pengangkutan di pesawat Dakota RI-009.

Operasional Indonesian Airways sebenarnya tidak lama, kurang dari dua tahun. Perjanjian KMB (Konferensi Meja Bundar) yang ditandatangani pada bulan Desember 1949 sekaligus mengakhiri konflik Indonesia-Belanda menjadi faktor utama maskapai ini dilikuidasi. Aset utama Indonesian Airways yaitu RI-009 dikembalikan kepada pemiliknya, RI-007 diberikan kepada pemerintah Birma sebagai bentuk ucapan terimakasih, sedangkan RI-001 pulang ke tanah air pada tanggal 3 Agustus 1950. Kru Indonesian Airways kembali menjadi anggota AURI, sedangkan RI-001 diserahkan ke Skadron Angkut 2.

Ini adalah sejarah perjuangan Indonesian Airways yang sebenar-benarnya. Sayang sekali bertahun-tahun kemudian salah satu pendirinya menggabungkan hari penerbangan perdana ini dengan hari kelahiran Garuda Indonesia. Hal yang sangat disayangkan karena merupakan penyimpangan sejarah dan hingga hari ini masih belum diselesaikan. Sepertinya masih jauh Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang menghargai sejarahnya…. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)