TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) dan RAAF (Royal Australian Air Force) menyelenggakan latihan taktik tempur udara untuk pertama kalinya pada tanggal 13-17 November 1993 dengan nama Elang Ausindo (Australia-Indonesia).

Diadakan di Pangkalan Angkatan Udara Polonia (Soewondo), Medan dan latihan bersama ini berat sebelah karena TNI-AU mengerahkan pesawat tempur generasi III, Northrop F-5E/F Tiger II dari Skadron 14, sedangkan RAAF menggunakan versi lebih mutakhir, pesawat tempur generasi IV, McDonnell Douglas F/A-18A/B Hornet dari No. 77 Squadron.

Di atas kertas jelas Tiger kalah dibandingkan Hornet. Hornet dengan radar canggih Hughes APG-65 dapat menembakan misil AIM-7 Sparrow atau AIM-120 AMRAMM (Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile) secara BVR (Beyond Visual Range) alias dari jarak jauh. Belum lagi daya dorong kedua mesinnya yang mengalahkan Tiger. Namun Tiger yang memiliki profil kecil sulit dilihat bila dogfight jarak dekat. Tiger-pun lebih mumpuni dalam pertarungan udara dibandingan Hornet yang didesain lebih menekankan pada sifat serang (attack) daripada tempur (fighter). Di Amerika Serikat, Tiger masih digunakan sebagai pesawat simulasi MiG, lawan tanding tangguh bagi pesawat generasi IV dan IV+, agar pilot tetap menajamkan kemampuan tempur di udara, tidak sekedar mengandalkan alat dan teknologi semata.

Dalam latihan ini, agar cukup imbang, dogfight dilakukan antara satu Hornet vs. satu Tiger dan satu Hornet vs. dua Tiger. Kolonel Udara Pnb. (Penerbang) Sumihar Sihotang yang menjadi Direktur Latihan Elang Ausindo I mengibaratkannya sebagai pertarungan David vs. Goliath. Hanya dengan teknik dan taktik yang tepat, maka David (Tiger) dapat mengalahkan Goliath (Hornet).

Elang-Ausindo-I-1993-Pertarungan-David-vs.-Goliath-1Dua generasi pesawat tempur berbeda, Hornet (kiri) dan Tiger (kanan), masing-masing dari generasi IV dan III, ditandingkan dalam Elang Ausindo I pada bulan November 1993.

Elang-Ausindo-I-1993-Pertarungan-David-vs.-Goliath-2Jabat tangan penuh persahabatan Letkol Pnb. Eris Haryanto (ketiga dari kiri) dengan pilot-pilot tempur Hornet dari No.77 Squadron RAAF.

Elang-Ausindo-I-1993-Pertarungan-David-vs.-Goliath-3Cockpit visit Hornet oleh Marsma (Marsekal Pertama) Richard Haryono (kiri) didampingi Komandan No.77 Squadron RAAF, Letkol Bill Johnson (kanan).

Elang-Ausindo-I-1993-Pertarungan-David-vs.-Goliath-4Meriam Browning M39A2 kaliber 20 mm yang terpasang di Tiger, ikut dipamerkan saat Elang Ausindo I.

Elang-Ausindo-I-1993-Pertarungan-David-vs.-Goliath-5Kru darat mempersiapkan F-5E Tiger II dari Skadron 14 saat Elang Ausindo I dari apron Pangkalan Udara Polonia, Medan.

Dikutip dari Majalah Angkasa No. 3 Desember 1993, bahkan beberapa belas sorti dari total 30 sorti, sang David berhasil melakukan manuver dan menembakan rudal jarak dekat AIM-9 Sidewinder ke Goliath. Tapi sayangnya evaluasi dan pengukuran perkenaannya hanya sebatas dengan “perasaan” karena alat yang harusnya dipakai yaitu ACMI (Air Combat Measurement Instrument) belum dimiliki oleh TNI-AU.

Walaupun sempat menghadapi hambatan hujan deras, Elang Ausindo I ini dinilai sukses. Latihan yang tergolong DACT (Dissimilar Air Combat Tactics) ini telah membuktikan kemampuan dan keterampilan kedua pihak sebagai pilot tempur yang profesional. “Indonesian fighters have a good capability,” begitu pujian dari Letkol (Letnan Kolonel) Bill Johnson, Komandan No. 77 Squadron RAAF. DACT memang menjadi menu sehari-hari pilot tempur karena dalam pertempuran sesungguhnya pasti akan bertemu lawan yang lebih kuat atau sebaliknya, lebih lemah. Jika lebih kuat maka jangan cepat menyerah, sedangkan lebih lemah jangan lengah dan anggap remeh.

Elang Ausindo sama seperti latihan antar negara lainnya yang pernah digelar oleh Indonesia seperti sesama negara ASEAN (Association South East Asian Nation) yang sudah lama berjalin baik, seperti Elang Malindo/Malaysia-Indonesia (Baca: Elang Malindo I – Awal Kerjasama Erat TUDM dan TNI-AU dan Elang Malindo II dan III – Pemantapan Kerjasama TUDM dan TNI-AU) merupakan perwujudan nyata kerjasama bilateral militer. Apalagi di tengah situasi politik memanas pasca Peristiwa Santa Cruz yang terjadi dua tahun yang lalu, Elang Ausindo menjadi contoh yang baik bahwa tidak ada masalah antar militer kedua negara. Kesuksesan yang pertama terus dikembangkan dan diadakan lagi secara dwi tahunan, baik di Indonesia maupun di Australia. Elang Ausindo terakhir (Elang Ausindo XVIII) digelar pada bulan September 2019 di Pangkalan Udara Sam Ratulangi, Menado setelah sebelumnya pada bulan Oktober 2017 di Pangkalan Udara RAAF, Darwin. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)