Pada tanggal 18 Oktober 1977, Saab, pabrik pesawat asal Swedia melaksanakan demonstrasi MFI-15 Safari di Bandara Internasional/Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta demi mendapatkan proyek pengadaan pesawat latih mula untuk TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara).

KSAU (Kepala Staf Angkatan Udara) Marsekal Ashadi Tjahjadi menginginkan proyek pembelian ini dalam jumlah besar, setidaknya 40 unit, untuk menggantikan Cessna T-41 Mescalero (Cessna 172 versi militer) hibah dari Amerika Serikat, walaupun andal tapi tidak memiliki kemampuan aerobatik. Pesawat ini kelak diperuntukan tidak hanya untuk melatih para kadet/calon pilot namun juga mempertahankan kemampuan terbang pilot-pilot senior. Dengan angka kuantitas sebesar itu, tidak mengherankan Saab ikut berkompetisi.

Dengan mengirimkan satu unit yang beregistrasi sipil SE-FIR, pesawat ini melaksanakan demonstrasi yang mengesankan di langit Jakarta, dihadapan para pejabat-pejabat TNI-AU termasuk Ashadi sendiri, termasuk ikut mencoba terbang. Besoknya sebagai bentuk dukungan dari pemerintahnya, dilangsungkan acara resepsi malam hari di Kedutaan Besar Swedia. Sayangnya segala bentuk usaha ini tidak berhasil. TNI-AU akhirnya lebih memilih AS202 Bravo buatan FFA (Flug-und Fahrzeugwerke Altenrhein) asal Swiss dan mulai dikirim dan dioperasikan pada tahun 1980.

Demo-Saab-Safari-di-Jakarta-1
Saab Safari bersiap melaksanakan demo di langit Jakarta, di sampingnya tampak Lockheed Jetstar T-9446 yang membawa pejabat-pejabat TNI-AU untuk menyaksikan kemampuan terbangnya. 

Demo-Saab-Safari-di-Jakarta-2KSAU Marsekal Ashadi Tjahjadi berjabat tangan dengan salah satu perwakilan Saab saat pelaksanaan demo terbang ini.

Demo-Saab-Safari-di-Jakarta-3Saab Safir beregistrasi sipil SE-FIR, berkapasitas dua kru saling berdampingan (side by side). Bahkan si mungil bermesin Avco Lycoming IO-360-A1B6 berkekuatan 200 hp (horse power) ini masih bisa membawa satu penumpang di pangkal ekor !

Demo-Saab-Safari-di-Jakarta-5Sebelum demo terbang, perwakilan Saab menjelaskan serta mempromosikan Saab Safari  kepada para penonton dan mempersilahkan melihat dari dekat.

Demo-Saab-Safari-di-Jakarta-4Bersiap-siap lepas landas dari landasan pacu Halim Perdanakusuma, tampak petugas  darat juga telah bersiap dengan alat pemadam kebakaran untuk antisipasi kondisi darurat.

Demo-Saab-Safari-di-Jakarta-6
Wushhhhh nguenggg….si mungil nan lincah ini memamerkan kemampuannya, menyambar-nyambar di ketinggian rendah di atas bandara.

Saab Safari menggandeng PT. Chandra Dirgantara sebagai agen resmi penjualan di Indonesia. Hal yang ironis karena sebelumnya perusahaan yang sama bekerjasama dengan Lipnur (Lembaga Industri Nurtanio) telah berhasil membangun secara swadaya beberapa unit pesawat latih mula LT-200. Namun Menristek (Menteri Ristek dan Teknologi) B.J. Habibie memutuskan bahwa Lipnur yang telah berubah nama menjadi IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) pada tahun 1976 untuk membatalkan proyek itu dan fokus hanya untuk memproduksi CASA C-212 dan Bolkow BO-105 (Baca : Swadaya Pesawat Latih yang Gagal – LT-200 Skytrainer).

Saab Safari memang gagal di Indonesia, tapi justru sukses di tempat lain, salah satunya  di Pakistan, membeli pengembangannya yaitu MFI-17 Supporter sebanyak lebih 200 unit serta diberikan lisensi produksi dengan nama lokal Mushshak (Proficient). Pesawat ini sekaligus menjadi pondasi awal Pakistan agar mandiri di bidang dirgantara militer. Total lebih dari 400 unit Safari dan Supporter diproduksi dan digunakan di berbagai negara, namun uniknya Angkatan Udara Swedia sendiri tidak pernah mengoperasikannya dan lebih memilih Saab 91 Safir. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)