Hari ini ML-KNIL (Militaire Luchtvaart-Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) lahir 80 tahun yang lalu setelah beberapa kali melakukan pergantian nama dan re-organisasi. Sebagai sayap dari KNIL, dibentuk untuk melindungi Hindia Belanda dari ancaman dalam maupun luar negeri.

Nama awalnya adalah PVA (Proefvliegafdeling), atau Bagian Terbang Percobaan pada tahun 1914, bermodalkan pesawat latih hydroplane (Baca : Martin TA, Pesawat Militer Pertama yang Terbang di Langit Nusantara) berhasil melakuan penerbangan perdana setahun kemudian di atas Batavia. Selain itu PVA juga merintis membangun lapangan terbang militer pertama di Hindia Belanda, Kalijati.

Sempat mengalami pasang-surut, namun petinggi-petinggi KNIL yakin akan masa depan penerbangan militer, untuk itulah diadakan re-organisasi dan pergantian nama menjadi Bagian Terbang atau VA (Vliegafdeling), menanggalkan kata Percobaan pada 1918. Tapi baru era LA (Luchtvaartafdeling) pada 1921, sayap KNIL ini mengalami kemajuan pesat.

Lahirnya-ML-KNIL-1Setelah Fokker D VII, Curtis P-6 Hawk menjadi tipe pesawat tempur kedua yang dioperasikan LA (Baca : Curtiss P-6 Hawk : Pesawat Tempur Andalan LA-KNIL).

Lahirnya-ML-KNIL-2Pembom Glenn Martin B-10 andalan LA, modern di pertengahan 1930-an tapi ketinggalan zaman saat pecah Perang Pasifik. 

LA memiliki armada pesawat yang cukup modern dengan berbagai tipe mulai dari pesawat tempur, pengintai, angkut, bahkan pembom, selain itu ikut membangun banyak lapangan terbang, tidak hanya untuk kepentingan militer melainkan juga kemajuan penerbangan sipil di Hindia Belanda. LA membangun pula bengkel pesawat di Bandung, melakukan percobaan penerbangan pos dan penumpang, bahkan merintis membangun pesawat secara mandiri.

Agar semakin memantapkan posisinya di kemiliteran, dilakukan organisasi ulang mengikuti Belanda, sehingga ada kemiripan nama, yaitu Militaire Luchtvaart atau Penerbangan Militer pada tanggal 30 Maret 1939. Beda dengan sebelumnya yang hanya memprioritaskan untuk keamanan dalam negeri, maka ML-KNIL ditujukan pula untuk menghadapi tantangan terhadap ancaman dari luar, apalagi ancaman perang dunia sudah dihadapan mata.

Lahirnya-ML-KNIL-3Curtiss P-36 Hawk (Hawk Model 75) buatan Amerika Serikat didatangkan ML-KNIL untuk menghadapi serbuan Jepang.

Lahirnya-ML-KNIL-4ML-KNIL juga mendatangkan pesawat angkut dari Amerika Serikat seperti Lockheed Lodestar ini.

Untuk menghadapi tantangan itu ML-KNIL harus dimodernisasi peralatan perangnya, maka berdatangan pesawat-pesawat buatan Amerika Serikat karena pabrik di Eropa apalagi di Belanda sudah disibukkan dengan kebutuhan perang di Eropa, sementara ancaman di Hindia Belanda adalah perang Pasifik melawan Jepang yang akhirnya pecah pada bulan Desember 1941.

Sayangnya peralatan perang yang baru ini tidak diikuti dengan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang memadai, ditambah lagi kalah kuantitas. Kekuatan ML-KNIL dengan mudah dihancurkan oleh pasukan udara Jepang baik dari angkatan laut maupun angkatan daratnya. Hindia Belanda jatuh, namun petinggi KNIL masih terus bertempur bersama-sama Australia untuk mengganggu dan memecah kekuatan Jepang di Hindia Belanda agar dapat memuluskan jalan pasukan Amerika Serikat untuk merebut Filipina dan pulau-pulau di Pasifik sebagai batu loncatan membombardir Jepang.

Lahirnya-ML-KNIL-5North American B-25 “Mitchell”, dibeli ML-KNIL sebagai regenerasi Glenn Martin B-10, namun baru diterima setelah kekalahan Hindia Belanda. Dipakai untuk mengempur Jepang di Hindia Belanda termasuk berikutnya melawan para “ektrimis-ekstrimis”.

Lahirnya-ML-KNIL-6Curtiss P-40 Kittyhawk yang dioperasikan ML-KNIL bertempur bersama dengan RAAF (Royal Australian Air Force) menghadapi Jepang di Papua, nantinya menjadi andalan dalam Agresi Militer Belanda I dan II.

Pasca dibom atomnya Hirosima dan Nagasaki, Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. ML-KNIL berkesempatan untuk kembali ke negera koloninya, Hindia Belanda pada bulan September 1945, namun situasi politik sudah berubah drastis. Rakyat Hindia Belanda memerdekakan diri secara sepihak menjadi Indonesia dan ML-KNIL ditugaskan oleh pemerintah sipil Hindia Belanda untuk memerangi para “ekstrimis” dan “pengacau keamanan” ini dengan puncaknya, dua kampanye militer besar-besaran, Agresi Militer Belanda I dan II (Baca : 70 Tahun Agresi Militer Belanda I – Operatie Pelikaan dan 70 Tahun Agresi Militer Belanda II – Operatie Kraai).

Ironisnya akibat dua kampanye militer itu membuat pemerintah Hindia Belanda tidak mendapat simpati dunia. Perdamaian serta pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan resmi dilakukan seiring dengan ditandatanganinya perjanjian KMB (Konferensi Meja Bundar) pada bulan Desember 1949. Ironisnya pula akibat KMB ini ML-KNIL resmi dibubarkan pada tahun 1950, seluruh aset dan fasilitasnya diberikan oleh AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)