Deraya Air Taxi pernah mengoperasikan dua unit PZL-104 “Gelatik”. Setelah tidak dioperasikan lagi, salah satunya dijual ke Australia dan dipajang sebagai tugu milik The Crooked Carrot Cafe, Myalub, Australia.

Pesawat yang dimaksud adalah PK-DGC, merupakan “Gelatik” kedua yang dimiliki Deraya Air Taxi yang dibeli dari Lipnur (Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio, sekarang menjadi PT. Dirgantara Indonesia) pada tahun 1972 (Baca: Gelatik, Tahap Awal Produksi Pesawat Terbang di Indonesia). Sudah tidak laik terbang sejak tahun 1998, pesawat ini akhirnya dijual pada tahun 2010 kepada Blair Howe, pemilik dan pendiri sekolah pilot Bunbury Flying School yang berkedudukan di Perth.

Blair Howe yang juga memiliki PZL-104 dari versi Wilga 35, berkeinginan merestorasi “Gelatik” agar dapat terbang lagi, ternyata menemui hambatan lalu mendonasikannya enam tahun kemudian kepada The Crooked Carrot Cafe yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumahnya. Namun baru pada bulan Agustus 2020, pesawat ini dipasang di atas tiang dan menjadi daya tarik kafe yang terletak sekitar 135 km dari Perth. 

 Pemasangan pesawat “Gelatik” eks Deraya Air Taxi di The Crooked Carrot Cafe pada bulan Agustus 2020, klik gambar untuk lebih detail

PZL-104 “Gelatik” PK-DGC, klik gambar untuk lebih detail

The Crooked Carrot Cafe (https://www.crookedcarrot.com.au/) merupakan kafe keluarga berkonsep menggunakan bahan-bahan segar yang berasal dari perkebunan lokal, berdiri sejak tahun 2015 oleh pasangan suami istri Joe-Sonia Castro. Tidak hanya sekedar kafe, namun juga sebagai taman bermain anak-anak. Maka dibuat arena permainan termasuk dihiasi berbagai macam truk dan mobil tua, traktor tua, trem, dan tentunya pesawat “Gelatik”.

Pesawat “Gelatik” sengaja dicat dengan warna kuning terang dan berhiaskan gigi hiu agar menarik perhatian pengunjung dewasa dan anak-anak. Walaupun jelas tidak mengadopsi warna asli saat operasional, setidaknya registrasi PK-DGC masih terpasang sebagai pengingat bahwa operator aslinya adalah Deraya Air Taxi yang berasal dari Indonesia. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)

NB: Penulis mengucapkan terimakasih kepada Allan Churn atas informasinya untuk artikel ini.