Patung Dirgantara atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Patung Pancoran karena terletak di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan menyimpan kisah luar biasa yang serba ironis antara seniman pematung yang membuatnya, Presiden Soekarno sebagai penggagasnya, dan termasuk patung itu sendiri.

Seniman yang membuatnya bernama Edhi Sunarso dan pertama kali bertemu dengan Soekarno pada tahun 1953 saat peresmian Tugu Muda, Semarang. Setelah menyelesaikan relief Museum Perjuangan, Bintaran Yogyakarta pada tahun 1959, Soekarno memanggil pria kelahiran Salatiga tanggal 2 Juli 1932 ini ke Jakarta. Bersama-sama seniman terkenal lainnya, Henk Ngantung dan Trubus, dia diminta Soekarno untuk membangun Patung Selamat Datang untuk Asian Games tahun 1962.

Yang membuat peraih juara dua lomba seni patung internasional “Unknown Political Prisioner” ini bimbang adalah permintaan Soekarno agar patung itu dibangun setinggi sembilan meter dan terbuat dari perunggu sekaligus memperagakan idenya dengan mengangkat tangan kanannya melebar ke atas. Sebagai seniman patung yang hanya berpengalaman di media batu, permintaan itu sangat berat dan penuh resiko.

Seniman pematung Edhi Suharso dipotret di samping versi skala kecil Patung Dirgantara (kiri), tampak terpasang pesawat supersonik yang justru mirip pesawat mainan. Akhirnya ide ini diubah, menjadi tanpa pesawat yang kita kenal (kanan).

Namun Soekarno terus mendorong mantan pejuang anggota Resimen V Siliwangi yang sempat dipenjara Belanda saat perjuangan fisik periode tahun 1945-1950 dan dosen ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia), Yogyakarta ini agar percaya diri dalam merealisasikannya, apalagi dibantu oleh Henk Ngantung dan Trubus maka jawaban dari Edhi Sunarso tidak bisa mengatakan tidak. Dari kesuksesan pembuatan Patung Selamat Datang dari perunggu itulah datang pesanan serupa, Patung Monumen Pembebasan Irian Barat dan ditambah diorama Monas (Monumen Nasional).

Pada tahun 1964, Soekarno memintanya untuk membangun Patung Dirgantara untuk menghormati pahlawan dirgantara AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) yang melaksanakan serangan terhadap Belanda pada tanggal 29 Juli 1947 (Baca: 70 Tahun Hari Bakti TNI-AU-Penyerangan di Tiga Kota). Terlebih lagi patung ini akan menjadi ciri khas kawasan Pancoran yang saat itu terdapat markas besar AURI sebagai pemimpin kemajuan dirgantara di Indonesia dan perwujudan visi masa depan bangsa Indonesia menjelajah angkasa. Ide patung itu menggambarkan sosok pewayangan Gatotkaca yang siap terbang, berancang-ancang dengan menjejakan kaki di atas bentala (bumi). Lagi-lagi Soekarno memperagakan dirinya sebagai model sosok Gatotkaca yang dimaksud, termasuk memegang model pesawat supersonik di tangan kanannya.

Edhi Sunarso yang sempat kuliah di Visva Bharanti Rabindranath Tagore University, India ini lantas mengusulkan agar ide model pesawat diubah karena tampak seperti memegang pesawat mainan,  sebagai gantinya dengan memasang selendang yang berkibar seolah-olah tertiup angin. Perubahan ide itu disetujui Soekarno. Tidak ada yang mengira proyek ini nantinya sempat mandek karena perubahan politik pasca G30S (Gerakan 30 September). Saat itu patung sudah dicor dan siap dirangkai, namun karena tidak ada biaya dari Soekarno, potongan-potongan itu terbengkalai begitu saja di Studio Arca Yogyakarta. Edhi Sunarso bahkan berutang kepada pemilik bahan perunggu dan bank.

Bulan Februari 1970 disela-sela pengerjaan diorama Museum Satria Mandala, Jakarta, Edhi Sunarso diminta menghadap Soekarno di Istana Bogor. Saat itu Soekarno sudah tidak jadi presiden lagi, dikenakan tahanan rumah oleh Pemerintahan Orde Baru, namun masih ingat terhadap Patung Dirgantara. Edhi Sunarso diminta meneruskan proyek dan memasang patung seberat 11 ton dengan tinggi 11 meter itu. Namun apa daya, tidak ada dana. Soekarno terenyuh dan segera menjual mobil Buick pribadi miliknya. Uang hasil penjualan itu dipakai Edhi Sunarso untuk mengangkut potongan patung ke Jakarta dan memasangnya di atas pondasi melengkung setinggi 27 meter.

Proses perakitan Patung Dirgantara dengan bantuan alat las. Setiap bagian-bagian patung yang terbuat dari perunggu memiliki berat 80-100 kg.Bagian kepala patung dan lengan kanan yang menjulur ke atas seolah-olah siap terbang. Edhi Sunarso mengakui model wajah Patung Dirgantara memakai wajahnya sendiri.

