Salah satu karya milik Suharto, perancang pesawat yang berpulang pada tanggal 8 Agustus 2019 lalu adalah pesawat sangat ringan (ultralight) Rajawali pada tahun 1980-an lewat kerjasama dengan Universitas Pancasila.

Universitas merupakan instansi yang cocok untuk melakukan riset dan uji coba seperti ini, namun sayangnya permasalah klasik yaitu dana. Universitas tidak memiliki uang yang cukup untuk proyek seperti ini, mau tak mau harus menjalin kerjasama atau investasi dari pihak luar. Sebuah universitas harus berusaha sekuat tenaga melakukan hal ini kalau tidak ingin dicap sebagai lembaga pencetak ijazah semata. Meskipun proyek tersebut tidak sampai diproduksi massal, menghasilkan prototipe yang fungsional dapat mengangkat derajat universitas itu.

Berangkat dari kenyataan ini, Suharto yang saat itu menjadi staf dosen teknik mesin di Universitas Pancasila mendapat dukungan penuh dari Dekan Muso C. Soenhadji yang juga bekerja di Departemen Perhubungan dan mempunyai lisensi pilot. Dia juga mendapat bantuan dari dosen-dosen lainnya serta beberapa mahasiswa Pancasila.

Rajawali-Universitas-Pancasila-1
Direktur Utama GIA Wiweko Soepono (kiri) dan Mantan Ketua LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa) J. Salatun (kanan) berkunjung ke bengkel pesawat terbang milik Suharto (tengah) sekaligus menyerahkan bantuan mesin Cuyana untuk Rajawali.
Rajawali-Universitas-Pancasila-2
Setiap perkembangan pembangunan Rajawali selalu diikuti dengan antusias oleh kedua senior di bidang penerbangan Indonesia ini, apalagi keduanya sudah dikenal Suharto sejak menjadi pandu udara di Bandung pada tahun 1950-an.

Setelah mendapatkan investasi dari luar sekitar Rp 15 juta bahkan ditambah bantuan mesin Cuyana 430R berkekuatan 25 hp (horse power) dari Direktur Utama GIA (Garuda Indonesian Airways) Wiweko Soepono maka dimulailah proyek pesawat ini. Seperti biasanya filosofi dari alumni Universitas Teknik Braunschweig ini adalah desain tidak terlalu berlebihan, sederhana agar tidak terlalu memakan dana dan waktu. Walaupun demikian Suharto mengadopsi bahan-bahan lokal yang dapat dengan mudah dibeli di toko bahan bangunan pada karyanya ini.

Maka jadilah sang Rajawali RW-100 itu, diberi registrasi angka 1 untuk menandakan karya Suharto untuk seri ultralight. Tidak cantik memang tapi fungsional, lebih mirip kerangka alumunium diberi sayap, ekor, dan mesin, serta tidak memerlukan aksesoris lainnya yang beresiko menambah berat. Walaupun demikian setelah diuji coba terbang oleh sang dekan sebagai tes pilot di lapangan terbang Pondok Cabe, pesawat ini gagal mengudara, hanya bisa terbang meloncat-loncat dengan ketinggian pendek (short hops). Ternyata mesin bertenaga 25 hp itu tidak bisa mengimbangi bobotnya.

Mengganti mesin dengan yang lebih bertenaga jelas tidak mungkin karena akan  mengeluarkan biaya lagi. Merombak rangka, desain, dan terpenting melebarkan sayap agar mendapatkan daya angkat yang lebih baik adalah solusinya. Masalahnya upaya ke arah itu butuh waktu lagi apalagi di tengah kesibukan pekerjaan sehari-hari sebagai dosen.

Rajawali-Universitas-Pancasila-3Tidak cantik namun fungsional, Rajawali dengan desain awal di Pondok Cabe, mirip rangka dipasang sayap dan ekor serta mesin. Polesan warna kuning-merah-hitam di ekor vertikal (rudder) mengingatkan pada warna bendera Jerman.
Rajawali-Universitas-Pancasila-4

Sayang, Rajawali ini gagal lepas landas karena terlalu berat. Mesin bertenaga 25 hp tidak cukup kuat mengangkat bobotnya untuk terbang. Harus dilakukan modifikasi, diperingan kembali termasuk yang paling utama memperlebar sayap.

Tapi akhirnya Rajawali berdesain baru (RW-101) itu selesai pada tahun 1986. Lebih cantik dan aerodinamis dari versi pertama dan pastinya optimis akan terbang mulus. Namun ternyata mengalami hal yang sama…pesawat gagal lepas landas, hanya bisa bergerak saja di landasan pacu ! Suharto lantas ingat pelajaran dasar aerodinamika yang biasa diterapkan di pesawat aeromodeling, ternyata dengan menurunkan derajat sudut pemasangan (angle of incidence) ekor horisontal sedikit saja (kurang dari lima derajat).

Setelah modifikasi kecil itu, sang Rajawali dari Universitas Pancasila lantas terbang dengan mulusnya, menyambar-nyambar di atas lapangan udara Pondok Cabe. Hanya satu jam memang, tapi sangat berkesan karena ini adalah hasil kerja keras dari para dosen dan mahasiswa, teori di kelas telah berhasil dipraktekan dan diterapkan di lapangan.

Ambisi berikutnya adalah mengubah pesawat berkursi tunggal ini menjadi kursi ganda, apalagi dengan sayap yang telah diperlebar memungkinkan hal itu. Adapula terbesit rencana menjadikan Rajawali ini sebagai basis produksi untuk membangun massal pesawat ultralight buatan Indonesia, pastinya butuh investasi yang luar biasa. Namun rencana tinggal rencana, terlebih lagi Suharto sebagai pimpinan proyek ini pada akhir 1980-an mendapat tugas ke Amerika Serikat untuk belajar manufaktur bahan komposit.

Rajawali-Universitas-Pancasila-5
Akhirnya sesuai namanya, setelah didesain ulang, pesawat ini terbang seperti rajawali. Di tangan Muso C. Soenhadji sebagai tes pilot, Rajawali RW-101 menyambar-nyambar di atas lapangan terbang Pondok Cabe pada tahun 1986.
Rajawali-Universitas-Pancasila-6
Rajawali dengan desain baru ini tampak cantik dan aerodinamis dari versi sebelumnya, tampak pula sayap lebih lebar sebagai kunci utama untuk mengimbangi bobot dan tenaga mesinnya yang kecil.

Rajawali menjadi salah satu contoh era keemasan membangun pesawat swayasa di Indonesia periode 1980-an sampai awal 1990-an. Selain Universitas Pancasila, institusi perguruan tinggi lainnya seperti UI (Universitas Indonesia) dan ITB (Institut Teknologi Bandung) juga ikut dalam euforia ini, membangun pesawat swayasa, walaupun tetap Universitas Pancasila tergolong yang berhasil untuk pertama kali mewujudkan hal itu.

Sayang era keemasan ini telah lewat, meskipun berharap akan kembali lagi kelak. Karena suka tidak suka industri penerbangan di negeri ini dimulai dari teknologi swayasa lewat WEL-1 (WEL-1, Pesawat Bermesin Pertama Buatan Indonesia). Bahkan negara yang industri penerbangannya maju pesawat seperti Amerika Serikat sekalipun tetap menjaga dan mendukung kreativitas orang-orangnya lewat pembangunan pesawat swayasa. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)