Douglas DC-2 jelas kalah tenar dengan “sang adik”, DC-3 Dakota, namun sebenarnya DC-2 memiliki prestasi yang lumayan baik tak terkecuali saat dioperasikan di Hindia Belanda.

Punya sejarah yang unik, DC-2 merupakan pengembangan dari DC-1, yang tidak pernah diproduksi massal, hanya satu unit dibuat. Saat kemunculannya, DC-1 tampak sangat modern, serba logam, bermesin dua, berukuran besar sehingga dapat mengangkut sampai 12 penumpang, dan dengan badan serta sayap menyatu, sangat aerodinamis, ditambah lagi roda pendarat dapat dimasukkan sehingga pesawat ini dapat terbang lebih cepat.

Douglas-DC-2,-Kalah-Tenar-Namun-Tetap-Berprestasi-1DC-2 yang paling terkenal, PH-AJU bernama Uiver. Pesawat ini berhasil menjadi juara kedua dalam balap udara MacRobertson International Air Race pada tahun 1934.

Douglas-DC-2,-Kalah-Tenar-Namun-Tetap-Berprestasi-2Tampak detail bagian depan/hidung DC-2 dengan ciri khas dua lampu besarnya. Pesawat ini beregistrasi PH-AKP dan diberi nama Perkoetoet (perkutut), burung bersuara merdu yang biasa dipelihara oleh masyarakat pribumi Hindia Belanda khususnya di Pulau Jawa.

Douglas-DC-2,-Kalah-Tenar-Namun-Tetap-Berprestasi-3Seluruh DC-2 milik KLM diberi nama burung, seperti pesawat beregistrasi PH-AKO ini, diberi nama Oeverzwaluw, sejenis burung layang-layang.

Bila dibandingkan dua tipe pesawat komersial yang mendominasi waktu itu Fokker Trimotor (Baca : Fokker Trimotor, Pesawat Pionir Penerbangan Sipil di Hindia Belanda) dan Ford Trimotor, desainnya memang bagaikan bumi dengan langit. Dari DC-1 dikembangkan menjadi DC-2 berkapasitas 14 penumpang serta dilengkapi dapur dengan layanan pramugari. Ini artinya hanya dengan membawa penumpang saja dan tanpa kargo (yang disubsidi pemerintah), maskapai dapat mendapat untung, dengan kata lain, DC-2 adalah the first true airliner. Kenyamanan kabin dan kemampuan terbangnya yang bahkan lebih baik daripada pesaingnya Boeing 247, jelas memikat banyak maskapai penerbangan tak terkecuali dari KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij) khususnya untuk melayani rute Amsterdam-Batavia.

Pesanan pertama beregistrasi PH-AJU tiba lewat jalur laut di Pelabuhan Rotterdam. DC-2 ini diberi nama Uiver (Stork/bangau) bahkan langsung diterjunkan dalam balap udara MacRobertson International Air Race dari London menuju Melbourne pada bulan Oktober 1934. Dengan membawa tiga penumpang dan kargo, Uiver sempat mendarat di beberapa tempat di Hindia Belanda, di antaranya Lapangan Terbang Cililitan, Batavia, Darmo, Surabaya dan Lombok sebelum bertolak ke Australia. Dalam lomba ini, Uiver menjadi pemenang kedua tapi menjadi juara pertama dalam kelas handicap alias pesawat non-balap. Namun nahas terjadi saat perjalanan pulang, Uiver jatuh di Irak pada tanggal 20 Desember 1934, menewaskan seluruh kru dan penumpang.

Dua poster milik KLM yang mempromosikan DC-2 untuk melayani rute Amsterdam-Batavia dengan frekuensi dua kali seminggu.

Walaupun tragis, kecelakaan ini tidak serta merta menurunkan minat Direktur Utama KLM Albert Plesman terhadap DC-2. Lagipula dari balap udara ini terbukti kemampuannya untuk terbang jarak jauh. Oleh karena itu dia terus memesan dan mengoperasikan DC-2 untuk KLM sampai 17 unit. DC-2 rakitan Fokker ini diarahkan untuk melayani rute-rute koloni khususnya menuju Batavia. Rute Amsterdam-Batavia yang semula hanya sekali seminggu, dengan DC-2 dapat ditingkatkan menjadi dua kali seminggu dengan kapasitas tujuh penumpang, duduk nyaman di kursi khusus yang dapat dijadikan tempat tidur (bed sleeper seat). Bahkan dengan kehadiran DC-3 pada tahun 1936, tidak segera DC-2 dipensiunkan KLM, kedua tipe ini meningkatan frekuensi rute Amsterdam-Batavia mencapai tiga bahkan empat kali seminggu !

