Lion Air sebagai operator terakhir Boeing 747-400, resmi mengakhiri penggunaannya pada tanggal 24 Maret 2019, sekaligus pula mengakhiri karir Jumbo Jet di maskapai-maskapai Indonesia.

Maskapai dengan bisnis LCC (Low Cost Carrier), Lion Air memiliki dua unit pesawat badan lebar (wide body) bertingkat dua, Boeing 747-400 eks Oasis Hongkong, PK-LHF dan PK-LHG. Pesawat pertama yang tiba pada tanggal 10 Mei 2009 telah dipensiunkan sekitar tiga tahun yang lalu dan telah dipotong-potong pada awal tahun lalu, direncanakan menjadi restoran di Sumarecon, Bekasi. Sedangkan pesawat kedua yang datang pada tanggal 15 Oktober 2009 resmi dipensiunkan lewat upacara pelepasan (farewell) yang dihadiri oleh pilot, awak kabin hingga teknisinya di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng pada hari Minggu kemarin. Masih belum ada kabar resmi mau diapakan pesawat ini.

Sama seperti Batavia Air, Lion Air mengakusisi Boeing 747-400 untuk melayani penerbangan umroh dan haji, baik lewat Soekarno-Hatta, Polonia dan Kualanamu, Batam, Surabaya, Denpasar, dan Makassar menuju Jeddah dan Madinah. Dengan berakhirnya operasional pada tahun ini berarti selama 10 tahun telah mengabdi di Lion Air yang merupakan operator ketiga “Queen of The Sky” di Indonesia.

Foto-foto upacara pelepasan Boeing 747-400 PK-LHG (klik foto untuk memperbesar)

Operator pertama Boeing 747 adalah GIA (Garuda Indonesian Airways), membeli dari series -200 pada tahun 1980. Berikutnya 14 tahun kemudian membeli series -400 yang lebih canggih, dengan jarak terbang lebih jauh dari “kakaknya” sebanyak tiga unit dan resmi dipensiunkan pada bulan Oktober 2017 (Baca; 23 Tahun Kiprah Boeing 747-400 Garuda Indonesia), sementara series -200 telah dipensiunkan bertahap lama sebelumnya setelah krisis moneter dan pergantian milenium. Operator kedua di Indonesia adalah Indonesian Airlines, mengakusisi dua unit dari series -200 dan -300 untuk musim haji 2003, namun hanya sebentar saja operasionalnya. Rencana untuk melaksanakan penerbangan reguler Jakarta-Jeddah kandas karena maskapai yang lahir pada tahun 1999 ini keburu bangkrut.

Dengan berakhirnya operasional di Lion Air, Jumbo Jet menjadi pemandangan sangat langka di bandara besar di Indonesia. Mungkin masih ada operator asal luar negeri yang menggunakannya seperti Saudi Arabian yang setia melayani rute ke Jakarta/Tangerang dan Surabaya. Boeing 747 merupakan pesawat yang jaya di eranya, namun dengan keempat mesinnya menjadi tidak efisien dengan kehadiran pesawat badan lebar bermesin ganda seperti Boeing 777 dan Airbus A330. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)