Pabrik Westland asal Inggris lewat divisi produksi helikopternya, GKN Westland Helicopters, mempromosikan produk helikopter AKS (Anti Kapal Selam) terbaru miliknya, Super Lynx lewat iklan yang dimuat di Majalah Angkasa No.10 Juli 1996.

TNI-AL (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Laut) atau tepatnya Dispenerbal (Dinas Penerbangan Angkatan Laut) membutuhkan armada helikopter AKS yang baru dan modern saat pergantian milenium. Kesempatan yang tidak disia-siakan oleh Westland untuk ikut dalam proyek pengadaan ini, apalagi nama Westland sudah dikenal lewat produk sebelumnya, Westland Wasp (Baca: Westland Wasp, Tawon Penghancur Kapal Selam Andalan Dispenerbal) yang cukup andal namun akan dipensiunkan oleh TNI-AL/Dispenerbal pada pertengahan 1990-an karena sudah melebihi umur pakainya.

Lynx yang merupakan “kakak” dari Super Lynx, dioperasikan oleh Royal Navy telah menorehkan prestasi saat Perang Malvinas (Falkland) pada tahun 1982 dan Perang Teluk pada tahun 1991, disebutkan dalam iklan ini. Sama seperti Wasp, Lynx dan Super Lynx dapat dioperasikan dari kapal fregat/patroli pantai, sesuai dengan slogan utamanya (tagline), menjadi mata dan telinga armada (the eyes and ears of the fleet). Sebagai catatan, Lynx sempat mendemonstrasikan kemampuan akrobatiknya saat IAS (Indonesian Air Show) 1996.

Super-Lynx-Mata-dan-Telinga-Armada-1

Super Lynx dapat digambarkan sebagai regenerasi dari Wasp. Selain lebih canggih karena dapat menyerang kapal laut dan kapal selam baik dengan misil Sea Skua dan torpedo, Super Lynx yang berkemampuan terbang aerobatik penuh ini dapat dioptimalkan untuk tugas SAR (Search And Rescue). Ditambah lagi Super Lynx memiliki kemampuan angkut sampai delapan tentara, menjadi nilai tambah berikutnya. Kedua fungsi terakhir ini tidak dimiliki oleh Wasp.

Sayang keinginan TNI-AL/Dispenerbal ini kandas karena krisis ekonomi tahun 1997/1998, terpaksa memanfaatkan tipe helikopter yang ada yaitu Bolkow BO-105 yang terbatas kemampuannya walaupun dapat dioperasikan dari fregat. Akhirnya keinginan itu terwujud pada tahun 2017, walaupun TNI-AL/Dispenerbal tidak memilih Super Lynx melainkan Eurocopter AS565 Panther. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)