De Havilland Canada DHC-6 Twin Otter pantas disebut sang ratu penerbangan perintis di Indonesia, kokoh, tangguh, dan sudah malang-melintang sejak akhir tahun 1960-an, dan sepertinya akan terus menjadi andalan di masa depan.

Kecelakaan Twin Otter beregistrasi PK-OTW milik Rimbun Air yang lepas landas dari Bandara Nabire pada tanggal 18 September 2021 dengan tiga kru meninggal, kembali mengingatkan betapa penting pesawat komuter ini bagi pembangunan dan layanan penerbangan di pedalaman Indonesia khususnya di Papua. Kisah pengabdiannya dimulai saat MNA (Merpati Nusantara Airlines) menerima tiga unit Twin Otter pada tahun 1967. Pesawat itu merupakan bantuan PBB dan pemerintah Kanada untuk menunjang layanan penerbangan perintis sekaligus membantu tugas PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) di Papua.

Twin Otter Series -300 dengan livery MNA versi lama. MNA identik dengan pesawat ini, melayani rute perintis di Indonesia bagian timur dan barat.

PK-NUT dengan logo Merpati mengikuti GIA (Garuda Indonesian Airways) menjadi salah satu dari 20 Twin Otter milik MNA. Pesawat ini mengalami kecelakaan di Bintuni, Papua, satu dari 16 penumpang meninggal dunia.
Sang Jembatan Udara Nasional identik dengan Twin Otter, MNA masih memiliki lima unit sebelum berhenti operasional pada tahun 2014.

MNA yang usianya menginjak umur lima tahun operasional, memiliki armada eks de Kroonduif/Garuda Irian Barat (Baca: NNGLM De Kroonduif, Membuka Jalur Udara di Papua) ditambah tiga unit Dornier DO-28 dan enam unit PC-6 Pilatus Porter. Waktu itu Twin Otter tergolong pesawat baru, terbang perdana pada tahun 1965 dan seri awal DHC-600-100 dipasarkan setahun kemudian. Sumbangan tiga unit itu juga bagian dari uji coba ketangguhan Twin Otter di wilayah Papua yang dikenal sangat menantang, dan ternyata tidak mengecewakan.

Dengan mengandalkan sepasang mesin turboprop yang sama tangguhnya, Pratt & Whitney PT-6A-20/-27, Twin Otter sanggup membawa 20 penumpang atau satu setengah ton kargo. Pesawat ini juga berkemampuan STOL (Short Take Off & Landing), dapat lepas landas dan mendarat dari airstrip, landasan tanah sederhana dengan panjang kurang dari 600 meter yang berada di atas lereng gunung dengan ketinggian mencapai 4.000 kaki/1.200 m AGL (Above Ground Level).

Airfast Indonesia memiliki Twin Otter dari Series -300 yang dipasang pelampung (float), memungkinkan beroperasi dari perairan.

Selain mengoperasikan Series -300, Airfast Indonesia juga mengoperasikan Twin Otter buatan Viking Air atau Series -400.

GT Air (sekarang Asian One Air) mengoperasikan Twin Otter dari Series -100. Pesawat beregistrasi PK-LTZ ini jatuh pada bulan April 2005 setelah lepas landas dari Enarotali, Papua dengan korban jiwa 14 orang (termasuk tiga kru).

MNA menerima sumbangan dua unit lagi pada tahun 1972 dan puncaknya saat dipimpin oleh Kolonel Udara Santoso Suharto, mengoperasikan sampai 20 unit Twin Otter pada tahun 1977. Bagi masyarakat pedalaman di Papua, Kalimantan, serta Nusa Tenggara Timur dan Barat, MNA identik dengan Twin Otter dan juga sebaliknya. Twin Otter (Series -100 dan -300) bersama-sama NC-212 buatan IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara, sekarang PT. DI/Dirgantara Indonesia) terus menjadi andalan MNA dalam melayani penerbangan perintis sampai akhirnya MNA tutup operasi pada bulan Februari 2014.

Selain MNA, operator lainnya yang mengoperasikan Twin Otter dari Series -100 dan -300 di Indonesia di antaranya adalah Trigana Air Service, Air Regional, Transwisata, Pegasus Air Service, SMAC (Sabang Merauke Air Charter), GT (Germania Trisilia) Air, Mission Aviation Fellowship, Airfast Indonesia, Aviastar Mandiri, Carpediem Aviasi Mandiri, Rimbun Air, Air Born, SAS (Spirit Avia Sentosa), dan Dimonim Air. Seluruhnya maskapai swasta carter dengan jumlah pengoperasian Twin Otter dengan angka di bawah 10 unit.

De Havilland Canada menutup produksi Twin Otter pada tahun 1988 setelah menghasilkan lebih dari 800 pesawat. Padahal yang berminat masih tinggi karena tidak ada pesawat lain yang sanggup menggantikan performa dan kemampuannya. Produksinya lantas diambil alih oleh perusahaan Viking Air sejak tahun 2008, menghasilkan Twin Otter Series -400 (DHC-6-400) yang tergolong Next Generation dengan kokpit digital dan memasang seri mesin -34 yang lebih bertenaga. Tipe ini yang diadopsi oleh Airfast Indonesia (selain masih mengoperasikan Series -300) dan Rimbun Air.

Air Born yang berdiri tahun 2010, memiliki beberapa unit Twin Otter dari Series -300 selain helikopter untuk layanan carter di wilayah Kalimantan.

Aviastar Mandiri memiliki empat unit Twin Otter dari Series -300. Pesawat ini dipakai untuk melayani rute perintis di Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku.

Rimbun Air memiliki Twin Otter dari Series -400 selain Boeing 737 untuk layanan penerbangan kargo ke Indonesia bagian timur.

Walaupun jumlah Twin Otter yang beroperasi di Indonesia semakin lama semakin sedikit, namun tak dipungkiri, untuk layanan penerbangan perintis yang sangat ekstrim seperti di Papua, pesawat ini masih tidak ada duanya, terus dioperasikan dan menjadi andalan. Pesaing utamanya yang baru lahir seperti N219 buatan PT. DI dan Cessna SkyCourier sepertinya masih butuh waktu lama untuk menyingkirkan sang ratu Twin Otter dari tahtanya. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)