Tanggal 8 Juli 1940, atau tepat 80 tahun yang lalu, Bandara Kemayoran yang terletak di pusat ibukota Hindia Belanda, Batavia resmi dioperasikan.

Pemikiran untuk membangun bandara yang murni sipil sudah terpikirkan sejak lama, namun baru pada tahun 1930-an mulai teralisasi. Pemerintah Hindia Belanda dengan dorongan dari maskapai Belanda, KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij) dan maskapai Hindia Belanda, KNILM (Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij) memerintahkan Departemen Perhubungan, Pekerjaan Umum dan Pengairan (Department van Veerker en Waterstaat) untuk memulai pembangunannya pada tahun 1934 di wilayah Kemayoran yang relatif sepi dari pemukiman serta didominasi area persawahan dan rawa-rawa.

Sebelumnya baik KLM dan KNILM beroperasi di Batavia menggunakan lapangan terbang (vliegveld) Cililitan, tidak strategis karena berada di pinggiran kota dan harus berbagi kepemilikan dengan militer. Pemerintah Hindia Belanda bercita-cita bahwa bandara ini menjadi pintu gerbang utama Hindia Belanda, kebanggaan masyarakat Batavia dengan fasilitas yang tidak kalah dengan Bandara Schiphol, Amsterdam!

Selamat-Ulang-Tahun-Bandara-Kemayoran!-1
Sketsa desain terminal dan menara pengontrol lalu lintas udara yang menyatu. Dibuat oleh Departemen Perhubungan, Pekerjaan Umum dan Pengairan (Department van Veerker en Waterstaat).

Selamat-Ulang-Tahun-Bandara-Kemayoran!-2Sketsa desain bagian dalam terminal yang tingginya mencapai dua lantai. Dilengkapi fasilitas restoran/kafe, ruang tunggu, bilik telpon, kantor pos, dan loket pemesanan tiket pesawat.

Ambisi ini tercakup dalam desainnya, membangun dua landasan pacu bersilangan utara-selatan dan barat-timur, masing-masing dengan panjang 800 m, dibangun menara pengontrol lalu lintas udara, kantor urusan penerbangan, kantor meterologi, dan pusat komunikasi baik radio dan telegraf. Dari sisi kenyamanan penumpang, terminal berukuran besar dirancang bertingkat dua, dilengkapi kafe dan restoran, bilik telepon, kantor pos, dan sistem pengeras suara. Belum lagi hanggar yang tidak hanya untuk menyimpan pesawat namun juga sanggup melaksanakan perawatan pesawat dan mesin secara mandiri.

Pagi hari tanggal 8 Juli 1940 itu, masyarakat Batavia diundang dalam peresmiannya, menyaksikan sendiri fasilitas bandara yang berkelas dan modern, tidak kalah dengan bandara-bandara lainnya khususnya di Eropa. Bangga tapi tetap saja khawatir karena bulan sebelumnya Belanda dikuasai oleh Jerman. Pemerintahan Belanda tetap berlanjut di London, Inggris dan Hindia Belanda praktis menjadi koloni terpenting dalam menghadapi Negara Poros (Axis) saat Perang Dunia II ini. Praktis pula Bandara Kemayoran dioperasikan sebagai pengganti Schiphol, armada KLM diungsikan ke Batavia sekaligus melebur dengan KNILM.

Akhirnya Hindia Belanda jatuh, praktis Bandara Kemayoran dikuasai Jepang pada tanggal 8 Maret 1942. Setelah Perang Dunia II berakhir, Bandara Kemayoran ikut menjadi saksi bisu pergolakan revolusi Indonesia dan Belanda yang ingin berkuasa kembali. Setelah pengakuan kedaulatan, Bandara Kemayoran menjadi tanggungjawab pemerintah Republik Indonesia dan menjelang akhir 1950-an dimulailah pembangunan ulang agar bandara kebanggaan masyarakat Jakarta ini siap dengan pergerakan penumpang yang lebih banyak ke depannya dan kehadiran teknologi mesin jet. Terminal sebelumnya dipugar dan diperbesar, ditambah dengan terminal baru untuk kebutuhan penerbangan domestik, internasional, dan bahkan VIP (Very Important Person). Dibangun menara pengontrol lalu lintas udara yang lebih tinggi dari sebelumnya, demikian pula landasan pacunya diperpanjang dan dipertebal aspalnya. Hanggar-hanggar juga ditambah dan diperbesar.

Selamat-Ulang-Tahun-Bandara-Kemayoran!-3
Foto udara Bandara Kemayoran tahun 1940-an. Tampak dua landasan pacu saling bersilangan sementara sebelah utara (pojok kanan) adalah Laut Jawa.

Selamat-Ulang-Tahun-Bandara-Kemayoran!-4

Desain tata letak Bandara Kemayoran termasuk landasan pacu sepanjang 800 m, terminal, hanggar, menara pengontrol lalu lintas udara, menara komunikasi, dan bangunan lainnya.

Selamat-Ulang-Tahun-Bandara-Kemayoran!-5Dua Douglas DC-3 Dakota milik KLM dan KNILM di depan terminal dan menara pengontrol lalu lintas Bandara Kemayoran pada tahun 1941.

Periode 1960-an sampai 1970-an, dengan statusnya sebagai bandara internasional, Kemayoran mencapai era keemasannya, deru mesin piston bercampur dengan deru mesin turboprop dan turbojet. Penerbangan domestik, internasional, VIP, dan carter (tidak reguler) bercampur baur dan menjadi pemandangan biasa. Tidak hanya pesawat besar dari maskapai besar yang beroperasi di sini bahkan bandara ini masih memberikan tempat bagi pesawat kecil khususnya dari penerbangan umum (general aviation). Deru kehidupan dan mesin dari burung-burung besi di Bandara Kemayoran masih sama dirasakan oleh masyarakat sekelilingnya, bahkan sejak status internasional dicabut dan menjadi bandara domestik pada tahun 1974.

Tanggal 31 Maret 1985, Bandara Kemayoran resmi ditutup. Deru mesin jet yang menggetarkan itu sempat kembali setahun kemudian saat IAS (Indonesian Air Show) 1986, namun setelahnya menghilang lagi. Pada tahun 1990-an praktis Bandara Kemayoran tenggelam oleh deru lainnya, yaitu deru kendaraan di Jalanan Benyamin Sueb yang merupakan bekas landas pacu utamanya serta deru pembangunan apartemen dan pusat perbelanjaan. Saat ini kisah legendaris Bandara Kemayoran menyisakan bentuk fisik bekas terminal internasional dan menara pengontrol lalu lintas udara yang entah sampai kapan akan bertahan. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)