Industri penerbangan di Indonesia menyambut kehadiran teknologi turboprop/propjet, derivatif turbojet mulai tahun 1961 dengan dioperasikannya Lockheed L188 Electra oleh GIA (Garuda Indonesian Airways).

Tanggal 23 Januari 1961, atau 60 tahun yang lalu, Electra beregistrasi PK-GLA tiba di Bandara Internasional Kemayoran, Jakarta. Pesawat ini menjadi salah satu dari tiga unit pesanan GIA (PK-GLA, PK-GLB, dan PK-GLC), diterbangkan dari Los Angels via Wake Island dan Guam. Sebagai catatan setahun sebelumnya, AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) memesan satu skadron pesawat angkut C-130B Hercules dari pabrik yang sama (Baca: Kedatangan Hercules dan Lahirnya Kesatuan Pengangkut Jarak Jauh), sehingga dapat disebut pembelian Electra adalah satu paket dengan pembelian Hercules. Hercules untuk kebutuhan militer sedangkan Electra untuk sipil, keduanya buatan Lockheed, dan sama-sama bermesin empat turboprop.

Pembelian ini tergolong loncatan teknologi di industri penerbangan sipil Indonesia yang masih didominasi pesawat bermesin piston tipe Douglas C-47/DC-3 Dakota dan Convair 240/340/440 (Baca: Kedatangan Convair CV-240 di Kemayoran). Sebelum pesawat berkapasitas 98 penumpang ini tiba di Indonesia, GIA mengirim tim teknis dan tim pilot yang dipimpin oleh Captain Partono beberapa bulan sebelumnya ke Burbank, California, untuk mempelajari seluk beluk teknologi turboprop yang diakui lebih unggul dari mesin piston: lebih bertenaga, lebih cepat, lebih banyak mengangkut penumpang dan barang, serta lebih nyaman. Pembelian Electra juga merupakan bagian dari keinginan GIA mengejar teknologi penerbangan yang waktu itu di Kemayoran, maskapai-maskapai asing telah mengoperasikan pesawat penumpang turboprop, seperti tipe Vickers Viscount, Vickers Vanguard, dan Ilyushin Il-18. Selain itu Electra menjadi pesawat pertama GIA yang dilengkapi radar, untuk membantu navigasi dan mendeteksi cuaca.

PK-GLA menjadi Electra pertama yang tiba di Indonesia, diterbangkan langsung dari Pantai Barat, Amerika Serikat. Kelak pesawat ini mendapat nosename “Pulau Bali”.

Kru Electra GIA. Electra membutuhkan tiga kru untuk menerbangkannya: dua pilot (PIC/Pilot In Command), copilot, dan FE (Flight Engineer). Tampak tulisan radar equipped menandakan Electra ini dilengkapi radar untuk membantu navigasi dan memonitor kondisi cuaca.

Electra selain untuk mengangkut penumpang biasa, juga untuk penumpang khusus atau VIP (Very Important Person). Tampak Pangeran Akihito dan Putri Michiko turun dari Electra saat liburan ke Bali. Kunjungan keduanya untuk memperkuat kerjasama bilateral Indonesia-Jepang pada tahun 1960-an.

Electra digunakan GIA untuk melebarkan sayapnya dengan membuka rute ke Tokyo, Jepang via Hongkong dan Manila. Penerbangan internasional ini dilaksanakan dua kali seminggu. 

Electra PK-GLB dan PK-GLA di Kemayoran pada tahun 1960-an. Tampak di latar belakang Convair CV990A Coronado. Keduanya menjadi tipe pesawat komersial bermesin gas turbin yang dimiliki GIA.

Lebih jauh dari itu Electra dioperasikan GIA untuk membuka rute baru, Jakarta-Tokyo via Hongkong atau Manila, sebagai perwujudan asas timbal-balik (reciprocal) yang dilakukan JAL (Japan Airlines) sejak tahun 1950-an. Rute yang disebut Emerald Route ini mulai direalisasikan setahun kemudian. Peran Electra untuk melayani rute internasional menurun saat GIA menghadirkan pesawat bermesin turbojet Convair 990A Coronado dan DC-8 pada pertengahan 1960-an. Electra hanya ditugaskan untuk rute regional Asia Tenggara dan domestik. Sesuai tradisi pada waktu itu, pesawat milik GIA diberikan nosename, Electra mengambil nama-nama tempat wisata terkenal di Indonesia, “Pulau Bali” (PK-GLA), “Candi Borobudur” (GLB), “Danau Toba” (GLC).

Akhir 1960-an dan awal 1970-an, GIA membeli DC-9 dan Fokker F27 yang segera digantikan dengan Fokker F28. Praktis Electra dipensiunkan. Selama pengoperasiannya, GIA kehilangan satu unit Electra, PK-GLB pada tanggal 16 Februari 1967 yang mengalami crash landing dan hancur terbakar di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Walaupun dioperasikan sedikit dan hanya sekitar 10 tahun, tidak pelak Electra menjadi pesawat yang membuka teknologi turboprop di industri penerbangan sipil Indonesia. Setelah GIA, giliran selanjutnya Electra dioperasikan oleh maskapai swasta, Mandala Airlines (Baca: Lahir dari Yayasan TNI-AD), dioptimalkan penggunaannya sampai dipensiunkan tahun 1995. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)