Melanjutkan artikel sebelumnya tentang Kartika-1, Proyek S dikembangkan menjadi Proyek S-1 segera setelah mendapatkan dana pampasan perang untuk pembelian roket Kappa-8 dari Jepang. Tiga peluncuran sukses menjadi hadiah istimewa bagi Republik Indonesia yang saat itu berumur 20 tahun.

LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang lahir pada tanggal 27 November 1963, sebagai pengembangan lebih lanjut dari proyek PRIMA (Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal), di mana lebih terorganisasi dan terkoordinasi dalam bentuk lembaga/institusi milik pemerintah, menjadi pihak yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan Proyek S-1. Lewat penandatanganan pembelian 10 unit roket Kappa-8 lengkap dengan perlengkapan pendukungnya sebesar USD 1,6 juta, oleh LAPAN dan C. Itoh & Co, perusahaan ekspor-impor yang ditunjuk oleh pemerintah Jepang pada tanggal 18 Maret 1964 maka dimulailah proyek ini.

Seperti yang diungkap pada artikel sebelumnya, pembelian roket ilmiah Kappa-8 demi mengejar target IQSY (International Quiet Sun Year) yang tinggal setahun, selain itu tentunya juga belajar dari negara yang sudah berpengalaman. Diakui Jepang menjadi negara maju pertama di Asia dalam teknologi ruang angkasa, tim dari PRIMA pada awal tahun 1965 dikirim ke Tokyo untuk melaksanakan pelatihan sesuai tugas dan keahlian masing-masing sekaligus menyaksikan sendiri dari dekat proses peluncuran roket di Kagoshima Space Center (sekarang bernama Uchinoura Space Center) di Pulau Kyushu. Dibandingkan Kartika-1, Kappa-8 jelas lebih unggul karena sudah mengadopsi roket dua tingkat (two stages) sehingga dapat meluncur lebih tinggi sampai 200 km lebih atau wilayah termosfer dan dapat mengangkut peralatan sampai 50 kg atau 10 kali lipat dari Kartika-1. Peralatan yang dibawa Kappa-8 lebih lengkap, meliputi telemetri pemantau suhu, kerapatan atmosfir, radiasi kosmis, dan kecepatan angin.

Profesor Hideo Itokawa yang sering dijuluki bapak dari roket ilmiah Jepang, memimpin konsultan-konsultan roket ilmiah ke Indonesia, sekaligus mengawasi peluncurannya. Pada foto berpose di samping “adik” dari Kappa-8, Kappa-9. Nama Kappa sendiri diambil dari abjad Yunani, roket pengembangan berikutnya diberi nama Lambda dan Mu.

Tanjung Kennedy-nya Indonesia, Pameungpeuk yang berada di wilayah Garut, Jawa Barat dengan landasan peluncuran roket mengarah ke Pantai Selatan. Hideo Itokawa ikut memberikan konsultasi dalam pembangunan fasilitasnya.

Kappa-8 dipesan 10 unit oleh LAPAN untuk mengejar target IQSY yang tinggal setahun. Sekilas Kartika-1 dan Kappa-8  bersosok hampir mirip, dengan panjang yang sama. Perbedaan secara fisik yang mudah dikenali ada di sirip ekor, Kartika-1 bersirip segilima sedangkan Kappa-8 cenderung persegi panjang melancip (tapered) di ujungnya.

Menpangau (Menteri Panglima Angkatan Udara) Marsekal Udara Omar Dhani (tengah) menginspeksi landasan peluncuran Pameungpeuk. Omar Dhani berperan penting sebagai ketua pelaksana Proyek S dan S-1 lewat pendirian PRIMA diikuti dengan LAPAN.

Hampir bersamaan konsultan-konsultan peroketan asal Jepang tiba di Indonesia, dipimpin langsung oleh Profesor Hideo Itokawa yang sering dijuluki bapak dari roket ilmiah Jepang. Dia dan rekan-rekannya berada di Indonesia untuk menyiapkan dan membangun pusat ruang angkasa. Pemilihan Pameungpeuk, Pantai Selatan Jawa Barat disetujui oleh Hideo Itokawa, sesuai dengan persyaratan bahwa tempat peluncuran roket harus jauh dari pemukiman dan jalur pelayaran kapal-kapal komersial namun dekat dan mudah diakses dari pusat logistiknya, dalam hal ini Bandung.

Maka dibangunlah jalan raya aspal Cilauteurem—sebelumnya hanya jalan tanah—yang mulus sepanjang Bandung-Pameungpeuk, sehingga roket dan peralatan pendukungnya dapat dibawa lewat jalur darat dengan truk. Ini masih ditambah pembangunan fasilitas lapangan terbang, walaupun landasannya sederhana, pendek, dan beralaskan rumput namun bisa didarati pesawat angkut sebesar Douglas C-47/DC-3 Dakota. Bolak balik Nurtanio sebagai pimpinan LAPAN terbang dari Bandung-Pameungpeuk pp. dengan pesawat bermesin tunggal Cessna 180 Skywagon. Setelah AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) mengoperasikan helikopter angkut raksasa Mil Mi-6 pada tahun 1965, didayagunakan pula untuk mengangkut roket dan peralatan pendukungnya lewat udara.