Satu minggu pengerjaan pemasangan rangkaian patung bagian kaki dan pinggang, Soekarno yang sudah tinggal di Wisma Yaso menyaksikan sendiri pekerjaan ini. Edhi Sunarso yang berada di atas bergegas turun namun dilarang oleh Soekarno. Minggu pertama bulan April 1970 sudah terpasang pundak dan tangan kanan dengan tangan kiri dalam proses, dan Soekarno yang dalam keadaan sakit itu ikut menyaksikan. Lagi-lagi Edhi Sunarso dilarang turun oleh Soekarno lewat pengeras suara.

Bulan Mei 1970, Edhi Sunarso mendengar kabar bahwa Soekarno akan datang ketiga kalinya untuk menginspeksi namun tidak terlaksana karena sakitnya sudah sangat serius. Pukul 10.00 pada tanggal 21 Juni 1970, Edhi Sunarso yang berada di puncak patung menyaksikan sendiri kendaraan iringan-iringan mobil yang membawa jenazah Soekarno melintas di bawahnya, berjalan dari Wisma Yaso menuju Bandara Halim Perdanakusuma untuk dibawa ke Blitar. Dia lantas segera turun dan mengikuti upacara pemakaman. Soekarno sebagai penggagasnya tidak pernah melihat Patung Dirgantara secara utuh dan selesai. Seminggu setelah pemakaman, pekerjaan dilanjutkan dan akhirnya monumen Patung Dirgantara rampung dipasang sebulan kemudian.

Patung Dirgantara memang menyimpan banyak ironi. Biaya pembuatannya yang sebesar Rp 12 juta, dengan Rp 5 juta sudah dibayarkan dari pemerintah dan Rp 1,75 juta dari Soekarno hasil pembelian mobil itu masih meninggalkan utang cukup besar kepada Edhi Sunarso, tapi dia ikhlas menanggungnya sebagai bukti kecintaannya terhadap bangsa dan negara serta Soekarno yang memberikan kepercayaan luar biasa terhadap karya-karyanya.

Ironi berikutnya adalah bahwa patung itu setelah selesai dipasang, tidak pernah diresmikan dan bahkan tidak ada nama resminya. Ini ada kaitan erat dengan Pemerintahan Orde Baru yang menganggap patung tersebut sebagai peninggalan Soekarno dan segala visinya merupakan musuh, tabu, bahkan dihindari. Tidak heran akhirnya masyarakat menamakan patung ini berbeda-beda, mulai dari Patung Dirgantara, Patung Pancoran, bahkan nama paling absurd…Patung 7Up! Yang terakhir ini terkait dengan pondasi menjulang yang mirip angka tujuh dan patung itu mengarah ke atas, lalu dihubungkan dengan merk minuman ringan terkenal di mana gudang distribusinya terletak di daerah Tebet, tidak jauh dari patung tersebut berada.

Setahun selesai dirakit, Patung Dirgantara menjadi landmark wilayah Pancoran dan tampak begitu menonjol (kiri). Enam tahun sebelum meninggal pada tanggal 4 Januari 2016 di Yogyakarta, Edhi Sunarso sempat meluncurkan buku otobiografi yang juga menceritakan seluruh karya-karyanya semasa hidup (kanan). 

Ironi lainnya adalah patung yang tinggi menjulang tersebut pada akhirnya kehilangan maknanya, tenggelam oleh keberadaan gedung bertingkat dan jalan layang yang semakin mengecilkan dirinya, selain itu markas besar AURI yang saat ini disebut TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) sudah lama pindah dari Pancoran ke Cilangkap, meninggalkan gedung yang bernama Wisma Aldrion Dirgantara untuk disewakan kepada umum. Patung ini juga menjadi simbol carut marut birokrasi, tidak ada pihak yang mau bertanggungjawab terhadap kepemilikan dan pemeliharaannya. Setelah terombang-ambing begitu lama, baru pada tahun 2014, UP (Unit Pengelola) Balai Konservasi DKI (Daerah Khusus Ibukota) Jakarta, di bawah Pemprov (Pemerintah Provinsi) DKI Jakarta mengambil alih dan membersihkan patung ini untuk pertama kalinya setelah 44 tahun!

Ironi terakhir adalah patung ini belum sepenuhnya selesai walaupun sudah dipasang dan dirakit seluruhnya. Dari jauh memang tidak kelihatan, namun kalau dilihat dari dekat, masih tampak proses pengerjaan akhir (finishing) tidak sepenuhnya selesai, belum rapi, dan masih terlihat sambungan las. Walaupun mengetahui kondisinya tidak sempurna, Patung Dirgantara kebanggaan Soekarno ini dibiarkan orisinal apa adanya oleh Pemprov DKI dan dinilai sebagai obyek/aset cagar budaya yang wajib dilestarikan dan dipelihara. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)