Dari sisi bentuk DC-2 dan DC-3 sangat mirip, tapi secara visual ada perbedaan di bagian depan, di DC-2 dilengkapi lampu pendaratan berukuran besar untuk membantu pendaratan dan terbang di cuaca buruk sedangkan DC-3 sangat polos. Lainnya kabin penumpang lebih lega sehingga bisa mengangkut sampai 21 penumpang, sayap lebih panjang, dan sirip tegak lebih luas. Singkat kata, DC-3 adalah versi lebih besar dari DC-2 dan tentunya semua ini diimbangi dengan memasang mesin Pratt & Whitney Twin Wasp yang lebih bertenaga dari sebelumnya, Wright Cyclone.

Debut DC-2 di KLM jelas menarik minat maskapai Hindia Belanda, KNILM (Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij), untuk menggantikan Fokker Trimotor dan lebih khusus lagi untuk merintis pembukaan jalur penerbangan internasional jarak jauh ke Asia Tenggara dan Australia. Tiga unit dipesan dan tiba lewat jalur laut di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada bulan Juli dan Agustus 1935. Karena terhubung dengan Lapangan Terbang Morokrembangan (Vliegkamp Morokrembangan – Pangkalan Udara MLD yang Tinggal Kenangan) dengan mudah ketiganya diturunkan dari kapal, dirakit kembali di hanggar, lalu diterbangkan menuju Batavia.

Douglas-DC-2,-Kalah-Tenar-Namun-Tetap-Berprestasi-6Dua unit DC-2 pesanan KLM, PK-AFK dan PK-AFJ tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada bulan Juli 1935. Pesawat ketiga PK-AFL tiba sebulan kemudian.

Douglas-DC-2,-Kalah-Tenar-Namun-Tetap-Berprestasi-8DC-2 milik KNILM hadir saat pembukaan Lapangan Terbang Oelin, Banjarmasin pada tahun 1936. Dari sinilah layanan udara rutin antara Pulau Jawa dan Kalimantan terhubung. 

Douglas-DC-2,-Kalah-Tenar-Namun-Tetap-Berprestasi-7DC-2 beregistrasi PK-AFL hadir saat pembukaan Lapangan Terbang Kallang, Singapura pada tahun 1937. Berikutnya dari Singapura, KNILM membuka rute ke Saigon.

Bersama-sama Lockheed Model 14 Super Electra yang tiba tiga tahun kemudian, DC-2 yang telah dilengkapi autopilot canggih buatan Sperry sehingga aman terbang di atas laut, menjadi andalan KNILM melayani rute ke Saigon via Singapura, kota-kota di Filipina : Zamboaga, Cebu, dan Manila via Tarakan, dan kota-kota di Australia : Darwin, Cloncurry, Charleville, dan Sydney via Kupang.

Perang Dunia II pecah, armada KLM yang didominasi DC-2, DC-3, dan DC-5 menjadi korban serangan udara Jerman, yang masih tersisa dilebur ke dalam KNILM. Berikutnya armada KNILM yang jadi korban serangan udara Jepang. Sisa-sisa armada KNILM yang berhasil dilarikan ke Australia hanya 11 unit, dua di antaranya adalah DC-2. Armada ini nantinya dimasukkan sebagai bagian dari armada angkut Sekutu di Australia pada akhir bulan Maret 1942. Kejadian ini menjadi anti klimaks DC-2 di Hindia Belanda yang tiga tahun kemudian memerdekakan diri menjadi Indonesia. DC-2 jarang beroperasi lagi pasca Perang Dunia II karena produksinya berakhir pada tahun 1939.

Sejak tahun 2018, Nederlands Transport Museum memamerkan koleksi DC-2 (eks Eastern Airlines dan RAAF/Royal Australian Air Force) yang dicat dengan logo KNILM dan registrasi PK-AFK.

Video kedatangan PH-AJU Uiver (replika) di Bandara Halim Perdanakusuma pada bulan Januari 1984.

Pada bulan Januari 1984, DC-2 muncul lagi di Halim Perdanakusuma (Cililitan) sebagai bagian dari acara 50th Uiver Memorial Flight, melaksanakan terbang nostalgia dari London menuju Melbourne. Secuil kisah DC-2 di Hindia Belanda ini menggambarkan walaupun prestasinya lumayan baik, namun sangat jauh dari “sang adik”, DC-3. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa “sang kakak” sangat berkontribusi membuka jalan bagi DC-3 untuk menjadi pesawat komersial legendaris. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)