Di Pameungpeuk dipasang radar dan telemetri yang sanggup mengikuti peluncuran roket sampai 1.500 km di atas permukaan bumi. Selain itu dibangun pula pusat kendali (control center), landasan peluncuran (launching pad), hanggar perakitan (assembly hangar), pusat tenaga listrik, pusat penjernihan air, hanggar, gudang, dan infrastruktur penunjang lainnya. Masih ditambah bangunan asrama yang dapat menampung 40 orang untuk tempat tinggal teknisi dan ilmuwan. Singkat kata, inilah Space Center yang dicita-citakan Presiden Soekarno saat bertemu dengan tim PRIMA di Istana Negara setahun lalu, memang tidak sebesar dan secanggih Tanjung Canaveral/Tanjung Kennedy atau Baikonur Cosmodrome, tapi cukup membanggakan bagi Indonesia sebagai negara berkembang pemula yang ikut serta dalam perlombaan ruang angkasa.

Sekitar pertengahan tahun 1965, Kappa-8 atau sering disebut K-8(L)—L kependekan dari LAPAN—tiba di Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1965, roket yang diberi kode SK-8-1 meluncur. Sukses! Uji coba pertama lantas diikuti secara sporadis peluncuran berikutnya pada tanggal 11 (SK-8-4) dan 17 Agustus 1965 (SK-8-3) yang lagi-lagi sukses! Ketinggian maksimal yang dapat dicapai SK-8-1 adalah 334 km, SK-8-4 mencapai 250 km, sedangkan SK-8-3 “hanya” 70 km. Sebagai catatan perbedaan ketinggian ini disebabkan oleh muatan peralatan yang diangkut di roket. Semakin ringan maka akan semakin tinggi. Untuk uji coba pertama dengan muatan minimal dapat mencapai ketinggian yang tergolong memasuki ruang antariksa, terbantu pula dengan posisi Indonesia yang terletak dekat dengan garis khatulistiwa.

Lewat peluncuran roket Kartika-1 dan Kappa-8 nama Indonesia terangkat di bidang teknologi antariksa, bahkan juga militer karena isu-isu yang berkembang, dikompori pula pada saat itu sedang melancarkan Kampanye Dwikora atas Semenanjung Malaya yang merupakan koloni Inggris, bahwa Indonesia sedang mengembangkan rudal balistik! Agar kecurigaan tidak berkembang lebih jauh, Hideo Itokawa meminta pemerintah Indonesia yang diwakili oleh LAPAN, membentuk COSPARIN (Committee on Space Research in Indonesia) dan atas sponsor dia pula komite ini menjadi anggota COSPAR (Committee on Space Research) yang bernaung di bawah badan dunia PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa), sebagai bentuk kepastian kepada dunia bahwa peluncuran roket ini murni ilmiah dengan tujuan damai.

Tiga peluncuran roket ilmiah K-8(L) menjadi hadiah istimewa bagi Republik Indonesia pada hari jadinya ke-20, tapi sebulan kemudian menjadi anti klimaks saat terjadi G30S (Gerakan 30 September). Sudah jatuh tertimpa tangga, fasilitas dan radar di Pameungpeuk rusak diterjang angin puyuh pada tanggal 14 Februari 1966, diikuti gugurnya Nurtanio akibat kecelakaan terbang di Bandung pada tanggal 21 Maret 1966, dan terakhir jabatan Presiden Soekarno dilucuti pada bulan Juni 1967. Orde Lama runtuh digantikan oleh Orde Baru. Proyek S-1 seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

Helikopter angkut raksasa Mil Mi-6 berperan besar dalam urusan logistik, mengangkut roket dan peralatannya dari Bandung ke Pameungpeuk.

Kappa-8 sukses meluncur! Ketiganya diluncurkan pada bulan Agustus 1965 sebagai hadiah istimewa saat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-20.

“Dari Pameungpeuk Kita Tembus Angkasa Luar”, demikian judul berita Kompas setelah peluncuran Kappa-8 untuk pertama kalinya. Roket ini mencapai ketinggian 334 km yang sudah termasuk ruang angkasa.

Salah satu dari tujuh Kappa-8 yang tersisa diluncurkan lagi oleh LAPAN pada tahun 1977, lainnya dinilai sudah korosif dan dikubur. Akhir dari Kappa-8 justru menjadi kelahiran roket eksperimental buatan LAPAN.

Karena secara politis mengganggap Proyek S-1 adalah buatan Soekarno, pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto memutuskan proyek ini dihentikan, terlebih lagi Indonesia sedang dililit utang yang besar, tidak ada biaya untuk dialokasikan untuk proyek mercusuar seperti ini. Walaupun tidak mendapat dukungan dari pemerintahan yang baru, setidaknya hasil-hasil dari penelitian dan peluncuran Kartika-1 dan Kappa-8 dalam bentuk 10 tulisan ilmiah dipresentasikan LAPAN dalam konferensi tahunan IQSY-COSPAR di London pada bulan Juli 1967 dan bulan Mei setahun kemudian di Tokyo sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat ilmiah internasional. Kelak saat perekonomian Indonesia pulih pada pertengahan tahun 1970-an, Soeharto memilih untuk fokus ke bidang dirgantara lewat IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) dan meminggirkan teknologi dan riset antariksa milik LAPAN.

Setelah vakum peluncuran roket selama 13 tahun, LAPAN mencoba meluncurkan kembali Kappa-8 yang tersisa. Saat LAPAN dipimpin oleh RJ Salatun, satu unit K-8(L) berhasil diluncurkan pada tahun 1977 atau dua tahun setelah Pameungpeuk dibangun kembali. Sisanya terpaksa dikubur karena korosif dan tidak layak luncur. Walaupun kisah roket ilmiah buatan Jepang telah berakhir, namun dari sisi desain, riset, dan pengalaman berharga sebelumnya menjadi modal LAPAN untuk membangun roket ilmiah buatan sendiri dalam bentuk seri RX (Rocket Experimental) yang dimulai dirintis pengembangannya pada akhir tahun 1980-an. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)