Pilot in the Far East (1953-1955) merupakan buku biografi, menceritakan pengalaman terbang seorang pilot KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij) asal Swedia yang berdinas di Jakarta pada awal tahun 1950-an.

Anders Rogberg mengisahkan pengalamannya terbang dengan Douglas C-47/DC-3 Dakota dan de Havilland DH 104 Heron di kota-kota seluruh Indonesia bahkan juga di sungai Kalimantan dengan pesawat amfibi Catalina. Walaupun statusnya sebagai pilot KLM, atau tepatnya sebagai kopilot, tapi pesawat yang diterbangkan adalah milik GIA (Garuda Indonesian Airways) karena pada awal 1950-an itu GIA masih tergantung sekali pada KLM khususnya untuk pengadaan pilot.

Keinginan untuk terbang di Indonesia hanya kebetulan semata, ingin berpetualang sekaligus tetap menjalankan profesinya sebagai pilot. Mantan pilot pembom Saab B 18B dengan pangkat terakhir sersan ini lulus sebagai pilot junior KLM dan sesuai tradisi KLM waktu itu, ditempatkan di Indonesia sambil membawa pula istrinya dengan masa kontrak enam tahun.

Anders tampaknya menyukai pekerjaannya ini, bahkan pilot/kopilot KLM yang ditempatkan di Indonesia, gajinya tergolong tertinggi di dunia waktu itu ! Tidak masalah pula beroperasi di bandara-bandara yang tergolong minim fasilitasnya. Tapi menghadapi iklim tropis ? Anders tidak terbiasa, bahkan beberapa kali istrinya masuk rumah sakit karena tidak tahan dengan hawa panas. Ditambah lagi adanya diskriminasi karena kebangsaannya yang tergolong minoritas, Anders malah cenderung lebih akrab dengan pilot indo-belanda daripada pilot asal Eropa.

Buku ini cukup tipis, hanya 66 halaman, bahkan juga tidak dilengkapi indeks seperti buku pada umumnya. Sepertinya buku ini murni ditulis dan diterbitkan sendiri. Sebagai fotografer amatir, buku yang diterbitkan hanya dalam bahasa Inggris ini dihiasi dokumentasi foto-foto selama Anders di Indonesia, selain itu juga beberapa ilustrasi karyanya juga menambah keunikan sendiri. Sebuah nilai plus.

Sedangkan nilai negatifnya adalah ada beberapa salah tata bahasa, bentuk past tense yang tercampur baur dengan present tense. Dengan tidak memisahkan kisah-kisah dalam bab tersendiri justru membuat tidak nyaman saat dibaca. Diakui sendiri oleh Anders bahwa dirinya memang bukan penulis. Di bagian akhir, dia menyisipkan sebuah tulisan dari salah satu penggemarnya asal Australia yang menambah nilai sejarah di buku ini. Kekurangan lainnya di buku ini ada salah ketik, beberapa memang tidak fatal. Namun untuk kasus “Sunda Line” yang seharusnya “Sumba Line” jelas sangat mengganggu. Padahal Anders menyebut secara jelas kota-kotanya di gugusan Kepulauan Sumbawa (Denpasar, Sumbawa, Waingapu, dan Kupang).

Anders tidak lama bertugas di Indonesia, rencana enam tahun hanya dua tahun saja karena adanya kebijakan penggajian ulang yang dilakukan KLM setelah berhasil mendidik pilot-pilot baru asal Indonesia. Pilihannya ada dua, tetap di Indonesia dengan gaji diturunkan atau kembali ke Eropa. Dia memilih yang terakhir. Pilot in the Far East (1953-1955) memang hanya sebuah cerita singkat, namun dengan sedikitnya dokumentasi dunia penerbangan di Indonesia pada era itu, buku ini menjadi referensi yang cukup berharga. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)