Keinginan Presiden Soekarno agar Indonesia secepatnya dapat menguasai teknologi antariksa, dirintis lewat Proyek Soekarno atau Proyek S, dengan usaha awal meluncurkan roket ilmiah/roket sonda (sounding rocket) buatan dalam negeri, Kartika-1.

Proyek itu awalnya dikompori bahwa sumbangan data ilmiah Indonesia untuk IGY (International Geophysical Year) 1957-1958, program penelitian atmosfer dan luar angkasa demi tujuan damai masih nol besar, masyarakat ilmiah internasional bahkan menilai wilayah Indonesia tergolong daerah kosong (blank area). Berikutnya didorong lagi pertemuan Soekarno dengan kosmonot-kosmonot Uni Soviet (Baca: Soekarno dan Kosmonaut) dan kemajuan teknologi antariksa di negara-negara di Asia yang telah berhasil meluncurkan roket ilmiah.

Proyek S sangat ambisus padahal Indonesia masih minim pengalaman di bidang peroketan. Walaupun sebelumnya telah berhasil membangun dan meluncurkan roket (Baca: Membangun Roket dari Kampus), namun roket ilmiah yang membawa peralatan telemetri dan sanggup terbang tinggi sampai ionosfir, 50-400 km dari permukaan laut lalu jatuh kembali ke bumi dengan bantuan parasut, jelas membutuhkan teknologi yang lebih rumit.

Kartika-1 dalam posisi horisontal dan terpasang pada peluncur yang ditarik oleh trailer. Roket ini adalah roket ilmiah pertama buatan Indonesia dan berhasil diluncurkan dua hari sebelum Peringatan Kemerdekaan RI ke-19.

Pembangunan Kartika-1 sebagai bagian dari Proyek S, banyak melibatkan ahli-ahli dari AURI dalam pelaksanaannya selain dari ITB. Tampak Nurtano sebagai pimpinan LAPIP, yang kelak diangkat pula menjadi pimpinan pertama LAPAN  sedang mengabadikan kegiatan proyek lewat kameranya.

Cara paling cepat untuk mengejar program IQSY (International Quiet Sun Year) 1964-1965 sebagai pengembangan dari IGY adalah mengimpor roket dari negara lain, dibedah teknologinya untuk melaksanakan reverse engineering. Jepang yang telah berhasil membangun dan meluncurkan seri roket Kappa serta dinilai teknologinya cukup mumpuni di Asia menjadi incaran, namun dana hasil pampasan perang yang rencananya dipakai untuk pembelian roket Kappa masih belum cair. Mau tak mau Indonesia harus membangun roket ilmiahnya secara mandiri.

Bulan September 1963 AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) dan ITB (Institut Teknologi Bandung) membentuk tim bernama PRIMA (Pengembangan Roket Ilmiah dan Militer Awal) dengan pimpinan dari militer Komodor Muda Udara Budiardjo dan wakil Kolonel Udara Raden Jacob Salatun serta pimpinan dari sipil, Dr. Kusmanto Purbosiswoyo, astronom sekaligus direktur Observatorium Bosscha. Roket yang dibangun PRIMA sebenarnya merupakan modifikasi dari proyektil dan roket artileri milik militer dengan ukuran lebih besar. Untuk itu pula PRIMA bekerjasama dengan LAPIP (Lembaga Persiapan Industri Pesawat Terbang) dan PINDAD (Persiapan Industri Persenjataan Angkatan Darat) karena kedua lembaga tersebut memiliki mesin-mesin produksi yang dibutuhkan.

Lebih lanjut Soekarno memberikan tantangan kepada PRIMA, agar roket yang dinamakan Kartika-1 oleh Salatun, harus berhasil diluncurkan tiga hari sebelum perayaan HUT (Hari Ulang Tahun) Republik Indonesia ke-19. Pembuatannya serba tergesa-gesa namun roket satu tingkat berbahan bakar padat ini berhasil melaksanakan uji coba seminggu sebelum Hari-H dengan perakitan dan penyeimbangan (balancing) selesai dalam waktu 48 jam.

Akhirnya Kartika-1 dengan panjang 10,5 m dan bobot 220 kg berhasil meluncur pada siang hari tanggal 14 Agustus 1964 di Pantai Selatan Jawa Barat, Pamengpeuk. Kesuksesan ini membuat Indonesia menjadi negara kedua di Asia setelah Jepang yang berhasil meluncurkan roket ilmiah buatan sendiri dan negara ketiga di Asia yang meluncurkan roket ilmiah setelah Jepang dan Pakistan. Sebagai ucapan terimakasih, Soekarno mengundang tim PRIMA ke Istana Negara saat perayaan HUT Republik Indonesia, bahkan dalam kesempatan itu, Soekarno mengungkapkan keinginan ke depan agar Indonesia memiliki pusat peluncuran roket seperti layaknya Tanjung Canaveral (Tanjung Kennedy).

Kartika-1 memiliki tinggi 10,2 m dan membawa peralatan telemetri seberat lima kg di ketinggian 50-60 km. Serba terbatas tapi ini pembuktian pertama Indonesia di bidang teknologi antariksa.

Logo LAPAN mengadopsi Kartika-1 dan dimodifikasi lebih lanjut pada tahun 1974 dengan tetap menampilkan roket ilmiah tersebut. Namun sejak tahun 2015 sudah tidak ada lagi, digantikan dengan logo serba oval dan minimalis.

Kartika-1 sanggup meluncur sampai ketinggian 60 km (lapisan ionosfir bagian D/paling bawah), sedangkan telemetri buatan depot elektronika AURI seberat lima kg yang terpasang berhasil menangkap transmisi data dari satelit cuaca Tiros-1. Pencapaian yang luar biasa bagi Indonesia apalagi tergolong pemula dalam teknologi luar angkasa. Kekurangan Kartika-1 adalah hanya sanggup membawa peralatan dan ketinggian terbang terbatas serta masih tergolong eksperimental dengan tingkat kegagalan cukup tinggi. Terbukti saat peluncuran Kartika-1 kedua yang dilakukan sebulan kemudian gagal meluncur.

Demi mengejar target IQSY yang tinggal setahun, mau tak mau Proyek S melirik kembali Kappa yang lebih andal, dan untungnya dana sudah cair sehingga pembelian roket ilmiah buatan Jepang berikut fasilitas pendukungnya terealisasi. Kartika-1 terpaksa digeser, memberikan jalan kepada Kappa. Walaupun demikian peran dan prestasinya tetap dikenang. Saat LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) dibentuk pada tanggal 27 November 1963, logonya mengadopsi Kartika-1 sebagai bentuk penghargaan terhadap roket ilmiah pertama buatan Indonesia ini. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)